
Kini mereka sudah sampai di pantai pasir putih. Biyan menyewa dua jetsky agar dia dan dika bisa balapan di atas air.
Tiba-tiba Aida langsung memegang tangan Dika, meminta diperbolehkan untuk duduk dibelakangnya. Dika tampak memandangi tangan yang dipegangi oleh Aida, kemudian melihat ke arah Akira. Lalu Dika mendekat ke arahnya. Tetapi Akira justru meminta izin pada Bunda untuk naik jetsky dibonceng Om Biyan. Setelah di izinkan oleh Bunda, Biyan langsung memakai perlengkapan dan menghidupkan jetskynya.
Entah marah, atau cemburu yang membuat Akira bertingkah seperti itu. Sedang Dika akhirnya menaiki jetsky bersama Aida. Dia berusaha mengejar Biyan.
Akira dan Dika saling menatap. Entah apa yang dipikirkan oleh kepala masing-masing, seolah ada kemarahan di hati keduanya.
Kemarahan Dika membuatnya tidak fokus mengendarai jetsky. Hingga berusaha melajukan jetskynya dengan kencang, dia lupa bahwa ada Aida di belakang. Hingga tanpa sadar, Aida terpental dan jatuh.
Akira berteriak. Biyan segera mematikan mesin dan melompat ke dalam air. Didapatinya Aida sangat ketakutan. Akira mengambil alih kemudi, dan membawa Aida ke tepian.
__ADS_1
Aida sangat ketakutan, Dika meminta maaf padanya, tetapi Aida malah langsung memeluk Dika dengan erat.
Akira yang hendak menenangkannya menjadi sangat terkejut. Pemandangan di hadapannya itu adalah pandangan yang tak diduganya.
Bunda, Biyan, Dika dan Gibran sontak langsung menatap ke arah Akira. Biyan bahkan tanpa sadar menggenggam tangan Akira. Tanpa berpikir panjang, Dika membopong tubuh Aida menuju saung yang Biyan sewa kemudian berusaha menenangkannya dan yang lainnya mengekori di belakang. Sedang Akira tak beranjak dari tepian pantai. Duduk di hamparan pasir putih, menatap kosong laut yang tenang dengan perasaan gelisah.
Entah perasaan apa yang tiba-tiba muncul di hatinya itu. Biyan menemani Akira, berharap bisa menenangkan wanita di sampingnya. Namun, hati Akira seperti di hinggapi sesuatu yang berat, dan itu telah menguasai seluruh pikirannya, hingga tak memperdulikan apapun, termasuk Biyan.
Akira tak pernah memiliki pemikiran bahwa Biyan akan menyimpan rasa di hatinya. Yang dia tahu, kasih sayang Biyan adalah kasih seorang Kakak. Tapi, cinta memang tak pernah tahu bagaimana caranya memilih. Hingga bunga itu, tiba-tiba saja mekar dan merekah. Biyan tentu tahu di mana batasannya, apalagi dia tahu, yang dirasakannya adalah salah.
Tanpa Biyan dan Akira sadari, Dika melihat mereka berdua dari arah belakang. Meski Akira tak merasakan apapun, tapi Dika tetap saja merasa ada sesuatu antara keduanya.
__ADS_1
Dika mendekati Akira. Biyan mau tidak mau meninggalkan suami istri yang sepertinya akan memulai peperangan dingin itu.
"Ra, kamu gak akan berpikiran aneh-aneh antara aku dan Aida bukan?"
"Entahlah, Ka," jawab Akira yang sama sekali tak menoleh ke arah Dika.
Dika menggenggam tangan Akira, dia sangat tahu, istrinya ini tidak sedang baik-baik saja. Dia bingung harus berbuat apa, dia sadar benar tabiat istrinya, yang jika marah hanya bisa diam dan tak mau melihat wajahnya. Diam seribu bahasa.
Tak pernah ada yang bisa membujuknya. Tidak Rean, mantan suaminya, ataupun dirinya.
Akira adalah wanita yang selalu memendam perasaannya, menyimpan semuanya sendirian. Tapi itulah yang paling menakutkan. Dia yang tak pernah mau memaki, tak pernah mau mendebat, ibarat badai taunami, yang mampu menerjang kapanpun tanpa aba-aba. Dingin dan menakutkan.
__ADS_1