
Matahari telah bersembunyi, berganti dengan rembulan yang mulai malu-malu menampakkan diri.
Biyan mengimami salat maghrib. Kemudian di susul dengan membaca q.s Al waqiah bersama.
Setelah selesai mengerjakan kewajiban, mereka memulai untuk santap malam. Akira sedang tak ***** makan. Dari tadi, dia hanya tampak sibuk bermain dengan Humaira.
Biyan dan lainnya sangat bersyukur, karena Akira teralihkan pikirannya karena Humaira. Senyumnya tampak begitu indah. Tawanya sangat menggembirakan. Melihat Akira yang sangat bahagia bersama bayi kecil itu, Dika merasa sedikit tenang.
Namun, setelah Humaira tertidur, Akira kembali murung.
Akira berjalan menuju halaman, menyilangkan kedua tangannya di dada. Dika menyusulnya dan berusaha mengajaknya bicara.
"Ra, mau gak, aku ajak balik ke laut? kita sewa motor. kita berkeliling. Kita jarang kan, jalan-jalan di Anyer."
Tak disangka Akira mengangguk dan menyetujui saran Dika. Dika benar-benar tak menyangka, untuk pertama kalinya dia bisa membujuk istrinya yang sedingin es saat dia marah.
Akira menyetujui saran Dika, karena dia sudah sangat tidak nyaman berada satu tempat dengan Aida.
__ADS_1
"Ka, kita sewa tempat lain, kamu mau?" ucap Akira tiba-tiba. Tentu Dika sangat senang karena bisa berduaan dengan istrinya ini.
Setelah berpamitan dengan Binda dan Om Biyan, mereka berdua langsung pergi meyewa motor dan penginapan. Mereka tak mau lagi diganggu dengan insiden-insiden kecil lagi. Mereka ke Anyer bukan untuk bertengkar tapi untuk berlibur. Mereka memilih penginapan yang langsung dekat dengan pantai.
Akira merendam kakinya di air. berjalan menyusuri pinggiran pantai. Anginnya dingin, sedingin hati Akira yang membeku sejak tadi sore. Dika terus memperhatikan wanitanya ini. Menggenggam tangannya lebih erat. Lalu kembali ke penginapan. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan Rean. Rean mengajak keduanya untuk makan malam.
"Apa kabar Dika," sapa Rean.
"Baik, Kak."
"Aku ini, masih Kakakmu Ka. Aku pernah memintamu untuk ikut denganku, tapi kamu malah lebih memilih Akira. Sekarang, Akira dipaksa meniksh denganmu dan dia harus menyetujuinya. Apa kamu tidak kasihan dengan penderitaan Akira, Ka?"
Dika menunduk, apa yang dikatakan Kak Rean adalah benar.
"Aku mohon, Ka, tinggalkan Akira, aku aksn membahagiakannya seperti dulu."
"Tapi, Kak, pernikahan kami bukan main -main. Kami sah di mata hukum. Aku tak bisa meninggalkan istriku begitu saja Kak."
__ADS_1
"Istri? Istri macam apa yang menikah karena sebuah paksaan? dia menderita, Dika."
Tiba-tiba anak buah Rean membawa Dika pergi entah kemana secara paksa.
Kemudian, Rean menemui Akira dengan mengatakan Dika pergi karena ada keperluan, dan memintanya untuk menemaninya.
Saat makan malam di sebuah restauran, Rean meminta seseorang untuk menaruh obat tidur pada minuman Akira. Kemudian membawa Akira ke ruangan hotel.
Sepertinya Rean sudah kehilangan akal sehat. Kewarasannya telah dibutakan oleh cintanya. Cinta yang sebenarnya tidak pernah pudar sama sekali. Rean tak melakukan apapun pada Akira, meskipun dia ingin. Sebab, dia tak pernah menginginkan orang yang dia cintai ini terluka lagi oleh ulahnya. Rean hanya mengabadikan foto untuk dia simpan. Agar saat rindu, dia bisa memandanginya.
Akira akhirnya telah sadar dari efek obat tidur dalam minumannya. Dia mendapati dirinya tidur di ranjang tapi bukan di kamar yang dia pesan. Dan di sofa Rean tertidur dengan mata yang basah oleh airmata.
Akira ingin segera kabur, namun sayang, pintu kamar ini terkunci. Saat Akira berbalik untuk mencari kunci, di dapatinya Rean telah berdiri di belakangnya.
Akira ingin berteriak, tapi tangan Rean langsung membekapnya.
"Tenang, Akira, aku takan melakukan apapun padamu. Kamu tak perlu takut. Aku hanya ingin bersamamu."
__ADS_1