
Sore itu, Akhirnya kami bertiga pergi nonton bioskop. Rean dengan motor besarnya sendirian dan aku berboncengan dengan Hiroaki.
Kami membeli popcorn dan soda sebelum memulai menonton film kesukaan kami.
🍃🍃🍃
Setelah lelah seharian. Kami pun tertidur hingga sore di atas tikar tatami di ruang tengah. Setelah bangun, kami segera mengerjakakan pekerjaan rumah dan memasak beberapa menu makanan. Di ruang tamu rumah ini tak ada sofa. Hanya ada sebuah meja berwarna hitam, dan empat bantal duduk lesehan ala jepang dan lemari nakas untuk memajang beberapa foto juga satu buah pot besar untuk pohon palm. Tak banyak perabot. Hanya ada televisi ukuran 163 inci yang terpasang di dinding ruang tengah dan sebuah sofabed, serta sebuah rak buku. Ada empat kamar tidur dilengkapi dengan kamar mandi dalam, dan sebuah dapur yang lengkap dengan perabot dapur dan lemari pendingin. yang terhubung langsung dengan halaman belakang yang paling luas. Juga sebuah mesin cuci otomatis di pojok belakang rumah.
Bahkan kasur yang kami gunakan hanya kasur gulung berwarna putih lengkap dengan selimut tebal dan bantal agar lebih mudah dirapikan setelah digunakan. Ada sebuah lemari pakaian dan nakas yang di lengkapi dengan lampu tidur. Kata Kak Rea semua itu Kak Rea lakukan, agar kami lebih mudah membersihkan rumah dengan cepat. Karena menurutnya, kami ini anak-anak yang pemalas. Kak Rea memang sudah memperhitungkan segalanya dengan cermat. Karena Rean memang benar-benar pemalas. Apalagi selama tinggal dengan Papahnya, dia tak pernah sekalipun merapikan tempat tidurnya, apalagi mencuci piring dan pakaian. Melihat dia menjemur pakaian di halaman belakang, adalah pemandangan yang sungguh menakjubkan. Apalagi melihatnya mencuci piring dan gelasnya sendiri, sungguh pemabdangan yang layak untuk diabadikan.
Saat aku sedang asik memotret Rean yang menjemur pakaian, Dia berteriak dan langsung mengejarku untuk menghapus gambar yang baru saja kuabadikan. Rean merebutnya dengan paksa, hingga kami terjatuh dengan posisi Rean berada di atasku. Kami diam sejenak. Jantungku berdegup kencang karena malu. Dan jangan tanya seperti apa warna wajah Rean. Merona seperti tomat.
Rean bangkit, lalu mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. Kami tertawa dengan lepas tanpa menyadari jika ada sepasang mata yang memperhatikan kami sejak tadi dari balik pintu.
__ADS_1
Saat kami tengah tertawa dengan lepas, sebuah langkah mendekat. Hiroaki menghampiri kami untuk balik ke tempat Indekostnya.
"Akira, aku balik ya, " ucap Hiroaki dengan diiringi senyum.
"Kamu gak menginap lagi, malam ini? "
Hiroaki menggeleng.
Hiroaki mengangguk lalu beranjak meninggalkan kami.
"Aku pulang Re, Ra," ucapnya sambil mengangkat satu tangannya, yang dibalas oleh Rean dengan cara yang sama.
Setelah kepergian Hiroaki, kami kembali melanjutkan pembagian tugas untuk berberes rumah. Setelah selesai. Kami duduk di bangku taman belakang rumah sambil menikmati minuman dingin dan camilan. Sinar mentari sore terhalang oleh Rimbun dedaunan pohon ex di samping kami. Tampak sedikit cahayanya menelusup dedaunan. hingga berpendar menghangatkan tubuh. Udara perlahan mulai berubah menjadi sedikit lebih dinggin, saat senja mulai menyapa. Kami mulai masuk kamar kami masing-masing untuk segera membersihkan diri. Kemudian aku bersiap ke tempat Hiroaki. Memasukan beberapa jenis makanan ke dalam kotak dan beberapa camilan dan minuman ringan dalam kantong plastik.
__ADS_1
"Re, kamu gak pa-pa kan, makan sendirian? aku mau nemenin Hiroaki makan malsm ini. Ah, iya, kalau kamu merasa kesepian, telfon saja Maria. Dia pasti dengan senang hati menemanimu, " ucapku sembari meledek.
Rean melemparkan handuk berwarna putih di kepalanya ke arah wajahku.
" Hihh, bau tau, " ucapku dengan nada kesal.
Tapi Rean dengan cueknya meneguk minuman dingin di hadapannya. Tanpa peduli dengan kekesalanku.
" Kapan kamu mau pergi? Suami kamu pasti udah nunggu dengan kelaparan tuh, dah, sana. Berisik. " Ucap Rean tanpa menoleh ke arahku.
Aku melangkah pergi menuju tempat Hiroaki. Dan benar, dia sedang duduk sendirian dengan segelas teh hangat di kursi teras.
Dia tersenyum melihat kedatanganku dan kami bersantap malam berdua ditemani lampu teras yang temaram.
__ADS_1