CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Babak terakhir


__ADS_3

Pukul sembilan pagi. Ketika telepon rumah berbunyi. Berita kematian Dika datang. Petir menyambar tanpa belas kasih. Dika mengalami stop jantung saat sampai di halaman kedai. Karyawannya langsung menelfon Akira untuk memberitahukan kabar duka itu. Dika terjatuh dari motor besarnya saat sudah terparkir sempurna di halaman kedai.


Tubuh Akira limbung. Gagang telepon masih digenggamnya di dada. Keadilan macam apa ini? Harus kehilangan satu orang lagi. Kejam sekali tatanan hidupnya. Kematian demi kematian menjadi babak cerita yang selalu menghiasi hidup Akira.


Akira sudah tak mampu lagi untuk menerima semua beban berat itu. Dia menjerit sejadi-jadinya. Airmatanya meleleh seperti air bah yang menerjang semuanya.


Pagi ini bukan kado yang datang sebagai hadiah untuk ulang tahunnya. Tetapi jenazah suaminya yang kini telah terbujur kaku dalam mobil ambulance berwarna putih. Bukan sebuah pesta perayaan bertambah umur, tetapi upacara belasungkawa kematian. Tak ada lagi senyum yang menyapa. Tak ada lagi canda dan tawa menenangkan jiwa. Sendu. Matanya mulai.berkaca-kaca dan rinai tangis yang tak dapat terluapkan.

__ADS_1


Tubuh Akira kembali lemas. Bunda menopang tubuhnya dan mendudukannya pada kursi. Akira memeluk Bunda sangat erat. Seolah ingin meluapkan semua rasa sakit yang mendesak di dadanya. Tangisnya bahkan hampir enggan untuk keluar.


Om Biyan mengurus segalanya. Hanya dia yang bisa diandalkan. Sebab dia adalah seorang ustad. Bunda di sampingnya masih mencoba menenangkan Akira. Aida mengambilkan air dan memberikannya pada Akira. Mulanya Akira menolak. Namun setelah melihat Bunda menganggukkan kepalanya Akira meraih gelas itu dan meneguknya. Hampir tak dapat menelan. Sangat sulit.


"Bunda, mengapa aku tak mati saja. Aku sudah tidak mampu. Sakit sekali!"


"Tapi aku tidak kuat, Bunda. Kenapa bukan aku saja yang pergi."

__ADS_1


"Jangan seperti ini, Akira. Allah beserta prasangka hamba-Nya. Bagaimana dengan bayi yang ada dalam kandunganmu jika kamu pergi?" Akira terus terisak dalam pelukan Bunda Asma.


Meskipun telah berkali-kali menghadapi upacara pemakaman. Tetapi sungguh untuk kali ini dukanya sudah tidak mampu di tahan. Tanah merah yang telah ditimbunkan pada ling lahat Dika sungguh sesuatu yang sangat menyesakkan dadanya. Taburan bunga mawar yang seharusnya wangi seolah menjadi aroma luka yang sangat menusuk. Dia harus menjadi janda kembali saat usianya genap dua puluh delapan tahun. Pandangannya mulai buram. Dia pingsan.


Hujan seolah benar-benar menjadi temannya. Dia sekarang sendirian di ruang gelap, terus menangis. Dari jendela dia melihat garis kilat menyambar. Suara gemuruh berdentum sangat keras. Terbayang wajah Dika saat pertama kali dia datang ke dalam rumah ini. Wajah tampannya yang memberikan nyawa pada kesepian jiwa. Senyumnya yang menentramkan. Bahkan untuk mempertahankan dia tetap di sisi, Akira merelakan dirinya menjadi istri seorang Dika. Tapi kini yang dijaganya, yang di kasihinya tetap pergi juga. Lalu untuk apa pengorbanannya selama ini? hanya untuk kematian inikah?


Akira menatap sebuah buku berseampul hitam tebal. Buku Diary milik Dika. Dengan hati yang sangat sedih perlahan membuka sampul buku di tangannya.

__ADS_1


Lembaran pertamanya terpasang foto dirinya dengan kaus putih dan overall berbahan denim warna biru. Rambutnya dikuncir satu, dengan kacaumata. Akira masih sangat ingat, itulah saat pertama kali Dika memfotonya untuk menjadi alat menolak gadis-gadis yang mengejarnya. Tanpa sadar airmatanya jatuh membasahi buku di tangannya.


__ADS_2