
Satu tahun telah berlalu. Kami menikmati hari-hari yang sangat indah, di masa itu. Tak pernah ada pertengkaran, tak pernah berselisih pendapat. Dia yang selalu mengalah, hingga terkadang, aku bingung bagaimana menghadapi sikap pengalahnya yang begitu berlebihan. Dia memberikan semua yang aku inginkan. Memenuhi segala yang aku butuhkan. Hingga, hari itu, tanggal 8 Oktober, segala kebahagiaan berubah menjadi kesedihan.
Pagi itu, Rean melajukan kendaraan ke sebuah rumah sakit Ibu dan Anak. Ingin merencanakan program kehamilan. Karena Rean sudah mendambakan momongan. Kami menemui dokter Boby, sahabat ayah Rean.
Dunia serasa runtuh di hadapan kami. Rean mandul dan akupun demikian.
Betapa tak adilnya dunia. Jalan kami telah ditutup dari pelbagai arah untuk memiliki momongan.
Duka menyelimuti kehidupan kami.
Jalan yang begitu ramai terasa lenggang, pikiran kami sama-sama menerawang jauh ke awang-awang. Semua terasa sangat kacau.
Dan ....
Brak!
__ADS_1
Seseorang telah terpental jauh di atas aspal. Sepeda motornya teronggok di hadapan kami. Dengan seorang pria berlumuran darah di kepalanya
Kami segera membuka pintu mobil, membopong tubuh pria seumuranku menuju rumah sakit. Gerimis mengiringi perjalanan kami. Aroma aspal basah menguar menusuk hidung. Dibarengi bau amis darah.
Setelah pria ini berada dalam penanganan dokter. Seorang suster memberikan dompet dan ponsel miliknya.
Yudha dwi pangga, bekerja di hotel milik Rean sebagai koki. Tuhan, semua seperti kebetulan yang telah dirancang. Dari penjelasan manager HRD, dia hanya tinggal dengan seorang adik laki-laki bernama Dika. Mereka anak yatim piatu, dan hanya mengandalkan Yudha sebagai tulang punggung keluarga.
Yudha mengalami koma. Fungsi otaknya perlahan menurun. Seorang anak kecil dengan seragam SMP menghampiri kami, matanya memerah, dan butiran air bening seolah ingin lolos dari anak sungai di matanya.
Kakiku lemas, menyaksikan pemandangan di hadapanku. Anak kecil itu jatuh terduduk, melipat kedua tangannya memeluk lutut, wajahnya begitu pucat, dan anak sungai di matanya, mulai mengalirkan air bening hingga membasahi tangannya.
Rean memeluknya dengan erat. Meminta maaf berkali-kali. Hingga air bening dari matanya pun meluncur jatuh.
Suara sepatu dari beberapa suster dan dokter terdengar begitu cepat. Mereka berlari menuju ruangan di mana Yudha tengah berbaring. Kepanikan nampak terlihat. Garis lurus dan bunyi yang khas kini telah terdengar. Suara dentuman pemacu jantung menghentakkan tubuh Yudha beberapa kali, hingga garis lurus itu kembali menunjukkan pergerakan yang berbeda.
__ADS_1
Kami menghampiri Yudha yang mulai membuka matanya. Dika mendekatinya dengan rasa khawatir yang begitu jelas tergambar di wajahnya.
"Dika, maafkan Abang. Abang mungkin tak akan lama menemanimu. Abang telah dijemput Ayah dan Ibu. Jaga dirimu."
Suara dengingan monitor yang lurus, bersamaan dengan jatuhnya tangan Yudha dari genggaman adiknya, dan juga tangisan Dika menghiasi ruang bercat serba putih.
****
Pemakaman Yudha diiringi gerimis tipis. Seolah langitpun menunjukan kesedihannya. Matahari bersembunyi di balik gumpalan awan kelabu, dan suasana dingin mulai merayu untuk menyelimuti hati yang sepi.
Muram dunia mulai menghiasi hamparan tanah merah yang sunyi, hanya bisik-bisik dedaunan pohon bambu yang berderit saling bergesekan. menggugurkan daun-daun tua berwarna kuning.
" Dika, maukah kamu menjadi adik kami? Kamu akan kami anggap sebagai putra kami. Dan kami tak akan pernah membuatmu kehilangan kasih sayang dari kakakmu. Juga takkan membuatmu sendirian."
Perlahan Dika memeluk Rean dengan erat. mengangguk dan menyetujui saran kami.
__ADS_1
"Selamat datang Dika."