CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Rasa yang Salah


__ADS_3

Malam semakin sepi, tampak bulan begitu indah menghiasi malam. Suasana dingin menghinggapi hati, hanya acara musik di televisi yang menemaniku.


Dika duduk di sofa, tepat di sampingku. Membawa setumpuk buku-buku tebal penuh dengan tugas. Maklum, sebentar lagi dia akan menghadapi ujian.


,fg


"Belajar itu di kamar Ka."


"Gerah, Ra, di sini lebih adem. lagian, kalau ada yang aku gak ngerti, aku bisa tanya kamu kan, Ra?"


"Terserah kamu aja deh."


Dika tampak sibuk dengan tugas-tugasnya. Aku terpaksa mematikan televisi, agar tak mengganggu belajarnya, kemudian bangkit dari sofa.


"Jangan pergi, temani aku belajar. Masih banyak yang aku gak faham, Ra,"


Mau tak mau, aku harus tetap menemaninya untuk belajar.

__ADS_1


"Ra, menurutmu, apa yang paling menyenangkan dari Kak Rean?" tanya Dika memecah keheningan.


"Kenapa kamu tanya itu Ka? tentu, yang ada pada Rean semuanya menyenangkan."


"Bukankah, Kak Rean tak bisa memberimu keturunan Ra? mengapa kamu bertahan dengannya? dan itu menjadi alasan kalian mengadopsiku kan?"


"Lancang kamu Dika! pertanyaan macam apa itu?"


"Aku kan hanya bertanya, jangan marah lah. Aku hanya penasaran, apakah kalian benar-benar menyayangiku? atau hanya kasihan padaku?"


"Kami, benar-benar menyayangimu Ka, meskipun kami bisa memiliki anakpun, kami akan tetap menyayangimu."


"Dika, perasaan kamu itu, hanya rasa nyaman. Semua pasti akan segera hilang. Percayalah, di luar sana banyak gadis-gadis yang menantikan cintamu."


Dika terdiam sejenak, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Ra, aku ingin jujur tentang semua yang aku rasakan. Aku tak peduli, jikapun kamu tidak akan mencintaiku. Namun, aku hanya meminta kamu mendengarku sekali ini saja. Setelahnya, hanya akan menjadi rahasia antara kita berdua."

__ADS_1


"Aku ngantuk Ka, mau tidur," aku bangkit dari kursi, berniat untuk meninggalkannya. Namun Dika menghentikanku, mencengkram pergelangan ta-ganku.


"Sekali saja Ra, sekali ini, dengarkan! agar dadaku tak lagi merasakan sakit. Kumohon."


Akhirnya aku mengalah. Duduk dan mendengarkan ceritanya.


Pov. Dika


"Sekitar dua tahun lalu, saat aku terjatuh dari motor. Aku hampir sekarat. Aku berjuang untuk tetap hidup. Dan kamu, yang telah menyelamatkan nyawaku. Aku tak pernah menikmati kasih sayang dari siapapun. Tapi kamu, menjagaku sepanjang malam. Merawat lukaku. menyuapiku, memberikan kasih sayang yang aku rindukan.


Tanpa sadar, sentuhan tanganmu, telah membuat jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Saat kamu mengeringkan rambutku yang basah, saat kamu menyisirnya dengan lembut, saat kamu menitihkan air mata karena begitu takut kehilanganku, maka, saat itulah rasa ini tumbuh Ra.


Aku mulai benci, saat Kak Rean memelukmu, aku mulai benci, saat dia mencium keningmu. akupun mulai benci, saat kamu mengurusnya, dan pada puncaknya, aku paling tersakiti saat membayangkan kamu berbaring di sampingnya.


Mulanya aku hanya merasa itu hanyalah perasaan hangat dan nyaman yang diberikan oleh seorang Kakak seperti pemikiranmu. Tetapi, rasa itu semakin menyebar menyiksa seluruh perasaanku. Berkali-kali aku menyangkalnya. Kau ingat, saat tanganku terbakar? itu adalah sengaja kulakukan. Aku meletakkannya di atas lilin. Untuk meredam hasratku terhadapmu. Karena aku sudah tak tahan lagi, saat melihatmu. Aku membayangkan betapa panasnya api neraka yang akan membakarku, jika hal bodoh itu sampai aku lakukan!


Aku telah meredamnya dengan membaca kitab setiap malam. Mengalihkannya dengan shalat malam, tetapi kamu tetap tak menghilang dari pikiranku. Aku selalu pergi meninggalkan rumah agar tak pernah melihat kemesraanmu dengan Kak Rean, Apa kamu tak sadar itu Ra?"

__ADS_1


Aku menghela napas panjang, beranjak meninggalkannya, tanpa lagi peduli pada perkataannya lagi. Masuk ke dalam kamar dan menguncinya dengan rapat.


"Dosa apa aku? sampai mengalami hal seperti ini Tuhan?"


__ADS_2