CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Katarina


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu, dan aku tak peduli lagi apapun yang dipikirkan oleh Rean. Dia tetap menikahi Khadijah atau tidak, keputusanku tetap. "PISAH!!"


Setelah proses mediasi dan banyak hal selama beberapa bulan. Kini aku sudah memiliki surat ...


Aku tak pernah menyangka, hidupku akan mengalami hal seperti ini. Keras kepalaku telah menjadikanku hidup dalam kesendirian. Hanya Dika yang membersamaiku dalam menuntaskan sisa hidup yang terasa sudah tak ada warna.


Tiga tahun sudah aku hidup dalam kesendirian. Meski rasa cintaku tak pernah terkikis sedikitpun untuk Rean, tapi dalam hatiku dia telah kuanggap mati. Berapa kalipun dia datang, aku tak mengabaikannya. Wajah itu, adalah wajah siksaan bagiku. Setiap dia datang, hanya membuat luka perih itu kembali berdarah. Sangat sakit.


Kini, aku sudah cukupkan hidup dalam kesendirian, bersama putra angkat Rean. Aku menggunakan setiap waktu yang kulewati, hanya dengan menjadi pengurus kedai bersama Dika.


"Pagi, Ra, moccacino satu ya, hehe, juga pesanan yang biasa."


Seorang gadis dengan tubuh berisi di hadapanku ini bernama Katarina. Dia pegawai di sebuah perusahaan besar di seberang jalan. Meski tubuhnya berisi, tapi wajahnya benar-benar cantik. Kulitnya putih, dan yang pasti, dia sangat ramah.

__ADS_1


"Ini pesanannya, spesial buat kamu, dengan extra granule. Redvelvet, dan ice cream stroberi dengan extra cream."


Aku duduk di depannya seperti biasa. Tiap kali dia memesan makanan, selalu aku yang akan mengantarkannya dan menemaninya ngobrol.


"Ra, kamu bisa gak rekomendasikan kost putri sekitar sini yang agak nyaman? aku pengin pindah dari tempatku. Ibu kostnya bawel bukan main."


"Aku gak punya rekomendasi. Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal sama aku dan Dika. Rumahku memiliki empat kamar, jadi tersisa dua kamar kosong. Memang, tidak mewah, tapi cukup nyaman dan tenang."


"Kamu serius Ra? mau, aku mau. Berapa aku harus bayar sewa?" ucapnya dengan penuh antusias.


"Yah, kamu perhitungan bener? aku pikir, ini bakalan gratis juga. Hahaha"


Caty, begitu aku menyebutnya, dia memiliki kekasih yang sangat ditaktor. Mengatur apa yang ada dalam hidup Caty, dan yang menyarankan Caty pindah, juga adalah dia. Karena menurut kekasihnya itu, Ibu kost membuat mereka tidak merasa bebas.

__ADS_1


Leo adalah nama kekasih Caty itu. Entah mengapa aku merasakan bahwa Leo hanya memanfaatkan Caty, karena Caty selalu saja memberikan segala yang Leo minta. Segalanya, termasuk untuk tid*r bersama.


"Hai," sapa Leo yang baru saja tiba. Tangannya memegang pundakku. Caty tak pernah curiga sedikitpun pada Leo. Padahal Leo benar- benar seorang casanova.


Aku langsung bangkit dari tempatku duduk, meninggalkan Caty dan Leo.


"Tunggu Ra, boleh, aku minta nomor ponselmu? bukankah kamu melayani pesan antar? Biar aku lebih mudah untuk memesan."


"Bukankah, di depan sudah tertulis nomor untuk pesan antar Leo, silahkan pesan dengan nomor itu saja."


"Ayolah Ra, aku maunya nomor ponsel kamu."


"Gak pa-pa kok Ra, berikan saja nomormu," ucap Caty menimpali.

__ADS_1


Mau tidak mau akupun memberikan nomor ponselku padanya. Meski aku sebenarnya sangat tidak suka.


Tersungging senyum penuh kemenangan di wajah Leo. Sebenarnya sudah beberapa kali, Leo meminta nomor ponselku, tapi tak pernah aku berikan. Dia benar-benar tahu, momen yang pas untuk memanfaatkan Caty.


__ADS_2