
Menunggu di depan ruang operasi adalah sesuatu yang sangat tidak menyenangkan. Berkali -kali aku meremas tanganku, menggigitnya, kemudian meletakkannya lagi.
"Apakah Hiroaki akan meninggalkanku?"
Rean datang. Aku langsung memeluknya. Rean mengelus kepalaku dengan lembut. Dia mengerti dengan apa yang aku alami.
Dengan tenang, Rean menceritakan sesuatu hal padaku. Tentang Hiroaki, tentang Kara, dan tentang peenikahannya denganku.
Kara mengalami gangguan kejiwaan, dia terobsesi dengan Hiroaki. Sejak pertama bertemu di awal kuliah. Membuatnya melakukan segala cara agar bisa mendapatkan Hiroaki. Kak Rea juga telah menjadi korbannya. Kecelakaan yang dialami Kak Rea dan Kak Darmawan juga adalah perbuatannya. Dia menyuruh orang untuk memotong rem mobil yang mereka kendarai.
Untuk membebaskan aku dari kebencian Kara. Hiroaki memutuskan untuk bertunangan dengan Kara. Bukan karena tidak punya kekuatan untuk melaporkan Kara pada polisi, atau pun memasukan dia ke tempat rehabilitasi, namun Khadijah meminta pada Hiroaki untuk menolongnya. Berkali-kali Kara mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Hingga pada hari itu, Kara sengaja memotong rem mobilnya sendiri, untuk menabrakku dan memutuskan ikut mati bersama.
Namun Tuhan berkehendak berbeda, Kami tidak mati. Malah saling bertukar raga. Bahkan kejadian itu, telah membuka segel kekuatan dalam diriku, yang telah dikunci bertahun-tahun oleh pendeta.
__ADS_1
Lampu merah di ruang operasi telah padam. Dokter telah keluar dari ruangan. Aku dan Rean menunggu penjelasannya dengan cenas.
"Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik."
Bukan jawaban ini yang ingin aku dengar. Sebuah jazad terbujur kaku tak sedikitpun bergerak. Hiroaki, telah meninggalkanku untuk selamanya.
Air mataku meleleh, lolos dari sudut mataku. Rean memelukku dengan erat. Diranjang sebelah, tampak kara yang masih pingsan. Ingin sekali aku melepas selang oksigen dan infusnya. Agar dia berhenti untuk hidup. Ingin sekali aku mencekiknya dengan kedua tanganku, agar dia segera menyusul Hiroaki ke alam sana. Tapi, jika aku melakukannya, aku dan dia sama. Sama-sama kejam, dan sama-sama pembunuh berdarah dingin.
Khadijah memasuki ruangan. Dia terkulai tak berdaya di kaki ranjang Hiroaki. Menyesali kelalaiannya menjaga Kara. Hingga nyawa Hiroaki melayang di tangan adiknya. Terlihat sekali ketidak berdayaannya. Menyaksikan bencana yang disebabkan oleh tangan Kara.
Pemakaman Hiroaki telah selesai. Kini hanya tinggal aku dan Rean.
Aku berharap Kara tak akan pernah sadar. Hantaman kepalanya pada dinding, saat aku melemparnya, semoga membuatnya kehilangan ingatan. Agar, tak ada lagi musibah yang akan ditimbulkan olehnya.
__ADS_1
Cahaya matahari menelusup melalui celah-celah daun pohon ek, sebelum berpendar menyentuh kulitku. Tak ada lagi pemujaan di altar. Tak ada lagi pemujaan untuk sang Dewa Agung. Hidupku telah kehilangan warnanya. Tak ada lagi penyambutan akan kehadirannya di pagi hari. Semua telah berakhir.
Benang merah yang terikat, kini telah di putuskan. Tak perlu lagi ada pemujaan. Kebahagiaanku semua telah di renggut olehnya.
Rean memeluk kepalaku dengan lembut. Memutar kursi roda yang aku duduki menghadapkannya ke arahnya. Dia menggenggam tanganku dengan lembut, kemudian menciumnya. Mendaratkan sebuah kecupan manis di keningku dan membiarkan aku memeluknya. Aku sungguh sangat lelah. Ingin kutumpahkan segala sesak si dadaku ini dalam dekapannya, dan tak ingin lagi melepas pelukan ini selamanya.
"Ra, makanlah dulu. Perutmu sudah seharian ini kosong."
Aku menggeleng. Namun Rean membopong tubuhku, mengangkat dalam gendongannya. Akupun melingkarkan tanganku ke lehernya. Dia mendudukanku di kursi teras belakang. Mengambil sepotong roti isi dan menyuapkannya ke mulutku.
Saat Rean mwngambil obat untuk diminumkan padaku, aku menahannya.
"Re, aku tak mau minum obat."
__ADS_1
Rean mengambil satu sendok dan memasukan ke dalam mulutnya. Mengangkatku dalam gendongannya. Kemudian mencium bibirku dan memasukan obat itu kemulutku , melalui mulutnya.
"Aku akan memberimu obat dengan cara ini setiap harinya, Akira. Agar setiap rasa pahit yang kamu rasakan, akupun akan menikmatinya," bisik Rean di telingaku.