
Hantaman balok es yang tak terlihat di kepalaku ini, benar-benar meremukkan hatiku hingga tak dapat disatukan kepingannya.
Tiba-tiba Kak Rea mengalami kejang. Beberapa suster datang dan membantu Kak Rea, tetapi, serangan di jantung Kak Rea tak mampu membuatnya bertahan.
Aku menangis sejadi-jadinya. Jenazah Kak Rea ditutup dengan selimut berwarna putih. Tubuhnya terbujur kaku. Tak ada lagi suara yang akan memanggilku. Tubuhku terkulai lemah. Kakiku tak mampu lagi berpijak.
Pemakaman Kak Rea di dilaksanakan dengan penuh hikmat. Dia disandingkan di sebelah kuburan Kak Darmawan. Kini, mereka telah bersatu di alam sana. Alam keabadian yang tak akan lagi membuat mereka merasakan sakit.
Kami pulang ke rumah setelah prosesi pemakaman selesai. Rumah ini akan terasa kosong. Hanya tinggal foto-foto yang terpajang di meja.
Semuanya tampak asing. Sunyi. Gerimis jatuh, menyentuh daun pohon ex, menimbulkan suara berisik yang khas. Dia pun dengan berani menghantam atap, hingga meluncur mengenai pafling blok. suaranya begitu menyayat. Melukai setiap hati yang dipenuhi rasa takut.
Takut akan kesendirian, takut akan masa di hadapan, takut pada kenyataan saat Akira harus menikah dengan Rean, takut akan kekecewaan yang akan dia berikan pada Hiroaki dan dirinya.
Kini kami bertiga, telah benar-benar menjadi yatim. Kehilangan seluruh sosok orang tua. Tak akan lagi ada kebawelan dari Kak Rea. Tak akan ada lagi yang dipanggil sebagai nenek sihir.
__ADS_1
Malam semakin gelap. Aku masih merenung di tengah ruang kamar tanpa menyalakan lampu. Rean dan Hiroaki masuk ke kamarku dan menyalakan saklar. Rean meletakkan sepotong Sandwich dengan telur di dalamnya, juga segelas susu kedelai. Hiroaki duduk di hadapanku. Mencoba menenangkanku dengan genggaman tangannya. Saat Rean melangkah pergi meninggalkan kamarku, aku mencegahnya.
"Tunggu, jangan pergi Re. Kita harus menjelaskan sesuatu pada Hiroaki."
Hiroaki tampak bingung dengan ucapanku.
"Aku akan menikah dengan Rean."
Hiroaki tampak sangat terkejut dengan perkataanku. Dia memandang ke arahku dan kearah Rean bergantian. Dia menatap Rean dengan lekat, seolah meminta jawaban atas kebingungannya.
Aku masih menatap nanar. Semua terasa begitu kosong.
"Ra, kalau kamu memang masih bimbang. Kamu bisa memikirkannya kembali. Aku akan mengikuti apapun keputusanmu," ucap Rean sambil berlalu pergi meninggalkan kami berdua.
Terdengar deru suara motor di halaman rumah. Itu tandanya Rean pergi meninggalkan kami berdua.
__ADS_1
Aku terisak. Hiroaki memelukku dengan erat. Membiarkan kemeja berwarna hitamnya basah oleh air mataku. Tak tampak sedikitpun kemarahan pada diri Hiroaki. Dia memelukku, mengusap rambutku dengan lembut.
"Ra, apapun keputusanmu, aku akan menghormatinya. Aku tak memiliki hak untuk mengekang dirimu , Ra. Yang harus kamu tau, aku menyayangimu. Entah dirimu bersamaku, ataupun hidup bersama dengan orang lain. Cintaku, tak ingin menyakitimu. Kamu adalah sesuatu hal yang paling berharga dalam hidup yang pernah aku miliki."
Kata-kata Hiroaki, sungguh membuatku semakin berat untuk meninggalkannya.
"Percayalah, Akira, kapanpun, aku akan tetap bersamamu terlepas dengan menjadi suamimu, ataupun sebagai sahabatmu. Aku berjanji takan meninggalkanmu, hingga waktu memisahkan kita. Apapun pilihanmu terhadapku."
🍃🍃🍃
Kini waktu kian berlalu. Hari pernikahanpun telah di tentukan.
Persiapan pernikahan hanya tinggal seminggu lagi.
Tak banyak orang yang diundang. Hanya beberapa sahabat dekat Ayah Rean, pegawai hotel, relasi, teman-teman Kak Rea dan pegawai kafe juga Hiroaki.
__ADS_1