
Aku , Rean, dan Hiroaki telah lulus SMU. Kak Rea dan juga Om Darmawan juga akan segera kembali ke Indonesia.
Hiroaki memutuskan tidak jadi memasuki Akmil. Begitu juga aku. Kami mendaftar di sebuah universitas. Selain itu, Hiroaki juga bekerja. Ada sahabatnya bernama Khadijah yang memiliki sebuah pusat perbelanjaan. Dan menawarkan pekerjaan sebagai Manager HRD meski tanpa pengalaman dan sebagai masa percobaan dia selalu didampingi oleh Khadijah.
Di Universitas, Hiroaki mengambil jurusan psikologi. Jadi pekerjaan itu dianggap sebagai praktek lapangan baginya. Bahkan sekarang, Hiroaki sudah membeli sebuah apartemen dari uang peninggalan orang tuanya.
Aku mengelola kafe milik Kak Rea. Sebelum menikah dengan Kak Darmawan kafe itu adalah sumber pendapatan kami. Setelah menikah,, kafe itu dikelola sementara oleh sahabatnya.
Sekarang Kafe itu menjadi milikku, sebab, Kak Rea mengatakan hanya ingin fokus menjadi nyonya Darmawan, juga ingin memulai program kehamilan. Tentunya setelah disetujui oleh Rean.
Yah. Memang awalnya Rean memberikan syarat pada Kak Rea, agar tidak pernah memberikan adik untuknya, agar bisa menikahi papahnya.
Kini Rean harus kuliah dengan benar, karena nantinya dia akan dijadikan pimpinan hotel milik Ayahnya.
🍃🍃🍃
Pagi itu, Kak Rea dan Kak Darmawan akan berbulan madu. Dengan mengendarai Mobil Honda Jazz merah miliknya. Tidak pernah disangka, jika kepergian mereka adalah sebuah perjalanan menuju kematian.
Pukul 03.00 dini hari. Ponselku berdering. Sebuah berita tentang mobil yang mereka kendarai masuk ke dalam jurang.
__ADS_1
Kak Darmawan tewas di tempat, sedang Kak Rea mengalami koma dan kedua kakinya harus diamputasi.
Hujan begitu deras, dan suara kilat saling bersautan. Ketika aku dan Rean menerima berita yang paling menyakitkan itu. Aku menemani Kak Rea menjalani operasi, dan Rean mengurus proses pemakaman Kak Darmawan bersama Hiroaki.
Semuanya hancur begitu saja. Tanpa ampun. Mimpi indah kami, seketika pecah berkeping-keping.
Oprasi berjalan dengan baik, tetapi Kak Rea harus kehilangan ke dua kakinya dan juga suami tercinta.
Setelah mengurus pemakaman Kak Darmawan, Rean bersama Hiroaki menemaniku di rumah sakit.
Burung-burung camar tampak membumbung mengitari pantai, suaranya terdengar dari balkon rumah sakit yang berlapis kaca. Rumah sakit di pesisir pantai ini memang menyuguhkan pemandangan eksotis dengan latar belakang lautan yang luas. Deru ombak terdengar begitu jelas, seolah mengamuk menghantam bebatuan disekitar. Menyembunyiksn tiap rasa sakit yang kian menyiksa.
Setelah Kak Rea siuman. Dia terus menanyakan Kak Darmawan. Aku dan Rean bingung, bagaimana cara kami untuk menjelaskan kepergian Kak Darmawan padanya.
Beberapa suster coba menenangkannya, menyuntikkan obat penenang. Aku benar-benar tak berdaya. Tak lagi mampu untuk berjalan. Rean memapahku ke arah balkon. Aku duduk dan bersandar di pundaknya. Air mata ini tak kuasa lagi untuk dilelehkan.
Hiroaki membawakan sepotong roti dan air mineral dari kantin di lantai LG.
"Aku ingin mencari angin sebentar," pintaku pada Hiroaki.
__ADS_1
"Hiroaki, aku akan menjaga Rea, bawalah Akira, udara pantai mungkin akan sedikit menenangkannya."
Begitulah Rean. Tak pernah mau memanggil Kak Rea dengan sebutan mama, meski telah menerimanya. Dia hanya akan menyebut namanya, atau hanya memanggilnya nekek sihir.
Aku dan Hiroaki memasuki lift, menekan tombol UG.
Setelah melewati lobbi utama, barulah kami disuuguhi pemandangan bibir pantai yang sangat indah. Aku menuju ke sebuah bangku. Mendudukan diri dengan perasaan hampa. Hiroaki terus menguatkanku, membiarkan aku bersandar di pundaknya hingga lelap, tubuhku benar-benar lelah.
Setelah hampir satu jam aku menenangkan diri bersama Hiroaki, sebuah panggilan ponsel mengharuskannya untuk pergi ke kantor. Aku memberikannya senyum, menandakan aku akan baik-baik saja, jika dia harus pergi ke kantor karena ada masalah penting.
Aku kembali ke ruangan Kak Rea, dan Kak Rea pun terlihat sudah sadar.
"Rean, maafkan Mama," ucap Kak Rea lirih. Tangannya menggenggam tangan Rean.
"Jagalah Akira untuk Mama, Re. Menikahlah dengannya. Setelah itu, urus kewarganegaraan Akira."
Kepalaku seperti di hantam es batu. Dingin, tapi sangat sakit dan berdenyut.
"Kak! Aku akan menikah dengan Hiroaki! bukan dengan Rean," bantahku.
__ADS_1
"Akira, tidak ada cara lain. Kini umurmu sudah cukup untuk mengurus kewarganegaraan. Kamu tak bisa kembali ke negara kita. Kita tidak punya siapa-siapa di sana."
Hancur sudah hatiku mendengar permintaan Kak Rea. Dan, bagaimana, aku akan menjelaskannya pada Hiroaki nanti?