
Akira mulai menangis, dia sebenarnya bisa saja memukul Rean kemudian kabur. Tetapi, apakah sekarang semua itu masih berguna? Meskipun mereka berdua tak melakukan apa-apa, tapi mata masyarakat tak akan berpikir seperti itu. Dua orang asing yang berlainan jenis, berada dalam satu kamar. Mungkinkah mereka tak akan berpikir apa-apa?
Ah, semuanya tidak akan baik-baik saja. Akira rasanya ingin sekali mengakhiri hidupnya. Dia sudah tak punya ketenangan lagi pada masa depannya. Tubuhnya merosot lemah, dia hanya bisa menangis.
"Akira, tenanglah, aku tak melakukan apapun padamu. Aku bersumpah. Kumohon jangan menangis seperti ini," ucap Rean sembari menghapus air mata Akira. Hatinya terasa diiris saat melihat orang yang paling dicintainya menitihkan air mata.
Akira menepis tangan Rean yang ingin mehapus air matanya. Dadanya penuh amarah dan kebencian. Dia tak pernah menyangka pria di hadapannya ini nekat melakukan hal bodoh seperti ini.
"Kamu pikir setelah hari ini, akan ada hari baik buatku? tidak akan ada, Re. Orang-orang akan memandangku sebagai pezina. Setelah ini, apa akan ada orang yang bepikir kita tak melakukan apa-apa! kamu salah Re, masyarakatku takan mengampuniku. Kebodohanmu ini, takan membuatmu bisa memilikiku, tapi justru akan membunuhku. Kamu tahu, apa yang akan aku dapatkan? Rajam Rean, Rajam!! Seorang Istri ataupun suami yang berzina maka hukumannya rajam sampai mati! apa kamu tahu itu, Re?" Akira menarik krah baju Rean berkali-kali dengan penuh amarah.
__ADS_1
Akira juga memukuli dada Rean dengan keras, meski akhirnya melemah karena tak lagi punya tenaga untuk marah.
"Tuhan, ujian apa lagi ini? mengapa tak Kau buat aku mati saja jika begini?" isak Akira.
Rean mendekat dan mencoba memeluk Akira untuk menenangkannya. tetapi, Akira mendorongnya dengan keras hingga dia terduduk.
Ingin rasanya Akira mati saat ini juga. Tapi, dia tak ingin mati dengan cara tak terhormat seperti ini.
Dia benar-benar telah melakukan hal yang ceroboh, hingga hampir saja menghilangkan nyawa wanita yang paling di cintainya.
__ADS_1
Setelah mengurus segalanya, Rean langsung bergegas meninggalkan hotel dan mengantarkan Akira pulang ke penginapannya. Meminta pada anak buahnya untuk melepaskan Dika.
Mulai sekarang, Rean tak akan memperjuangkan Akira dengan cara yang salah, dia tak mau mengorbankan Akira, hanya untuk mencapai keinginannya.
Akira sudah sangat membenci Rean. Dia tak bisa memaafkan perbuatan mantan suaminya itu kali ini.
...----------------...
Matahari mulai perlahan-lahan memendarkan cahayanya. Dika dan Akira telah sama-sama kembali ke penginapan. Tapi tak ada sedikitpun pembicaraan diantara keduanya. Keadaan dalam ruangan itu menjadi begitu dingin, sedingin salju yang turun pada musimnya. Mereka tidur dengan saling membelakangi. Akira ke kanan dan Dika ke kiri. Mereka sama-sama lebih memilih menghadap ke arah tembok bercat hijau.
__ADS_1
Rumah tangga Akira berada di ujung tanduk, dimana dia akan jatuh dan hancur berkeping-keping jika sedikit saja bergerak. Akira tak berani menceritakan perihal masalahnya pada siapapun. Untuk kali ini, dia benar-benar harus menyimpannya sendiri. Tidak pada Dika ataupun pada Biyan.