CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Hanya Nasi goreng


__ADS_3

Setelah Hiroaki memberikan kecupan manis di keningku, darahku berdesir hebat. Aku mendaratkan sebuah ciuman manis di bibirnya. Memberikan ******* lembut, hingga menjadi semakin dalam. Dia mencium leherku, dan meninggalkan kissmark di sana.


Aku melapaskan kaus yang melekat di tubuhnya. Memberikan ciuman di pundaknya. Tangannya menelusup ke dalam pakaian yang aku kenakan. Tanpa sadar bibirnya mengucapkan kata:


"Aku mencintaimu, Akira."


Aku tersentak dan sadar. Bukan Kara yang ada dalam bayangan Hiroaki, tapi aku.


"Akira?" tanyaku padanya.


"Maaf Kara, aku masih belum bisa melupakannya," ucapnya yang membuatku menghentikan kegiatan kami.


Aku baru menyadari, yang kami lakukan tadi, Hiroaki membayangkan melakukannya denganku, bukan dengan gadis ini. Perlahan aku turun dari pangkuannya.


"Aku mengantuk Hiroaki, aku mau tidur."


Hiroaki memaklumi keadaanku. Padahal bukan itu yang aku maksud, hingga aku menghentikan kegiatan kami. Tetapi, karena aku sama sekali tak ingin menghianati Rean. Meski yang melakukan ini adalah tubuh Kara. Tetapi, jika hal tadi tetap aku lakukan, maka aku sendiri yang akan menikmatinya. Bukan Kara.


Aku berbaring di sisi ranjang. Hiroaki menutupi tubuhku dengan selimut. Dia tidur disisi ranjang satunya dan memeluk tubuhku dari belakang.

__ADS_1


Rasa bersalah benar-benar menjalar di tubuhku. Pria yang ada di sampingku ini adalah pria yang sangat aku cintai dulu. Tapi, kini dia milik orang lain. Aku tak punya hak apapun atasnya.


Disisi lain, ada seorang pria yang menjaga ragaku siang dan malam. Sendirian, dengan berjuta masalah yang pasti hanya dia sendirian yang harus menanggungnya. Tanpa ada tempat untuknya bercerita. Apa yang sedang dia rasakan saat ini? Apakah dia makan dengan baik? Apakah ada yang akan memeluknya saat dia lemah.


Akh! mengapa takdir ini membuatku begini menderita. Dia yang bukan suamiku, harus tidur di sampingku. Sedangkan Rean harus tidur di sisi ranjang hanya untuk menjagaku agar tetap hidup. Dia bahkan tak membiarkan suster mebersihkan tubuhku. Dia sendiri yang mengambil alih tugas itu.


Tuhan, Aku ingin kembali pada Rean.


Berikan aku kesempatan, aku berjanji akan mencintainya dan memperbaiki hubungan kami.


Tanpa terasa air mataku meleleh jatuh dari sudut mataku. Membasahi bantal di bawah kepalaku.


"Maaf Kara." ucapnya sambil mengecup keningku dengan lembut, membenamkan kepalaku ke dadanya. Membiarkan air mataku tumpah seluruhnya.


"Aku akan belajar mencintaimu dan melupakan Akira."


Mendengarkan ucapannya, membuatku semakin mengalirkan air mata.


Hiroaki melepaskan sendiri pakaiannya. Menciumku dengan lembut, sebelum tangannya ingin melepaskan pakaianku, aku menahannya.

__ADS_1


"Aku belum siap, maaf." Sungguh aku tak mampu lagi meneruskan ini, batinku terlalu lelah berperang dengan dilema.


Aku bangun. Melangkah keluar dari kamar menuju dapur, membuka lemari pendingin, mengambil sebotol air mineral. Meneguk isinya, mendinginkan otakku yang sedari tadi berperang melawan perasaan yang terus saja bergemuruh.


Hiroaki menyusul, memeluk tubuhku dari belakang, dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi.


"Kamu lapar? aku akan membuatkan nasi goreng spesial untukmu," ucap Hiroaki.


Dia mengeluarkan daun bawang, telur, ikan bawal kering, cabai, tomat dan kubis.


Dengan cekatan dia membersihkan semua bahan kecuali telur dan ikan di bawah kran air.


Memotong sayuran, memblender bumbu. Memanaskan minyak, mulai memasukan bumbu, ikan bawal kering, nasi putih, garam, gula, dan kecap manis.


Aromanya yang harum, semakin membuat perutku keroncongan. Sepiring nasi goreng akhirnya tersaji di hadapanku, beserta telur dadar sebagai pelengkap.


Aku akan selalu mengingat malam ini Hiroaki, mungkin, ini adalah malam di mana kita bisa mengulang kembali kebersamaan kita, sebelum suatu hari kelak, kita dipisahkan oleh hubungan yang yang bukan takdir kita.


Malam pertama kami akhirnya hanya makan nasi goreng dan bercerita banyak hal. Hingga kami lelah dan terlelap.

__ADS_1


__ADS_2