
Setelah Akira dan Dika kembali ke kota, mereka langsung memeriksakan kandungan Akira. Dia sangat berharap bahwa dia benar-benar mengandung seorang bayi. Dia tidak berharap terlalu banyak, karena dia tak mau kecewa.
Akira pergi menemui dokter Boby, dokter keluarga Rean. Yang dulu pernah memeriksa Rean dan Akira. Tanpa diduga, Rean juga di sana bersama Khadijah. Khadijah memang melakukan cekup rutin untuk memeriksakan kesehatannya. Sebab, sejak kejadian kecelakaan yang membuat rahimnya diangkat itu, dia tidak mau kesehatannya pun ikut terganggu.
"Ra, kamu di sini? apa kamu sakit?" tanya Rean tampak sangat khawatir.
"Enggak kok Kak. Akira hanya ingin memeriksa kandungannya," jawab Dika.
"Kandungan? ada apa dengan kandungan Akira, Ka?"
"Kakak jangan khawatir, Akira hamil," ucap Dika menambahkan.
Berita itu seperti sambaran petir yang bertubi-tubi untuk Rean. Dia ingat, atas kata-kata dokter Boby yang mengatakan dirinya dan Akira tidak bisa memiliki anak. Lalu bagaimana bisa Akira hamil?
Mereka semua menanti penjelasan dari dokter Boby, tentang kepastian itu. Dan sebuah keajaiban memang sedang terjadi " kun fayakun". Akira benar-benar hamil.
__ADS_1
Rean sangat menyesal karena dulu membiarkan Akira melepaskan diri darinya. Panas di dadanya benar-benar membara. Tad,ekdir begitu tidak adil terhadapnya. Tuhan tak pernah berada dipihaknya. Dika menjatuhkan bokongnya dengan kasar di atas kursi besi. Sungguh jantungnya seperti di remuk dan di hancurkan.
Sakit, kecewa, menyesal, dan bahkan hampir membuat dirinya gila.
Akira mereremas kedua tangannya, dia tidak tahu, apa yang harus dia katakan untuk menenangkan Rean. Hatinyapun sangat sakit dan kecewa mengetahui hal ini. Tapi, di sisi lain, dia sangat bahagia, karena diberikan kepercayaan untuk memiliki anak.
...----------------...
Rean sangat terpukul dengan berita kehamilan Akira. Dia menghabiskan malam di kelab. Minum-minum sampai benar-benar mabuk. Dia menangis sendirian meratapi nasibnya yang benar-benar sangat menyedihkan.
Sudah hampir tiga hari, Rean menghabiskan malamnya di kelab malam. Entah sudah berapa banyak minuman yang dia habiskan. Dia bahkan sudah lupa, bahwa lambungnya rusak akibat minuman keras, tetapi dia tak lagi mau peduli. Menurutnya, entah hidup atau mati, tak akan ada yang peduli padanya.
Drrt drrrt drrrrt
"Hallo, Re, "
__ADS_1
"Akira, huk(bunyi cegukan khas orang mabuk) Aku rindu kamu. Kenapa kamu ninggalin aku!, terdengar suara gebrakan meja dari sana. Huk," suaranya terdengar parau dan bahkan terdengar suara isakan tangis.
"Kamu di mana Re? Aku aka jemput kamu? kebetulan mulai hari ini, aku sudah tidak mengurus kedai. Kamu baik-baik saja, Kan?"
Rean memberi tahu alamat dimana sia sedang minum-minum.
Tanpa pikir panjang, Akira menemui Rean. Dia bahkan lupa memberitahu Dika. Akira memesan Taksi online agar cepat sampai ke tujuan. Akira meminta sang supir untuk melajukan taksinya dengan cepat. Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih, Akira langsung menutup pintu mobil dan segera masuk dalam kelab. Didapatinya Rean dalam keadaan sangat berantakan, dan mabuk berat.
Akira memapahnya menuju mobil, dia masih cukup ingat, mobil yang dulu selalu mengantarkannya kemanapun itu. Mobil mungil berwarna merah cabai peninggalan Kak Darmawan.
Setelah meletakan Rean di kursi depan, Akira segera mengambil alih kemudi. Rean terus saja merancu tidak karuan. Akira memasangkan sabuk pengaman pada Rean dan mulai melajukan mobil itu ke tempat tinggal Rean.
"Re, kunci rumahmu kamu letakkan di mana?"
Rean yang memang sangat mabuk itu tak menjawab pertanyaan Akira. Akira ingat, dulu selalu menyimpan kunci cadangan di kotak kecil untuk meletakkan pot kaktus kecil, dan ternyata memang masih ada di sana.
__ADS_1
Setelah membuka pintu, dia dikejutkan dengan foto-fotonya yang dulu dia kirimkan kembali pada Rean. Akira menutup mulutnya hampir tak percaya. Rean di letakkan di atas kasurnya. Pemandangan di kamar ini, jauh lebih mencengangkan, foto pernikahannya bahkan masih terbingkai indah di sana. Foto-fotonya yang bahkan masih belum mengenakan jilbab, bahkan masih tergantung memenuhi dinding.
"Tuhan, apakah Rean benar-benar belum melupakan Aku?"