CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Kejutan setelah pernikahan


__ADS_3

Acara Pernikahan telah selesai dilangsungkan. Mau tidak mau, sekarang Rean Darmawan adalah suamiku yang sah.


*Apa yang harus aku lakukan? sekarang aku sudah sah menjadi nyonya Rean Darmawan.


Aku tak mau pindah ke kerumah Alm Kak Darmawan. Sebab, aku sudah terlanjur betah di rumah sederhana itu. Rumah yang dibeli dengan uang Kak Rea, dari penjualan rumah lama kami. Rasanya sayang sekali, jika sampai dikosongkan. Apalagi disewakan. Sedang Rumah Kak darmawan memang selalu di urus oleh asisten rumah tangga mereka, selama di tinggal di luar negeri*.


"Re, bolehkah, kita tetap tinggal di rumah lama kita yang biasa? Soalnya, aku sudah terbiasa dengan rumah itu?"


Rean mengangguk tanda setuju dan mulai mengemudikan mobilnya menuju rumah lama kami.


Rasa lengket karena berkeringat seharian rasanya langsung berganti segar setelah diguyur di bawah shower. Aku keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk sebatas dada.


"Astaga!" Aku hampir saja melompat karena terkejut, melihat Rean sudah berbaring di atas kasurku.


"Kamu, ngapain di kamarku?"


"Kita sudah menikah Ra. Ya, aku mau tidur di kamarmu. Ini malam pertama kita kan? Aku hanya ingin meminta hak-ku," ucap Rean tanpa rasa malu sedikitpun.

__ADS_1


"Re. Iya, aku tahu, kita sudah menikah. Tapi ... bisakah, kita tunda malam pertama kita? A-ku, be-lum siap," ucapku dengan cengiran sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.


"Gak bisa dong Ra. Aku kan udah lama tunggu hal ini, dan ... Tuhan sangat adil membuatku menikahimu. Apalagi kamu sendiri yang setuju mengambil keputusan menikah denganku, ayolah Ra," bujuk Rean.


"Re, please donk, jangan paksa aku. Aku benar-benar belum siap."


Rean langsung bangun dari tidur. Lalu berjalan menghampiriku. Membuka kaos kuning yang melekat di tubuhnya. lalu melemparnya ke sembarang arah.


"Re, jangan macam-macam, ya?" ucapku sambil memasang kuda-kuda.


Aku melayangkan sebuah pukulan ke arahnya, namun, sudah jelas Rean pasti mampu menepisnya, tak menyerah. Aku memberinya tendangan, namun dia juga mampu mengelak. Bahkan kini, dia mengunci ke dua tanganku di belakang, lalu mendaratkan sebuah ciuman di pundak dan leherku.


Aku masih belum menyerah, kuhentakkan kepalaku ke arah hidungnya.


"Aw. Sakit Ra, kamu beneran, ingin menolak-ku?" ucap Rean sambil memegangi hidungnya yang sedikit berdarah.


"Siapa suruh, macam-macam denganku," ucapku sambil menyambar kaus berwarna kuning yang tadi dilepaskannya.

__ADS_1


Mengambil pakaian dalam dan celana hotpant di rak baju asal. Lalu kembali ke kamar mandi dan menguncinya.


Eh, aku pikir dia masih di kamarku?


Aku keluar dari kamar mandi setelah memakai pakaian yang kuambil asal tadi. Sambil mengeringkan rambutku dengan handuk, aku berjalan mencari suamiku itu.


Pandanganku tertuju pada sebuah tempat pembakaran barbeque.


Di atas meja halaman belakang, terdapat sepiring tamagoyaki. Dia juga memanggang daging yang sudah dipotong tipis dan pas. Bahkan dia memamerkan ke ahliannya mengepal nasi untuk menyajikan onigiri, dan juga menyiapkan sashimi berupa ikan tuna segar. Menghancurkan buah naga dalam blender untuk membuat jus. Aku sungguh takjub menyaksikan pemandangan ini. Ternyata dalam rumah ini, tersembunyi seorang chef . Aku duduk di kursi yang disediakan dan tampak sebuah buket bunga krisan putih. Kemudian siap menikmati seluruh hidangan yang di sajikan olehnya.


Ah, segala sikap manisnya ini, hampir membuatku lupa, kalau aku menikahinya bukan karena cinta.


Setelah kenyang, kami bersama-sama membersihkan peralatan makan kami. Sepertinya, mencuci peralatan makan setelah digunakan, sudah jadi kebiasaan Rean sekarang.


Selanjutnya, kami menonton TV di ruang tengah. Sebenarnya masih ada rasa canggung yang kurasakan. Pasalnya, selama ini aku sudah terbiasa menganggapnya sebagai saudara. Tapi kini, malah berubah setatus menjadi suami istri.


Aku sendiri sangat bingung harus memperlakukan Rean seperti apa?. Sebab, bagaimanapun juga, kini dia adalah orang yang harus aku hormati, dan aku patuhi.

__ADS_1


__ADS_2