
Langit tampak muram. Ia berwarna kelabu. Gerimis mulai turun dan hujan mulai membasahi pohon ek, mangga, dan rumput hias di halaman belakangpun ikut basah karenanya. Rean menatap keluar jendela. Menyaksikan air hujan yang terus turun ke bumi.
Rean mendesah menghela napasnya dalam-dalam. Hampir lima belas menit sudah dia duduk termangu menatap air hujan yang menyirami bumi. Ada perasaan sepi yang menghinggapi, dia merasa ada kesunyian yang terus menyeruak di dalam dadanya hingga senyum yang dulu selalu menghiasi wajahnya, hilang dalam sekejap mata.
Rean menatap foto Akira yang menghiasi dinding-dinding rumahnya. Kemudian tanpa sadar, air matanya meluncur jatuh dari muaranya. Ada rasa sesak yang terus mendesak sehingga rasa sakit begitu kejam menghantam jantungnya.
Petir menyambar, dan hujan turun semakin lebat. Dia melihat jam di dinding. Jam lima sore. Dia kembali menengok ke arah sebuah gelas di atas meja. Berisi air lemon yang dibuat oleh mantan istrinya. Mantan istri yang masih sangat dirindukannya. Pandangannya beralih pada mangkuk berwarna hitam bekas bubur instan yang tadi di santapnya. Dia masih sangat ingin memakannya lagi. Bubur yang biasanya memiliki rasa yang biasa tawar, di tangan Akira menjadi makanan yang begitu Rean inginkan.
Khayalan Rean kembali pada tiga tahun silam. Dimana dirinya berlutut meminta Akira untuk menyetujui dirinya menikahi Khadijah karena suatu sebab.
Arghh, andai saja saat itu dia tak perlu mengalami kecelakaan maut, maka perpisahannya dengan Akira takan pernah terjadi. Mungkin saat ini, dialah pria yang paling bahagia di dunia.
__ADS_1
...****************...
Besok adalah hari kamis. Dengan bimbingan Dika, Akira pasti akan sangat menikmati ibadahnya nanti. Apalagi dia akan dikaruniai seorang bayi.
Setelah tahajud bersama Dika, Akira menyiapkan sahur.
"Beberapa bulan lalu, aku masih belum menjadi muslim. Belum punya tujuan hidup. Tapi sekarang, aku bisa menjalani puasa sunah bersamamu."
"Aku pergi ke rumah Rean." Akira menuangkan air putih ke dalam gelas di hadapan Dika.
"Kamu gak minta izinku?"
__ADS_1
"Aku buru-buru, Ka. Rean mabuk. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Kemudian aku mengantarkannya pulang, dan langsung kembalibke rumah."
Dika berhenti menyendokan makanan ke mulutnya. Dia mulai lelah dengan perasaan Akira yang masih selalu memperhatikan Kakaknya itu. Dia meletakkan sendok di atas piring yang masih penuh, menggeser kursinya kemudian bangkit.
Sebelum Dika melangkah, tangan Akira menahan lengannya, " Ka, sekarang kamu adalah suamiku. Seberapapun besar rasa cinta yang pernah aku rasakan pada Rean, tak akan serta-merta membuatku menghianatimu. Percayalah."
Akira menatap mata Dika lekat-lekat. Terlihat ada kekecewaan di sana. Dika mendesah menghela napas dalam-dalam. Tangannya meraih kepala Akira dan menempelkannya di dadanya. Mengelus kepala Akira dengan lembut, " Seandainya saja aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku, Ra,"
Akira melingkarkan tangannya di pinggang Dika, untuk membalas pelukannya. "Maaf. Aku janji akan berusaha, Ka."
Mereka kembali duduk di kursi makan. Dika menyendokan makanan kemulut Akira, kemudian ke mulutnya sendiri. Setelah selesai makan, Dika membuatkan segelas susu untuk ibu hamil. Akira kurang suka susu tanpa rasa, sehingga enggan sekali membuatnya. Tetapi Dika dengan telaten membuatkannya susu dengan perisa vanila untuk istrinya, demi kebaikan calon bayi dan juga istri tercintanya itu.
__ADS_1