CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Dia Adalah Tuhan


__ADS_3

Hujan turun deras, terdengar dentumannya menghantam atap. terjadi sedikit banjir di halaman. Aku menatap tetesan air di kaca jendela, menyaksikan halilintar membelah angkasa.


Hari menjelang siang, saat kulihat genangan air telah meresap masuk ke dalam tanah, dan hujan mulai berganti dengan gerimis tipis. Pikiranku masih begitu carut-marut. Tak mampu lagi untuk berpikir dengan pikiran tenang.


"Apakah aku harus meninggalkan Tuhan yang baru aku kenal ini? rasanya sangat sulit untuk berjalan mengikuti apa yang Dia perintahkan."


Aku masih terus merenung memikirkan permasalahan yang kini aku harus hadapi.


Aku tak pergi ke kedai hari ini, sebab, aku tak mau bertemu dengan Dika. Tapi, kesendirian ini membuat aku serasa mati. Aku membayangkan, betapa sepinya hidupku nanti, jika aku harus hidup dalam kesendirian.


ting tong.


Bel rumah dibunyikan, aku yakin sekali itu adalah Dika, karena meskipun dia tinggal di kedai sekarang, tapi dia masih selalu mengecek keadaanku setiap sore, hingga pukul sembilan malam.


Dika datang membawa seorang gadis kecil bernama Aisyah. Dia berumur sekitar sepuluh tahun.

__ADS_1


" Ra, aku membawa Aisyah untuk menjagamu selama satu bulan ini. Dia akan menemani kamu, karena aku akan tinggal di kedai untuk sementara waktu, sampai kamu bisa memberikan keputusan pada warga."


Aku hanya mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Dika, tubuhku drop hampir sejak insiden hari itu. Pikiranku kacau, bingung, dan luluh lantak.


Sore menjelang, saat aku duduk di kursi teras, aku menyaksikan biji berkecambah di halaman. Entah biji dari mana datangnya. Mungkin dibawa oleh burung-burung yang terbang. Kecambah itu menyedot perhatianku. Menjadi sesuatu yang unik, seolah dia ingin memberikan jawaban padaku tentang Tuhan yang sedang aku kenali ini.


Beberapa hari berikutnya, aku melihat kecambah itu telah memiliki dua buah daun. Hingga menumbuhkan batang lunak yang sedikit meninggi dari kecambah.


Hampir setiap pagi tanaman itu menyita perhatianku. Dia bertumbuh, tanpa aku membantunya sedikitpun. Setelah meninggi beberapa centi dari tanah, aku melihat bunga kuncup hingga bunga itu mekar.


Aku bertanya, Siapa yang menumbuhkan itu? Alam? Air yang meresap? Udara? Matahari? Atau, dia tumbuh dengan sendirinya?


Pikiranku masih menerawang jauh, saat aku menyaksikan daun-daun kuning melayang, berayun-ayun hingga jatuh di atas tanah. Siapa yang menjatuhkannya? Apakah angin? Siapa yang membuat batang yang tadinya kokoh, menjadi rapuh hingga terlepas dari dahannya?


Aku menyaksikan burung- burung terbang bebas lalu hinggap di atas dahan. Aku masuk rumah, mengambil senapan angin yang tergantung di tembok ruangan. Memompanya, lalu mengisinya dengan beberapa biji besi. Kubidikan pada salah satu sayap burung di atas sana dan ... dia terjatuh, sedang burung lainnya berterbangan tak tentu arah karena kaget oleh bunyi senapan yang aku gunakan.

__ADS_1


Ku pungut burung yang jatuh dan kulukai tadi, aku bertanya, mengapa jika dengan hanya satu sayap, dia tak mampu terbang?


Semua itu masih menjadi pertanyaan, tentang siapa Tuhan yang memerintahkan aku mematuhi aturan. Aturan yang sangat tidak aku mengerti. Dan aturan yang memberikan batas antara pria dan wanita ini dengan kotak bernama "Mahrom", memberikan jalur keturunan bernama " Nazab"


Hari-hariku terasa hampa dan sunyi. Hanya bidadari kecil bernama Aisyah yang menemani kesepianku beberapa hari ini. Dia membuatkan aku bubur, merawatku dengan sabar dan telaten, dia berangkat sekolah hingga pukul sebelas siang, dan kembali dari sana bersama Dika.


Aku mengambil ikan ****** dalam gelas kaca, kemudian aku meletakan dia di atas cawan dan aku sendiri menyaksikan ikan itu sekarat, lalu akhirnya dia mati. Aku kembali bertanya, "Mengapa dia tidak tetap hidup saat kupindahkan dari air menuju cawan?"


Aku menahan napasku beberapa menit, ada sesak dan sakit yang aku rasa. Aku kembali bertanya, "Mengapa tanpa udara aku seolah akan mati?"


Jika aku terus memikirkan itu semua, aku percaya, bahwa ada yang berkuasa atas itu.


Dan, kini aku mempercayai "Dia adalah TUHAN."


Aku berjalan mengambil air wudlu, kini aku memasrahkan segala urusanku pada-Nya dengan Istiharahku.

__ADS_1


__ADS_2