
Semua terasa menjadi indah. Akira berjalan sendirian menyusuri taman di samping jalan. Dia sedang lari pagi bersama Om Biyan, Bunda, Rean, Khadijah, Dika juga Aida. Sedang Gibran, sudah seperti baby sister yang mendorong stroler Humaira.
Akira mendekati Gibran, dia ingin Gibran memberikan Humaira padanya. Dengan senang hati, Gibran memberikan ponakannya itu pada Akira. Akira memperlambat langkahnya, karena dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan bayi mungil dengan pipi yang sangat merah itu. Bunga-bunga berwarna pink berguguran dari pangkalnya, sudah mirip seperti hujan bunga di pagi hari. Pohon-pohon hias yang dipangkas rapi, tampak masih basah oleh air embun. Akira menghentikan langkahnya, duduk di kursi taman berwarna putih. Bercanda ria dengan Humaira. Tawa bocah kecil itu sangat riang, khas bayi. Merubah warna atmosfer seolah penuh bunga-bunga berwarna lembut nan harum. Mirip iklan bedak bayi di televisi.
Biyan mendekati Akira.
"Kamu cantik, Ra, kalau sedang bahagia seperti ini."
"Om ini, berarti kalau Akira tak bahagia, Akira tidak cantik, Om?" jawab Akira tanpa menghentikan kegiatannya menimang Humaira.
Biyan terbahak mendengar jawaban Akira. " Ra, coba kamu ini lajang, Om akan jadikan kamu sebagai istri ke dua."
"Dan untungnya, aku ini bukan lajang ya Om. Alhamdulillah, Tuhan memang adil, menjadikan aku punya suami, kalau gak, aku udah di jadiin istri ke dua oleh buaya macam Om. hahaha."
__ADS_1
"Memang, kamu gak mau, jadi istri Om?"
"Diih, ogah! jadi istri Om yang tua ini? duh, aku gak pernah bayangin deh," jawab Akira dengan nada pura-pura enggan ala gadis cabe-cabean.
"Om kan ganteng, Ra?"
"Iya, deh iya, Om ganteng mirip kevin costner. Tapi, Akira gak tertarik tuh."
"Om ini serius, Ra, Om suka kamu."
"Iya, iya, tahu, aku tahu kalau Om itu jatuh cinta kan? sama aku? terus, tante mau taroh di mana Om? terus Humaira nanti gimana? hah?" jawab Akira asal. Sebenarnya, Akira juga tahu, kalau Biyan sedang tidak bercanda. Tapi, perasaan Biyan pasti adalah sebuah kesalahan. Akira adalah seorang wanita. Jika dulu saja dia dengan tegas meninggalkan Rean karena tak mau di madu, lalu bagaimana mungkin dia akan mengizinkan wanita lain juga terluka, karena mengetahui suaminya menyukai wanita lain.
"Om, aku serius, aku tahu Om sayang sama aku. Tapi, tolong jangan biarkan rasa suka itu semakin besar, Om. Bunda adalah wanita yang sangat baik. Jangan pernah sakiti hatinya, Om," jelas Akira, dengan intonasi semakin lirih, karena meski dia yang bicara, tapi, dia sendiri yang merasakan sakit. Dia tak pernah membayangkan, bagaimana perasaan Bunda, jika mengetahui hal ini.
__ADS_1
Tangisan Humaira memecah kecanggungan dua orang yang sedang serius mengobrol itu.
Biyan mengambil Humaira dari stroler, kemudian menggendongnya, menepuk-nepuk punggung bayi kecil itu. Akirapun ikut menenangkannya dengan elusan di lengannya. Bunda datang menghampiri Akira dan Biyan, lalu mengambil Humaira dalam gendongannya. Sedang yang lain sedang sibuk memakan bubur ayam pinggir jalan.
"Bunda sudah selesai makan, sekarang tinggal Ayah dan Akira yang makan. Biar bunda yang menenangkan Humaira," ucap bunda sambil menenangkan bayi kecil dalam gendongsnnya itu.
Akira memandangi wajah wanita teduh di hadapanya ini, wanita ini sangat lembut, anggun dan sabar. Dia tak pernah berpikiran buruk pada suaminya sedikitpun. Wanita yang hampir sempurna begini saja, masih bisa memalingkan hati suaminya pada wanita lain. Lalu, bagaimana dengan dirinya, yang tidak sempurna? Akankah Dika mampu bertahan dengannya selama mungkin.
Akira menengok ke arah Dika yang sedang asik makan bubur bersama, Rean, Gibran, Aida dan Khadijah. Mereka tampak sangat akrab dan bahagia. Dari kejauhan, nampak Gibran menggoda Aida berkali-kali. Bahkan keduanya sesekali saling kejar-kejaran seperti dua remaja yang sedang jatuh cinta, memutari Dika. Rean juga tampak akrab dengan Khadijah, mereka duduk bersebelahan dan saling mengobrol.
Dari kejauhan, Akira memindai pemandangan yang begitu hangat dan akrab itu. Dia juga menyaksikan Biyan dan Bunda yang bekerja sama membuat Humaira tertawa riang. Dika berjalan kearah Akira, membawakan bubur ayam dalam sterofoam dan sebotol air mineral, kemudian memberikannya pada Akira, Dika duduk di samping Akira sambil meletakan tangannya pada sandaran kursi yang diduduki oleh Akira.
"Makanlah," ucap Dika sembari memberikan senyum terindahnya.
__ADS_1