CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Pilihan yang Sulit


__ADS_3

Caty sekarang berubah, dia ingin tinggal bersama Leo. Dia juga sepertinya menjauhiku. Sore ini, dia membereskan barang-barangnya, menarik kopernya menuju taxi yang ternyata sudah dia pessn tadi.


"Ra, aku akan pindah ke apartemen Leo. Terima kasih buat tumpangannya selama ini.'


" Kamu yakin Cat? kamu ingin hidup bersama dia? kamu tahu, kan, bagaimana sifat dia? dia itu playboy Caty ....,"


"Sudahlah Ra, kamu gak usah cari-cari kesalahan orang! kamu suka kan sama Leo? Leo bilang, kamu selalu merayunya dan menelfonnya tiap malam."


"Caty! aku gak pernah melakukan itu, kamu sendiri tahu, sifatku seperti apa? terhadap Rean yang wajahnya sepuluh kali lipat darinya saja aku tidak tertarik, apalagi dengan Leo?"


"Sudahlah Ra, aku tak mau berdebat denganmu. Aku pergi."


Aku mencoba menahan Caty, aku tahu, Caty adalah gadis polos yang sedang dibutakan oleh cinta. Sampai dia memutuskan persahabatan kami hanya demi pria berengsek seperti Leo.


Aku hanya bisa menatap punggung Caty, yang meninggalkanku. Aku tak pernah menyangka, dia akan lebih mempercayai Leo.

__ADS_1


Ting tong.


Terdengar suara bel dibunyikan. Aku berlari dengan senang, berharap jika itu Caty yang kembali. Tapi, itu adalah Dika, beserta beberapa orang yang tidak aku kenal.


Aku mempersilahkan mereka masuk, membuatkan kopi sebagai suguhan.


Mereka ternyata adalah para tokoh agama di daerah ini, kepala desa, beberapa warga sipil dan Ustadzah Alika, yang beberapa bulan ini mengajari aku mengaji.


Aku menatap Dika dengan kebingungan. Mengapa tiba-tiba banyak tamu yang tidak aku kenal.


"Begini Mbak Akira, kedatangan kami kemari, adalah karena pengaduan warga, yang mengatakan bahwa ada perzinahan di kampung ini, menurut warga, Mbak Akira dan Mas Dika tidak berhubungan keluarga namun sudah tinggal bersama beberapa tahun ini, kami khawatir, akan terjadi sebuah dosa di keluarga ini. Sebab Mbak Akira ini seorang janda, dan Dika seorang lajang," ujar Ustadzah Alika menjelaskan.


Aku menatap Dika yang sedari tadi, hanya menunduk tanpa mau memberikan pembelaan untuk kami berdua. Dia tampak begitu pasrah dengan tuduhan yang dilontarkan oleh mereka.


"Astaghfirullah, fitnah macam apa ini, Pak? Bu? Dika itu adalah putra angkat saya, kami bahkan sudah memasukan namanya dalam daftar keluarga. Bapak dan Ibu bisa tanyakan langsung pada kepala desa. Sebentar, saya akan mengambil kartu keluarga."

__ADS_1


Aku melangkah menuju kamar, dan mengambilkan kartu yang aku maksud.


"Kami tahu Mbak, tetapi, menurut agama, kalian tidak memiliki hubungan darah. Mbak seorang wanita dewasa dan Mas Dika juga adalah seorang pria normal. Tidak tertutup kemungkinan untuk kalian berbuat hal yang tidak benar."


Kepalaku semakin pusing dengan tuduhan dan juga desakan mereka. Sesulit inikah menjadi muslim?


Setelah perdebatan yang tak menemukan titik terang, mereka akhirnya mohon diri, mereka memberikan kami waktu tigapuluh hari untuk memberikan keputusan, harus menikah, atau kami harus tinggal terpisah.


Aku duduk di kursiku dengan perasaan yang tidak karuan. Kepalaku hampir pecah menghadapi masalah yang datang terus menerus. Dika memberikanku segelas air, aku menoleh ke arahnya, dan mengharapkan dia memberikan pendapatnya.


"Ra, aku bersedia menikah denganmu. Bahkan, mungkin itu adalah harapanku. Namun, jika kamu tak bersedia, aku akan tinggal di kedai dan kamu bisa tinggal bersama Kak Caty."


"Caty pergi, Ka, dia ingin tinggal bersama Leo."


" Lalu, itu berarti, kamu akan tinggal sendiri Ra? aku gak mau kamu tinggal sendirian Ra, jika terjadi sesuatu denganmu bagaimana? jika kamu sakit bagaimana?"

__ADS_1


Dika tampak sangat khawatir untuk meninggalkanku sendirian. Menurutnya, jarak antara kedai dan rumah cukup jauh. Dan itu akan membuat pikirannya takan tenang. Aku sendiripun bingung dan tidak tahu harus mengambil keputusan yang bagaimana.


__ADS_2