
Akira masih duduk di sofa panjang di kamar Rean. Dia masih ingat, saat dulu dia lumpuh dan tak berdaya, Pria inilah yang begitu memperdulikannya. Menjaganya sepanjang hari. Pria inilah yang bertahan di sisinya, pria inilah yang begitu mencintainya tanpa peduli kondisi apapun.
Tuhan, tidak layakkah aku untuk pria ini? hingga Engkau memisahkan aku dengannya?
Dia begitu rapuh, dia butuh aku saat ini, tapi, mengapa aku harus dipisahkan dengannya? apa kesalahan pria ini, Tuhan.
Akira terus saja memandangi wajah mantan suaminya ini. Batinnya sangat bergemuruh. Dia pergi ke dapur untuk merebus air, untuk mengompres Rean. Akira tanpa sungkan membawa air dan handuk kecil dalam baskom. Dia membersihkan wajah pria ini dengannya, membersihkan tangannya dan juga kakinya.
Air matanya mulai meleleh, hingga jatuh di punggung tangan Rean. Dan membuat si empunya tangan terbangun. Rean tampak sangat kaget atas pemandangan di hadapannya itu. Dia duduk bersandar di kepala ranjang. Dia melihat wanita yang di cintainya menangis karena dirinya.
"Re, aku mohon jangan seperti ini. Aku terluka jika kamu terus begini. Ku mohon hiduplah lebih baik dariku."
Akira menundukan wajahnya, matanya telah dibanjiri air mata. Rean merasa sangat bersalah, ingin rasanya dia memeluk wanita di hadapannya. Mengelus pucuk kepalanya, dan menghapus air matanya yang jatuh sia-sia. Tapi, dia urung melakukannya. Dia menarik kembali tangannya.
Arghhhh, ingin sekali rasanya dia melenyapkan penghalang yang membatasi mereka berdua, Tapi apalah daya? rasa marah telah menguasainya, hingga dengan reflek Rean meraih kepala Akira, Dan membenamkannya di dadanya. Ah, entahlah. dia sedang tidak peduli dengan apapun. Dia hanya peduli dengan airmata dan tangis wanita di hadapannya ini.
__ADS_1
Akira menangis tanpa suara, namun rasa sesak yang ditumpahkannya membuatnya begitu lemah. Dia melepaskan pelukan Rean pada kepalanya.
"Re, aku buatkan bubur ya?" ucap Akira sambil berlalu meninggalkan Rean menuju dapur.
Akira mencari-cari bahan makanan yang biasanya di simpan dalam lemari pendingin, dan di lemari gantung namun dia tak mendapati yang dia butuhkan.
"Apa yang mau di masak?" ucapnya sambil menggaruk kerudung di kepalanya ysng tidak gatal.
Rean menyusul Akira ke dapur. Kemudian duduk di kursi meja makan,
Akira mengambil satu buah lemon, mencuci dan memotongnya. Menaruhnya dalam gelas, lalu menuangkan air hangat ke dalamnya. Menyajikannya di hadapan Dika. Dia juga mengambil bubur instan, kemudian menyeduhnya.
"Kamu, hanya makan ini?"
Rean mengangguk menyetujuinya, sambil menyuapkan bubur yang dibuat Akira tadi. Ingin rasanya dia menangis, dia rindu saat Akira membuatkannya makanan. "Uhuk" Rean terbatuk karena makanan itu memang masih panas.
__ADS_1
"Pelan-pelan Re,"
Rean rasanya sangat tak peduli, meski makanan itu masih sangat panas, dan hampir membakar lidahnya, tapi, dia ingin segera melahapnya.
"Kamu, datang kemari sudah minta izin Dika?"
"Belum, aku yakin dia tidak akan marah. Sebab yang aku temui adalah Kakaknya. Lagipula, Dika pasti merasa sangat sibuk, karena harus mengurus kedai tanpa aku. Dia akan pulang malam sepertinya."
Rean tampak mengangguk, dia masih sibuk menyantap semangkuk bubur instan di hadapannya, dan segelas air lemon hangat yang dibuat oleh mantan istri tercintanya ini.
"Re, aku pamit ya, sudah malam. Ingat, jangan berbuat hal bodoh lagi. Kamu juga harus bahagia. Aku tidak akan menjauhi kamu. Bagaimanapun status hubungan kita sekarang, lepas dari kita mantan suami istri, kita masih saudara dari Kak Rea dan Kak Darmawan, dan kamu juga masih Kakaknya Dika, aku tak akan lupa itu."
"Aku balik ya, Re," ucap Akira sambil memasangkan tas selempang di pundaknya.
"Hu'um," jawab Rean sambil terus menyendokkan makanan itu ke mulutnya.
__ADS_1