
Selepas sekolah kemarin, aku dan Hiroaki berjalan-jalan menghabiskan waktu. Kami jarang, langsung pulang ke rumah. Sebab Kak Rea selalu pulang pukul 21.00 malam. Aku benci dengan keadaan rumah yang sepi. Itulah sebabnya, aku dan Hiroaki selalu pulang saat hari sudah menjelang malam.
Kemarin kami pergi ke pantai. Main bola, dan berlatih memanah. Dia mengajariku tekhnik bela diri, juga mengajariku menjalankan motor besar miliknya.
Tanpa terasa, rona jingga di ufuk barat telah berganti petang. Kami mengambil dua kotak Ayam goreng, dan air mineral yang kami beli tadi, di warung pinggir jalan saat berlatih mengendarai motor.
Setelah selesai, kami duduk menatap pantai. Aku menyandarkan kepalaku di pundak Hiroaki, aku sangat suka melakukannya, suara detak jantungnya seperti musik klasik yang menenangkan.
Lampu perahu nelayan yang berkelap-kelip, dengan bintang-bintang yang memantul di atas air, serta purnama yang begitu gagah dengan semburat merah yang menawan, menjadi syurga tersendiri bagi kami.
"Ra, jika aku memiliki sisa hidup hanya sebentar, apa kau mau menemaniku?"
Tentu saja aku mengangguk. Aku menoleh kearahnya. Hingga wajah kami sangat dekat, dan saling menatap.
Wajahnya semakin mendekat, hingga Hampir tak ada jarak. Manik matanya itu indah, berwarna hitam menawan. Hidung kami bersentuhan, dan ...Dia bibir itupun saling menempel. Ada rasa hangat menjalar, menimbulkan desir aneh dalam dadaku, hingga tanpa sadar aku memejamkan mata.
Angin laut berhembus dengan lembut, menerbangkan rambutku yang tergerai. Hiroaki memelukku, dan menuntutku untuk hanyut dalam pangu*** lebih dalam. Perlahan kurasakan tangannya membuka kancing bajuku, hingga aku menghentikan pangu***ku, menahan tangannya agar tak bergerak lebih jauh.
"Jangan, Hiroaki. Belum saatnya, jangan membuat diri kita menyesal nantinya,"
"Maaf," bisiknya lirih.
Malam kian larut, rintik air hujan jatuh membasahi pakaian yang kami kenakan. Hiroaki melajukan motornya dengan hati-hati, karena aspal menjadi licin karena air hujan.
Aku memeluknya dengan erat. Aroma mesin yang memanas bercampur air hujan menguar menusuk hidung. Deretan lampu berwarna kuning menghangatkan malam yang benar-benar dingin. Setelah hampir empat puluh lima menit kami diguyur air hujan, dan bibir kami mulai membiru, akhirnya kami sampai di rumah.
Kami mengendap-endap seperti maling yang takut tertangkap basah.
Lampu tiba-tiba menyala.
__ADS_1
"Dari mana kalian? malam begini baru pulang," tanya Kak Rea yang ternyata telah mendahului kami sampai ke rumah.
"Hehehe, Kak Rea. Kami habis jalan-jalan Kak."
Kak Rea hanya mengembuskan napas kasar melihat kenakalan kami.
"Hatchi!"
"Hem, tuh, kan, kamu flu Ra."
Aku hanya bisa nyengir kuda, sambil mengelap hidungku dengan punggung tangan.
"Sudah sana, kalian mandi. Nanti malah tambah sakit."
Kami mengembuskan napas lega, saat sudah bisa lolos dari omelan Kak Rea.
Kamar aku dan Hiroaki berhadapan, dan berada di lantai atas, sedang kamar Kak Rea berada di lantai bawah.
"Malam, Jelek, wee"
"Hish! kamu ini ya?"
"Gak kena, wee," jawabku sambilbmenutup pintu kamar.
Akhirnya kamipun berpisah.
Malam ini sangat menyenangkan.
drt ... drt ...
__ADS_1
"Udah mandi?" from: Hiroaki Rese.
"Udah," balasku pada pesannya.
"Yah, aku telat. Sial! kelamaan aku tadi mandinya," jawabnya kesal.
"Memang, kenapa?" balasku lagi.
" Mau lihat kamu mandi, ha, ha ha."
"Rese kamu! mesum," balasku.
"Yah, buat hiburan , cuci mataku Ra, hahaha."
" Cuci tuh pake sabun! biar bersih. sekalian otaknya."
"Hey, nanti kalau nyucinya sama sabun, memorii tentang kamu juga ikutan hilang, gimana?"
"Dasar! dah lah, dah malem. Mo bobok aku."
" Ok, jan lupa, mimpiin aku, jan lupa cium aku ntar di mimpimu. hahaha."
"Dih, ogah! aku mo mimpi dicium cowok ganteng ja. hahaha"
"Awaz aja ya, aku datengin nanti tuh cowok, dan kubikin bonyok."
"Bidi imit! weee!"
pip!
__ADS_1
Sengaja aku matiin. Habis ni besok, pasti bakalan kezel dia . ha ha ha.
Dan pagi ini, akhirnya benar-benar terjadi. Dia marah sampai tidak tidur semalaman. Kesel katanya dan akibatnya dia ambruk.