
Aku masih bertanya-tanya pada diriku. Apa yang menjadikan Hiroaki begitu khawatir pada Akira(aku sendiri di dalam tubuh ini)?
Namun, untuk menghilangkan rasa penasaran, aku mengangguk pada Hiroaki, agar Hiroaki mau mempertemukan aku dengan Akira(tubuhku sendiri).
Lucu sekali rasanya, saat aku meminta melihat tubuhku sendiri pada Hiroaki, dan meminta izinnya.
Setelah dia yakin bahwa aku takan meyakiti sahabatnya. Hiroaki pun akhirnya mempertemukan aku dengan tubuhku itu.
Kudapati Rean menjaga tubuhku dengan penuh kasih, mengelap dan membersihkan tubuhku dengan kain dalam baskom. Dia menyisir rambutku dengan telaten, bahkan memoleskan pelembab bibir, mungkin, dia tidak rela melihat bibirku kering nantinya.
Ah, ini kah Rean yang sesungguhnya? begitu lembut dan penuh kasih? Sebuta inikah aku? sampai-sampai tak pernah melihat cintanya?
Dia tak menyadari kehadiran kami, bahkan aku diberi kesempatan oleh Tuhan, untuk menyaksikan kejadian ini. Akhirnya langkah kami megusik kegiatannya dan membuatnya menoleh ke arah kami. Tatapan matanya penuh dengan kemarahan saat melihat kehadiranku.
"Untuk apa kamu bawa dia ke sini Hiroaki! "
Aku belum pernah melihat kebencian sebesar itu di matanya terhadapku. Kebencian seperti api yang ingin melahap kayu bakar hingga habis.
__ADS_1
"Aku ingin minta maaf," ucapku.
Rean masih mengacuhkanku.
"Bawa dia pergi dari sini Hiroaki!" ucap Rean.
Aku meninggalkan ruangan itu, melangkah dengan gontai, hingga hampir saja terjatuh. Hiroaki menahanku agar tidak tumbang, mendudukanku pada kursi di depan ruangan ini.
Wanita yang aku kenali tadi sebagai Khadijah, menghampiriku. Memapahku menuju ruangan dimana aku dirawat.
Suster melepaskan selang infus yang sudah habis, sementara wanita ini membereskan barang-barang, memasukannya dalam tas berukuran besar.
Setelah beberapa menit berjalan, Aku menunggu di depan, sedang wanita itu mengambil mobil di tempat parkir. Sebuah mobil minicooper warna hitam.
"Kamu gak ikut mengantar, Hiroaki?" tanya wanita di sebelahku dengan nada lembut pada Hiroaki.
"Tidak, aku akan menemani Rean dan Akira."
__ADS_1
Ada senyum tersungging di sudut bibirku. Entah mengapa aku merasa senang, saat mengetahui Hiroaki lebih memilihku, ketimbang mengantarkan kami.
Jalanan tampak lenggang, wanita di sebelahku ini nampak sudah terampil mengemudikan mobilnya.
Disebuah deretan gedung-gedung apartemen, wanita ini memasuki basement untuk memarkirkan mobilnya.
Apartemen wanita ini ternyata berada di sebelah apartemen milik Hiroaki.
Ah, pantas saja mereka dekat dan sangat akrab. Setelah pintu apartemen terbuka, ruangan berwarna pink tertata dengan sangat manis, bersih, dan tampak sangat sejuk dengan beberapa pot bunga yang tertata rapi di sudut jendela.
Wanita ini mengantarkanku pada sebuah kamar. Dapat aku tebak, bahwa kamar itu adalah milikku, ah, maksudku milik gadis yang tubuhnya kupinjam ini. Kamar bernuansa gelap serba hitam. Dari bedcover, sofa kecil dan warna catpun berwarna abu-abu gelap. Bahkan lemari pun berwarna hitam. Dengan lampu standing berwarna kuning.
Pakaian gadis ini hanya berupa kaus polos berwarna putih, hitam dan beberapa warna gelap tanpa hiasan. bawahannya hanya ada jeans, celana kulot hitam, dan beberapa celana pendek warna hitam dan putih saja.Deretan Tuxedo dan jaket berjejer dengan sangat rapi. Tak ada gaun sama sekali.
Dia ini pria?atau wanita sih? batinku.
Kalau masalah riasan, dia hampir sama sepertiku. Tak ada meke-up sama sekali. Hanya ada pembersih dan penyegar, essense, serum ,krim jerawat, krim siang malam, beberapa pelembab bibir, juga lotion dan parfum.
__ADS_1
Sepertinya gadis ini, adalah penyuka anting dan jam tangan. Terlihat sekali dari koleksinya yang begini banyak.
KARA?