CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Rapuhnya Rean


__ADS_3

"Halo, selamat pagi, Rea's Coffe. Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?"


"Kak, bisa pesan delivery order gak Kak. Agak jauh soalnya dari tempat Kakak. Untuk SMU putra bangsa. kami ada acara pensi. Sekitar 50 cup kopi xx, dan wafle untuk jumlah yang sama juga."


"Ah, tentu saja, untuk jam berapa?"


" Sekitar pukul 10.00, bisa kan Kak."


"Ok, siap kami antarkan. Terima kasih."


Akira, mencari Dika, agar segera meracik kopi yang dipesan dan Niko untuk membuat Wafle.


"Aida, nanti kamu ikut mengantar pesanan kopi bareng sama Dika ya,"


"Ok, Mbak."


Pagi ini kedai tampak sibuk oleh pesanan kopi. Sedang karyawan lain, masih sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Setelah menyelesaikan pesanan, Dika dan Aida segera megantarkan pesanan mereka ke sekolah yang di maksud.

__ADS_1


Ternyata sekolah itu, adalah sekolah Aida. Kebetulan Aida gak masuk sekolah hari ini, karena cuman ada persiapan untuk pensi aja. Aida memang seharusnya hanya kerja untuk sip malam, setelah pulang sekolah, tapi, ternyata dia mengambil sip pagi, agar dapat uang tambahan.


"Assalamualaikum," Sapa seorang wanita yang suaranya nampak terdengar tak asing.


"Waalaikumsalam, Kakak cari siapa?" tanya Akira.


"Aku Khadijah Ra."


Akira nampak terkejut, wanita di hadapannya ini tidak seperti Khadijah yang datang tempo hari. Sudah tak ada bekas luka, dan wajahnyapun, sekarang jauh lebih cantik. Dia mengenakan gaun panjang berwarna Dusty pink, anggun sekali.


"Ah, iya, silahkan duduk Kak."


"Aku kesini, ingin minta bantuanmu, ini tentang Rean."


Khadijah menceritakan panjang lebar tantang kondisi Rean saat ini. Akira bingung, dia tak berani menemui Rean, karena sekarang dia telah menikah dengan Dika.


Akira sangat bingung, disisi lain dia ingin melihat Rean, tetapi, di sisi lainnya dia tak mau membuat Dika kecewa. Ditengah kebingungannya, Om Biyan datang ke kedai. Tanpa pikir panjang, Akira meminta bantuan pada Biyan, agar menemaninya menemui Rean.

__ADS_1


Dengan mengendarai motor besar milik Biyan, Akira menuju Rumah Rean. Sedang Khadijah mengendarai mobilnya sendiri.


Betapa terkejutnya Akira, melihat keadaan Rean saat ini. Ruang kamarnya penuh dengan aroma minuman keras. Dengan kaus putih dan celana jeans belel, dia tampak berantakan. Janggutnya ditumbuhi rambut halus yang tak terawat, dia tampak terlelap di sudut sofa hitam tanpa bantal dan selimut.


"Lihatlah, Ra, begitulah keadaan Rean sekarang. Kemarin-kemarin sebelum mendengar berita pernikahanmu, dia masih terlihat semangat mengurus pekerjaannya, kami masih bekerja sama, dia masih banyak berharap bahwa kamu akan kembali padanya, tapi, sekarang lihatlah, inilah keadaannya."


Perlahan, Akira mendekati sosok pria yang tengah tertidur di atas sofa.


"Re, ini aku, Akira."


Tampak pria itu mengerjapkan matanya, perlahan dia bangun, dan melihat Akira yang tengah membuka cadarnya. Tanpa aba-aba pria dihadapannya itu, langsung memeluk Akira. Entah bagaimana hukum agama memutuskan perkara seperti ini, tapi, saat itu, Akira benar-benar tak tega melihat keadaan Rean. Akira melepas pelukan Rean, kemudian duduk di sampingnya. Khadijah membereskan botol-botol kosong yang berserakan dan membuangnya di tempat sampah.


"Aku rindu kamu, Ra," ucap Rean Lirih.


"Kamu, tak boleh seperti ini, Re, kita harus menjalani hidup kita masing-masing. Aku punya Dika, yang harus aku jaga, dan kamu harus berjuang untuk hidupmu sendiri Re."


uhuk, tiba-tiba Rean memuntahkan darah dari mulutnya. Khadijah langsung menghubungi dokter agar segera datang.

__ADS_1


Sementara dokter memeriksa keadaan Rean, Om Biyan membawaku ke ruang tamu. Dia menenangkanku, aku bingung harus berbuat apa. Untung ada Om Biyan yang selalu memberiku kekuatan dan dukungan. Karena untuk kasus ini, aku tak ingin menceritakannya pada Dika. Aku takut, dia akan menyalahkan dirinya sendiri jika mengetahui keadaan ini.


__ADS_2