
Setelah selesai membereskan kedai, Dika membawa Akira pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, mereka berdua tak saling bicara. Akira menyandarkan kepalanya di punggung suaminya dan memeluknya dengan erat. Pikirannya sangat kacau, entah memikirkan Rean, atau justru memikirkan kejadian romantis tadi yang trrjadi antara Dika dan Aida.
Apakah benar, aku ini memang cemburu pada Aida?
Sesampainya di rumah, Dika masih tak banyak bicara. Malah dia masuk ke dalam kamar lama miliknya, bukan masuk ke kamar mereka. Akira segera membersihkan diri di kamar mandi, begitupun Dika. Namun, setelah mandi, Dika tak kunjung keluar dari kamarnya.
Akira merasa penasaran, sehingga masuk ke kamar Dika. Didapatinya Dika telah terlelap di atas ranjangnya. Akira membuka pintu kamar Dika, kemudian menutupnya kembali dengan pelan, dia khawatir akan membangunkan Dika, jika menkmbulkan suara berisik. Akira duduk di sisi ranjang sebelah Dika. Dia memberi batas di bagian tengah dengan bantal guling. Namun, Dika menyingkirkannya dan membuangnya padahal matanya masih terpejam, perlahan Dika bergeser lalu memeluk paha Akira dengan erat, seolah-olah pahanya adalah bantal guling.
deg
deg
__ADS_1
deg
Jantung akira tiba-tiba bergerak cepat tanpa aturan. Dia menelan salivanya dengan kesusahan. Pasalnya, dia hanya mengenakan celana hotpant selerti kebiasaannya jika hendak tidur, berkaus longgar dengan celana pendek di atas lutut. Sehingga pelukan Dika secara tidak sengaja langsung mengenai kulitnya.
Meskipun telah menikah dua kali, tapi Akira tak pernah seklipun
mengenakan lingeri ataupun baju tidur yang menggoda. Saat Akira hendak beranjak, tiba-tiba Dika malah semakin mengeratkan pelukannya dan membuka matanya. Ternyata sedari tadi, Dika hanya pura-pura tidur. Dika langsung memindahkan kepalanya ke pangkuan Akira. menjadikan paha Akira aebagai bantal. Dika menuntun tangan Akira, agar mengelus kepala Dika dengn lembut.
Mau tidak mau, Akira pun akhirnya menc*um bibir Dika dengan lembut.
" Ra, apakah boleh, aku melarangmu untuk menemui Rean? jujur, aku sangat cemburu, Ra. Rasanya jantungku ini seperti diremas."
__ADS_1
"Hh, "
Akira menahan tawanya, ketika mendengar pengakuan Dika yang tampak seperti anak kecil yang sedang merengek minta mainannya untuk dikembalikan.
Dika mematikan lampu kamar, lalu menggantinya dengan lampu tidur yang lebih redup. Kemudian mereka melakukan aktivitas fisik.
Pukul 01. 00, saat Akira bangun dan nengambil minum, lalu dihabiskannya air itu hingga tandas. Lelah sekali rasa tubuhnya itu.
Akira memandangi wajah Dika lekat-lekat. Wajah itu, tadinya adalah wajah putra kesayangannya yang bandel. Tubuh itu, yang dulu lemah, rapuh dan kurus, dijaganya agar tak pernah terluka, dirawatnya agar segera tumbuh dewasa, malah taqdir menjadikan penguasa atas diri Akira.
Taqdir memang begitu aneh, berkali-kali, Akira jatuh dalam pernikahan paksaan, lalu kemudian jatuh cinta. Pertama dengan Rean. Saudara tirinya dari sang Kakak, dan sekarang dia akhirnya harus menikahi laki- laki yang notabene adalah putra asuhnya.
__ADS_1
Hidupnya serasa begitu menyedihkan. Takdir berkali-kali mempermainkannya. Memaksanya hidup bersama dengan pria yang tidak di cintainya. Tetapi sekarang, pria di hadapannya ini, bukan lagi tanggung jawabnya, tapi justru menjadi pria yang bertanggung jawab dan berkuasa atas hidupnya. Rasanya dunia Akira selalu dijungkir-balikan dengan paksa. Sekarang, Akira berharap begitu banyak pada pria di hadapannya ini.