CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Ungkapan cinta Rean


__ADS_3

"Ra, apa kamu rindu padaku?"


Aku menoleh ke arah Hiroaki. Hingga pandangan kami saling bertemu. Aku mengangguk dan mengulumkan senyum. Hiroaki menghela napas panjang, kemudian mengeratkan pelukkannya.


"Ra ... Rean menyukaimu. Apakah kamu juga tidak tertarik padanya?" tanya Hiroaki lagi.


"Kami sekarang adalah keluarga, Hiroaki. Apa-kamu -tak suka aku dekat dengan Rean?" jawabku berusaha menjelaskan.


"Re, kalian tak sedarah. Jika nanti kalian menikah, tak akan ada yan melarangnya, Ra." "Tidak juga aku," tambahnya lagi.


"Ra, aku dan kamu, hanya sahabat. Kita tak punya ikatan apapun. Kamu bebas menikah dengan siapapun, Ra," ucapnya dengan nada lirih.


"Apa Hiroaki akan menikah dengan Akira?? " tanyaku padanya.


"Apa itu bisa terjadi Ra?" jawabnya tidak yakin.


Aku mengangguk. Menangkupkan kedua tanganku ke wajahnya.


"Akira-sayang -Hiroaki," ucapku dengan yakin.


"Tapi, waktu kita masih panjang, Ra. Jika nanti kita setelah lulus, bisa mendaftar di Akmil. Maka kita akan terpisah, Ra. Jikapun kita tidak lolos. dibutuhkan minimal empat tahun untuk kita menyelesaikan study. Apakah kita akan sampai pada Tahap itu Ra?" tanyanya.


Aku kembali mengangguk lalu memeluknya.

__ADS_1


Saat ini kami sedang membahas sebuah masa depan, yang tak pasti akan seperti apa ujungnya.


aku mengulurkan kelingkingku. Memberinya isyarat untuk membalas tautan. Aku mengapai tangannya. Menyatukan kelingkingku dengan kelingkingnya.


"Akira, akan berusaha menunggu saat itu."


Hiroaki tampak tersenyum melihatku.


"Namun, aku tak percaya Rean. Aku tak bisa jamin, kamu takan jatuh cinta padanya."


Aku tertawa mendengar ucapannya. Ternyata Rean yang dia khawatirkan.


tok tok tok


Tiba-tiba pintu kamar Hiroaki digedor. Tampak Rean membuka pintu yang memang tidak di kunci. Tampak raut wajah kaget saat mendapati kami sedang tiduran di atas kasur. Tanpa basa basi. Diapun tidur di sebelahku. Di atas lantai, sebab ukuran kasur Hiroaki cukup kecil tanpa dipan, hanya sebuah busa tebal. Tanpa izin dia memelukku. Sama seperti Hiroaki.


Rean tak menyerah, lalu menaikan satu kakinya di atas pahaku. Lalu Hiroaki menyingkirkannya dengan kakinya.


"Kamu tidak adil Ra. Kamu mengizinkan Hiroaki memelukmu, sedang aku tidak. " ucap Rean.


hah, aku duduk dan sedikit tertawa mendengar kekonyolannya. Aku menyentil dahinya agar dia tersadar.


tuk

__ADS_1


"Kamu ini."


"Ya, memang, apa salahnya? kalau aku juga menyukaimu Akira? aku juga tampan, bahkan melebihi Hiroaki. "


Aku dan hiroaki menggeleng. Hiroaki menuju dispenser. Mengambil tiga cup mi ramen instan, lalu menyeduhnya.


Mengambil jus instan rasa jeruk dan menuangkannya pada tiga gelas. Meletakkan di atas lantai, untuk kami nikmati bersama.


Kami menikmati Ramen pedas dengan suasana yang menyenangkan.


🍃🍃🍃


"Aku balik, kamu gak balik Re? ini sudah petang. Nanti nenek sihir telfon kamu gak ada, " ucap Rean.


"Iya. Iya."


Kami balik ke rumah. Takut Kak Rea dan Kak Darmawan menelpon dan kami tak berada di rumah.


Sampai di rumah, Aku dan Rean duduk di kursi belakang.


"Ra, Apa aku punya kesempatan untuk mencintaimu?" tanya Rean tiba-tiba, yang membuatku kaget, sampai menyemburkan jus yang baru saja aku minum.


"Kamu ini, kenapa Re? Jangan berpikir hal-hal aneh Re," ucapku sembari mengelap bekas jus dari bibirku.

__ADS_1


"Ra, aku yakin, kamu juga paham akan hal ini. Kita tak punya ikatan darah. Dan, aku juga memiliki kesempatan yang sama seperti Hiroaki."


"Sudahlah Re, jangan memikirkan hal yang macam-macam, " ucapku sambil berlalu meninggalkannya menuju kamar, untuk segera membersihkan diri.


__ADS_2