
"Kak, ini gimana sih! aku kan pesennya moccacinno, kenapa dikasih americano sih?" ucap seorang gadis.
"Ah, maaf Kak," ucap Akira.
Hari ini memang dia sama sekali tidak fokus pada kedai. Pikirannya, masih dipenuhi kesedihan karena kehilangan Caty.
Sedari pagi, Akira selalu salah mengantarkan pesanan. Ada yang memesan Latte, dia membawakan Flat White, ada yang pesan Affogato, dia membawakan Coffee ristretto, ada yang pesan Cortado, dia membawakan cappucino. Ah, hari ini kacau sekali. Untung setelah Dika meminta maaf pada para pelanggan dan menjelaskan, mereka akhirnya mau memahami dan memaklumi.
"Ra, kayaknya, kamu pulang aja gih, pikiran kamu lagi gak fokus."
"Tapi, aku masih ingin di sini, Ka."
"Baiklah. Tapi, kamu duduk aja, Ok?"
Akira mengangguk, dan duduk di belakang meja kasir. Digantikan oleh Dika.
"Eh, Ustad, tumben datang ke kedai sendirian, biasanya bareng sama Bunda Asma. Gibran juga gak di ajak."
"Iya, Ustad sendirian. Bunda lagi ke pasar tadi, ada acara tasyakuran di rumah. Udahlah lupain, gimana keadaan Akira? dia baik-baik aja kan?"
"Alhamdulilah Ustad, Akira baik, hanya saja masih terpukul karena kepergian Kak Caty kemaren. Itu, Ustad, Akira ada di sana," Dika menunjuk ke arah kursi putih di halaman belakang.
__ADS_1
"Ustad boleh kesana?"
"Ah, silahkan Ustad. Siapa tahu, dengan mendengar nasihat Ustad, Akira bisa menghilangkan kesedihannya."
Ustad Biyan menuju halaman belakang, disusul Dika yang membawakan segelas Latte.
"Ekhm."
"Om Biyan. Dateng sendiri? mana Bunda?"
"Om Biyan sendiri, Bunda lagi sibuk sama urusan tasyakuran. Kamu baik aja kan?"
"Ra, inget, kamu boleh sedih, kamu juga boleh menangis, tapi, habis itu, kamu harus lupain itu semua. Hidup, mati, jodoh, rezeqi, semua sudah ada yang mengatur, Ra. Jadi, jangan sampai kamu berlarut-larut dalam kesedihan."
"Iya, Om."
Om Biyan adalah seorang dosen di sebuah Universitas. Dia adalah orang yang bijak, keluarganya dekat dengan keluarga Akira, sejak Akira resmi jadi muslim. Orangnya baik, istrinya pun sangat baik. Dia, memiliki seorang putri kecil bernama Humaira. Hampir semua permasalahan seputar agama, yang belum Akira pahami, selalu dia tanyakan pada Ustad Biyan.
Biyan, meskipun seorang dosen, tapi, dia masih lebih mirip anak muda. Suka dengan motor klasik dan balapan. Gayanya juga tidak seperti dosen pada umumnya, lebih seperti berandalan yang terlihat elegan.
Sore ini, ditemani cahaya matahari yang mulai berwarna jingga, karena hendak kembali ke peraduannya. Akira banyak bercerita dengan Biyan. Mereka sudah hampir seperti Kakak beradik, karena umur Biyan memang seumuran dengan Kak Rea, 37 tahun. Sepuluh tahun lebih tua dari Akira.
__ADS_1
Setelah menghabiskan segelas Latte, Biyan akhirnya pamit pulang.
"Dika, jangan lupa, nanti malam ikut tasyakuran di rumah ya. Akira pasti sangat senang, jika bertemu dengan Humaira."
"Iya, Ustad," jawab Dika.
***
"Permisi, Kak, apa di sini ada lowongan kerja?" tanya seorang gadis yang sepertinya masih anak SMA.
"Kamu, bisa kerja apa? karena pekerjaan di sini tak ada yang menyenangkan. Capek, " jawab Dika.
"Gak pa-pa Kak, aku bisa kerja apa aja, yang penting kerjaan itu halal Kak."
"Ok, nama kamu siapa? dan kalau kamu mau, kamu bisa mulai kerja besok pagi. Atau gini aja, hari ini, aku akan pulang lebih awal, karena ada urusan. Kamu boleh langsung bersih-bersih, nanti akan aku hitung sebagai lembur. Gimana? mau?"
"Mau, Kak, mau!" jawab gadis itu.
"Oh, iya, namaku Aida."
Dika tersenyum sembari meninggalkan gadis itu kehalaman belakang, menemui Akira.
__ADS_1