CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Terima Kasih, Tuhan.


__ADS_3

Hari ini, Rean harus pergi ke luar kota. Rumah jadi terasa sepi. Hanya terdengar rintik gerimis di atap rumah, disertai desau angin segar yang meniup dedaunan. Suasana sore yang dingin, berteman secangkir teh hangat, menjadi kebiasaanku selama dua hari ini.


drttt, drttt,


Bulan sabit melengkung di bibirku setelah mengetahui pemilik nomor di ponsel ku.


"Hem,"


"Kamu sudah rindu aku, Ra?" ucap pria di seberang sana, disertai tawa renyah yang sangat aku kenal.


"Em,"


"Dika belum pulang?"


"Belum. Mungkin sebentar lagi," ucapku masih dengan menyeruput teh hangat di tanganku.


Hampir tiga puluh menit, Rean mengobrol menemani soreku. Nyaman rasanya, berbicara dengan pria ini, entah di ponsel, ataupun di dunia nyata. Suaranya tetap hangat dan menenangkan.

__ADS_1


Terdengar suara deru motor di halaman. Aku bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu masuk.


"Sepertinya Dika sudah pulang, Re"


"Baiklah, besok kita sambung lagi. Istriku tercinta ... Bye."


"Bye."


***


"Kapan Kak Rean pulang Ra?" tanya Dika.


Dika, kenapa kamu tidak pernah mau memanggilku dengan sebutan Kakak? "


"Kamu tahu alasannya kan Ra. Jadi jangan pernah tanyakan itu lagi padaku." ucap Dika sambil berjalan menuju dapur dan menuangkan air ke dalam gelas, kemudian meneguknya hingga tandas.


"Aku sudah memasakkan makanan kesukaanmu Ka, makanlah."

__ADS_1


Dika menuju meja makan, menggesernya, kemudian duduk di hadapanku.


Sejak satu tahun lalu, saat Dika kelas satu SMU, dia mulai bersikap aneh padaku. Aku memakluminya, karena dia memang telah beranjak dewasa. Di masa pubernya, pasti dia memiliki banyak rasa dalam hatinya yang mulai beranjak remaja. Namun, sayangnya, ada sebuah rasa yang salah yang tumbuh begitu saja, dia meletakan rasa itu di tempat yang salah.


Rean tak pernah mengkhawatirkan perasaan bocah itu, karena Rean pikir, bahwa perasaan itu, pasti akan segera menghilang seiring berjalannya waktu.


Dika terlihat sangat lahap menikmati makanannya. Gudeg yang aku sajikan, memang selalu menarik perhatiannya.


Sejak aku tahu anak itu menyukai gudeg, aku berjuang keras untuk selalu menyajikannya di atas meja makan. Agar anak itu bisa kerasan tinggal bersama kami, dan tak pernah merasa kehilangan sosok Kakaknya.


"Bagai mana keadaan kedai? apa hari ini banyak pelanggan?"


Dika hanya menganggukkan kepalanya sambil terus mengunyah makanannya.


"Ini gajimu bulan ini, beserta bonus, karena kamu sudah meningkatkan penjualan. Sepertinya kehadiranmu di sana menarik para gadis untuk datang ke kedai kita."


Dia hanya melirik beberapa detik, dan tersenyum singkat kearahku, kemudian menyelesaikan makan malamnya dengan cepat.

__ADS_1


Dia membawa piringnya, dan mencucinya, kemudian melangkah meninggalkanku menuju kamamenunjukkanMeskipun Dika cukup menyebalkan, tetapi aku tak pernah bisa membencinya sedikitpun. Aku telah menganggapnya sebagai putraku. Sebuah harapan yang tak akan pernah bisa aku wujudkan sampai kapanpun.


Aku bersyukur karena Tuhan telah mengirimkan Dika untuk kami. Sehingga kami bisa merasakan rasanya mengurus seorang putra. Meski dia tak dilahirkan dari rahimku. Namun, bagiku sudah lebih dari cukup, bisa diberi kesempatan memiliki Dika. Aku bisa menikmati bagaimana rasanya memiliki anak yang tumbuh dewasa dalam pengasuhanku. Pernah begitu kerepotan saat dia sakit, pernah begitu takut kehilangan saat melihatnya di ambang kematian. Pernah merasa begitu bahagia, saat melihatnya menunjukkan nilai raportnya yang bagus. Dipanggil ke sekolah oleh guru BP, karena memiliki anak yang berkelahi. Ah, rasanya, sungguh sangat menyenangkan.


__ADS_2