
Sepagi ini, aku menyusuri jalan , dengan membawa motor besar Hiroaki aku menuju rumah sakit dimana aku dirawat.
Aku mengambil kunci motor di atas nakas tanpa diketahui oleh Hiroaki.
Aku berjalan menelusuri koridor rumah sakit. Saat aku tiba di depan kamar Akira, Aku melihat Rean sedang sibuk membersihkan tubuhku seperti biasa. Saat kulihat dia keluar dari ruangan, aku segera masuk ke dalam ruangan dimana aku dirawat.
Ah, tubuhku kini benar-benar berbeda. Tampak lebih kurus, dari sejak aku meninggalkannya. Aku terlihat lebih segar. Dengan polesan pelembab bibir di sana. Rambutku tampak lebih berkilau, meski aku tk merawatnya sendiri, tapi aku yakin Rean menjagaku dengan ketelatenan luar biasa. Aku hanya tampak seperti sedang tertidur, bukan koma.
"Kara, keluarlah, aku butuh bicara denganmu."
__ADS_1
Sesosok bayangan putih kini telah berada di hadapanku.
"Ada apa Akira? bukankah kamu sudah puas dengan malam pertamamu?" ucap gadis itu dengan raut wajah kesal.
Melihat pemandangan ini, muncul ide jahil untuk mengerjainya.
"Ahh, itu, iya tentu saja, suamimu itu benar-benar luar biasa Kara, kamu tahu, aku sampai benar-benar kewalahan menghadapinya. Dia sama sekali tak memberiku jeda untuk beristirahat. Entah sudah berapa ronde yang kami lewati dalam semalam. Aku sampai kuyu begini. Lihatlah," Aku menunjukan bekas kissmark di leherku padanya.
Setelah mendengarkan ceritaku yang bohong itu, dia tampak semakin kesal. hingga mukanya benar-benar terlihat sedih.
__ADS_1
"Makanya Kara, kamu kembalilah pada tubuhmu ini, dan biarkan aku kembali pada ragaku itu. bantu aku Kara. Aku tak mampu mengurus suamimu itu. Dia terlalu liar untukku," tambahku lagi untuk memancingnya agar semakin terbakar api cemburu.
"ah, bukankah kamu menikmatinya! nikmatilah saja terus! aku tak mau membantumu kembali pada ragamu ini! karena aku sendiri tidak tahu bagai mana caranya memasuki tubuhku itu, yang sudah ada dirimu di dalamnya," ucapnya semakin sedih.
"Akira, luka di kepalamu itu, sedikit lebih serius dari yang kita pikirkan. Aku bahkan tidak tahu, kapan kamu akan kembali sadar dari koma. Jalan satu-satunya untukmu kembali pada tubuhmu, hanya dengan sadarnya dirimu dari koma Akira," tambahnya lagi.
Aku benar-benar kehilangan kata-kata. Lututku tiba-tiba saja melemah, hingga merosot jatuh kelantai. Terduduk di kaki-kaki ranjang tempat jazadku berbaring.
Terdengar suara langkah sepatu memghampiriku. Rean. Masih dengan raut wajah itu, wajah yang menampakkan rasa tidak suka atas kehadiranku. Ya. aku memang mengetahui dari Kara, kapan Rean meninggalkan kamar rumah sakit untuk bekerja, dan kapan dia kembali. Hingga aku bisa melihat perkembangan diriku sendiri di ruang ini. Tapi.sepertinya hari ini Rean memiliki jadual berbeda dari hari-hari sebelumnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu di sini? bukankah kamu sudah mendapatkan Hiroaki. Apa kamu masih ingin mecelakakan Akira? dia bahkan sudah koma, dan tidak peenah tahu kapan dia akan sadar! apa kamu masih ingin membunuhnya?" Rean berbicara dengan nada yang sengaja ditekankan.
Rean, tahukah kamu, aku adalah Akira?bisikku dalam hati.