
Pada pertengahan semester, datang murid baru.
Anak pindahan itu bernama Rean. Wajahnnya tampan. Bahkan lebih dari Hiroaki.
"Anak-anak. Ini murid pindahan dari Semarang. Namanya Rean Darmawan. " ujar wali kelas yang juga merangkap menjadi guru bahasa inggris.
"Rean. Kamu duduk di bangku belakang Akira." tambah Ibu wali kelas.
Anak baru itu mengangguk, dan segera duduk di belakangku.
"Aku Hiroaki. Panggil saja Hiro dan dia Ra."
aku melambaikan tanganku sambil tersenyum padanya.
"Ya. Senang bertemu kalian."
Rean anak yang cerdas. Mahir memanah, dugaanku dia bukaamatiran sepertiku. Sasarannya tepat dan skornya selalu bagus.
Terdapat sepuluh lingkaran pada papan sasaran, terdiri dari lima warna. Kuning, merah, biru, hitam dan putih.
Rean selalu membidik papan sasaran dengan warna kuning bagian dalam. Yang berarti mendapatkan skor 10 atau sempurna.
Hari berganti. Aku, Hiroaki dan Rean semakin dekat. Rean sangat mudah akrab dengan kami, dan menjadikanku sebagai teman cerita.
__ADS_1
Sore itu, di aula, setelah berlatih Boxing,w Rean ingin berbicara empat mata denganku. Dia mengatakan, bahwa dia sedang mengalami masalah yang sangat berat.
Matahari sore menyusup melalui jendela aula yang dingin. Ruangan ini berubah menjadi sepi setelah satu-persatu anak-anak meninggalkannya. Hanya tinggal tersisa aku dan Rean.
Tiba-tiba dia memelukku. Sebenarnya aku ingin melepaskan pelukannya, tapi tak tega.
"Hanya sebentar Akira. Hanya sebentar saja. Biarkan aku seperti ini, " ucapnya memohon.
Akhirnya aku membiarkan Rean memelukku, menurunkan tanganku yang hendak melepaskan pelukkannya.
Sepuluh menit telah berlalu. Ya. Aku melihat waktunya dari jam dinding yang menempel di tembok yang berjarak sekitar 7 meter dari tempat kami berdiri.
Aku bahkan tak menyadari, ada sepasang mata yang sedang memperhatikan kami.
"Kamu sudah bisa cerita kan Rean? rasanya tak nyaman dipeluk seperti ini."
"Rean, kamu kenapa?"
"Ayahku. Dia pindah tugas ke tempat ini, karena ingin menikah lagi. Melupakan Bunda yang bahkan baru meninggal beberapa bulan yang lalu, bahkan, tanah pekuburannyapun masih merah."
Aku tak tahu bagaimana harus menghiburnya. Aku tak punya pengalaman untuk masalah seperti ini.
Aku hanya tinggal dengan Kakak-ku yang ditinggal oleh suaminya hampir lima tahun. Tanpa memiliki anak. Dia begitu kesepian. Aku malah akan sangat senang, jika sampai dia menikah kembali.
__ADS_1
"Mungkin, Ayahmu merasa kesepian Rean. Beliau membutuhkan teman untuk mengurusmu dan menemani beliau. "
Rean mengambil sesuatu dari ranselnya. Menyodorkan sebuah foto seorang wanita.
astaga, ini foto Kak Rea.
"Apakah, ini wanita yang akan dinikahi Ayahmu Re? "
Rean mengangguk.
"Ini adalah Kakak-ku. Dia adalah wanita yang baik Re, aku yakin, dia akan menjadi ibu yang baik untukmu."
Rean menatapku. Terlihat dari tatapannya, dia sangat terkejutr. Dia berdiri, kemudian lari meninggalkanku tanpa berkata apapun.
Aku melangkah keluar meninggalkan aula. Terdengar suara langkah kski mendekatiku.
Ah, ternyata Hiroaki.
"Apakah kamu melihat semuanya?" tanyaku.
Dia mengangguk, dan langsung memelukku.
"Jangan terlalu dekat dengan pria lain Akira. Aku tak suka dengan itu."
__ADS_1
"Kamu ini kenapa, Hiroaki?," aku hanya tersenyum melihat tinggah anehnya.
Dia menggenggam tanganku lalu menggandengku menuju motor besar berwarna hitam yang terparkir di tempatnya. Wajahnya menunjukkan sedikit rasa marah. Lisannya juga tak mengeluarkan sepatah katapun . Dia langsung melajukan motor nya dengan kencang. Setelah sampai rumah, dia langsung masuk dalam kamarnya dan tetap diam.