
Kedai sudah tutup, hanya tinggal Aida dan Gibran.
Sikap Aida memang agak sedikit ketus pada Gibran, sebab Gibran memang sedikit usil dan nyebelin.
"Ai, kamu ini umurnya berapa sih? kok muka kamu udah tua gitu?" ucap Gibran yang memang sengaja meledek Aida untuk mencari perhatiannya.
"Tujuh puluh tahun!"
Hahaha, Gibran tertawa mendengar jawaban gadis di depannya.
"Wah, aku panggil nenek boleh?"
Aida mengacuhkan pertanyaan Gibran. Di tampak sedikit malas meladeni candaan Gibran yang garing itu. Dia masih sibuk menata kursi dan membersihkan lantai. Sementara Gibran menghitung uang dan struk pembayaran dengan kartu, seperti amanah yang dititipkan Dika.
"Eh, ngapain sih elu disini? udah gitu cuman duduk aja gak bantuin gua, noh liat, cucian gelas banyak."
Hahaha, Gibran kembali tertawa. Bisa-bisanya gadis ini nyuruh dia buat nyuci piring. Di rumah aja, Kak Asma gak pernah nyuruh dia buat nyuci piring.
"Eh, ngapain bengong? pendengaran lu masih waras kan?"
__ADS_1
"I-iya," Gibran gelagapan. Baru kali ini ada cewek yang berani ngatain dia. Kalau itu di kampus, udah dia selesaiin tuh tugas buat ngeksekusi tuh cewek sampai minta ampun.
Gibran dengan manutnya, nurutin perkataan Aida. gegas buat nyuci gelas-gelas, sambil terus monyongin tuh mulut.
"Nah, gitu donk, kan sedikit ada gunanya lu di sini."
"Eh, cewek tengil! kenapa sih, lu galak bener sama gua? kenapa kalau sama Dika, lu manis!" ucap Gibran kesel.
"Suka-suka gua,"
Gibran memang sudah tertarik dengan Aida sejak pertama ketemu. Hanya karena Aida lebih menyukai Dika sehingga dia tak pernah menghiraukan Gibran.
...----------------...
"Ka, ganti filmnya donk, jan yang kek gitu. Kartun kek, komedi kek, atau acara musik."
Setelah mendengarkan ocehan kecil istrinya, Dika malah makin semangat ngerjain istrinya ini. Dia membuka ke dua tangan yang menutupi wajahnya.
"Udah, adegannya udah ilang," ucap Dika berbohong.
__ADS_1
"Beneran, udah lewat adegannya?" ucap Akira sambil membuka matanya satu persatu.
Akira tambah kesel, karena ternyata adegannya masih sama.Dia tampak kaget dan sedikit merajuk.
"Udahlah, kalau gini terus, aku mau bobok aja!" ucap Akira seraya bangkit dari tempat duduknya.
Dika menahan tangan Akira, agar tak pergi meninggalkannya, hingga Akira jatuh terduduk di paha Dika.
"Ayolah, Ra. Ini kan cuman adegan film. Kenapa malu? bukankah kita sudah sering melakukannya?"
"Justru karena itu, aku justru malu, karena nonton sama kamu." jawab Akira seasalnya.
Dika mendekatkan wajahnya pada wajah Akira, hingga membuat Akira menelan salivanya dengan kesusahan.
Lalu dengan reflek Akira menutup mulut Dika dengan telapak tangannya.
"Jan macam-macam ya. Nih, kalau mau coba-coba lagi," ucap Akira sambil mengacungkan kepalan tangan di wajah Dika.
Dika malah memberikan pipinya untuk dipukul oleh Akira pasrah.
__ADS_1
"Udah, ah, Ka."
Akira langsung bangkit dari paha Dika, dia berjalan menuju kamar, tapi malah Dika mengejarnya dan memegang pergelangan tangannya, Dika membawa Akira menuju kamarnya, kemudian menutupnya dari dalam.