
Rean, Dika dan Akira berjalan beriringan. Sesekali Rean meledek Dika dengan menggenggam tangan Akira, tetapi langsung dilepaskan oleh Akira, sedang yang lainnya berjalan lebih dulu di depan.
"Dika, aku akan merebut Akira darimu, " ucap Rean dengan nada bercanda.
"Gak akan aku biarkan. Kak Rean merebutnya dariku. Karena kami terikat dengan kuat," ucap Dika sambil menggenggam erat tangan Akira.
"Bercandaan kalian gak lucu, aku bosen!" Akira berjalan lebih cepat mendahului Rean dan Dika.
Rean meletakkan tangannya di bahu Dika, lalu berbisik.
__ADS_1
"Jaga Akira untukku. Jika kamu menyakitinya, aku akan merebutnya dengan paksa."
Mereka berdua sama-sama tertawa terbahak. Kini semanya tampak bahagia dan kembali ke tempat mereka masing-masing dengan kendaraan mereka masing-masing pula.
Akira sangat senang, menyaksikan hubungan Kakak Adik angkat yang pernah merenggang, kini kembali terjalin.
Jalan hidup Akira memang aneh. Mungkin memang Tuhan itu mentakdirkan jodoh itu di sini, bukan di negara sana. Sehingga dia diberikan kekuatan sial dalam dirinya, agar dia tak berdaya harus menghindari banyak orang dan pindah ke negara ini, lalu mendapatkan asal tulang rusuk yang kehilangan pemiliknya. Dua pria yang kini berada di hidupnya. Tuhan memang sangatlah adil. Dia tahu bahwa semua milik Akira akan diambil-Nya, hingga tidak luoa untuk menggantikannya, Dia memberikan Rean sebagai saudara, dan menggantikan Dika atas kepergian Hiroaki.
Tuhan juga mengantarkan orang-orang baik di sampingnya, agar dia bisa mengenal Tuhan yang menciptakannya, dari Biyan, Khadijah, Aida, Bunda, dan Gibran. Juga Humaira untuk menggantikan apa yang tidak akan Dia berikan.
__ADS_1
Takdir itu memang mengikat hidup Akira. Namun, taqdir itu sendiri memang mencarinya karena ikatan-ikatan yang telah dibentuk.
Sama seperti saat dulu di samping rumahnya ada gereja imanuel, tetapi karena dia punya Tuhan yang berbeda, maka dia harus mencari tempat ibadah yang memang dianutnya. Bahkan sekarang, dia tinggal di lingkungan masjid, tapi, dia tak pernah tahu, bahwa masjid itu kini telah menjadi tempat ibadahnya. Tuhan memang memegang catatan taqdir milik Akira, dulu dan sekarang, semuanya menjadi berbeda. Meski dia dulu hidup bersama Rean, tapi dia tak pernah mengenal Tuhan Rean. Tapi kini, sebelum Tuhan menjodohkan dia dengan seseorang yang memiliki Tuhan, dan membuat Akira mencintainya karena Tuhan-Nya. Pertemuan yang memang berbeda jalurnya. Dulu Akira menikah dengan Rean untuk kebaikan dirinya sendiri. Tapi sekarang dia menikah karena Akira mencintai Tuhannya. Tuhan yang bahkan tidak mampu dilihatnya, Tuhan yang bahkan tak bisa disentuhnya. Dan Tuhan yang begitu ajaib, hingga bisa membuatnya mencintai-Nya, sampai begitu tunduk, luluh, dan takluk.
Akira tidak pernah menyesali pilihannya menikahi putra angkatnya, karena dia mendapatkan yang lebih dari sekedar Dika. Dia mendapatkan hidupnya, keyakinannya, cintanya, dan kebahagiaannya. Meski harus melalui hantaman keras di kepalanya berkali-kali. Bahkan hampir sekarat dan mati. Luka-lukanya benar-benar berdarah, dan mengucurkan segarnya, hingga aroma amisnya menyeruak hingga menusuk penciumannya. Sesak dan menyiksa. Terkapar dan tak berdaya.
Hingga akhirnya, Tuhan sendiri yang memperkenalkan Diri-Nya, mengulurkan Tangan-Nya, memberikan penjagaan dan perlindungan yang tak pernah ditawarkan oleh selain-Nya. Lalu ... haruskah kini dia mengeluh setelah diberikan segala yang terbaik dari-Nya?
Puji syukur pada-Nya.
__ADS_1