CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Bertemu Khadijah


__ADS_3

Tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Jika pernikahanku akan menjadi cerita yang baru.


Dahulu kupikir, aku mencintai Hiroaki. Namun setelah pernikahan ini, semua menjadi sebuah pertanyaan.


Benarkah, aku mencintai Hiroaki selama ini? Ataukah, rasa ini hanya keinginan untuk selalu bersama saja? Jika aku memang benar-benar mencintainya, mengapa aku memilih jalan ini hanya demi kewarganegaraan? bukankah, jika aku mau berjuang, aku bahkan bisa mengambil kesempatan menjadi pengharum nama bangsa ini melalui prestasi dalam cabang olah raga bukan? toh, selama ini, aku dan Hiroaki sudah sama-sama bekerja sangat keras untuk bisa menggeluti cabang olahraga, agar dapat mengikuti olimpiade, hingga bisa mendapatkan kewarganegaraan indonesia?


Ah, entahlah. Persahabatan kami semenjak kecil ini, apakah hanya menimbulkan perasaan untuk saling menjaga satu sama lain agar tidak berpisah saja? dan bukan perasaan cinta seperti yang kami pikir selama ini?


🍃🍃🍃


Pagi ini, sebelum berangkat kuliah, aku ingin mampir ke kafe dulu. Mengecek stok barang dan pembukuan.


"Re, nanti kamu antar aku dulu ke kafe ya sebelum kuliah? Aku ingin mulai mengecek keadaan di sana."


"Hem." Ucapnya sambil mengunyah roti isi, dan meneguk segelas susu.

__ADS_1


Rean tampak sibuk memeriksa beberapa dokumen yang harus dia pelajari. Sebab sekarang, dia punya aktivitas ganda. Mengurus hotel milik Papanya, dan kuliah. Kepalanya, saat ini pasti sama pusingnya denganku.


Beruntung, Om Andrian selama ini selalu membantu Rean mengurus hotelnya, dan aku dibantu kak Soffia untuk mengurus kafe.


Badan kami benar-benar lelah menjalani aktivitas yang tergolong baru bagi kami. Sama sekali tak ada pengalaman sedikitpun.


Rean mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Beruntung jalan masih lenggang, karena masih sangat pagi.


Kami memang segaja memulai aktivitas lebih pagi dari orang-orang kebanyakan. Karena kami tidak ingin terjebak macet, karena kami memiliki tiga lokasi untuk di datangi. Kafe, hotel dan universitas


Kafe dan hotel memang berdekatan. Namun tetap saja menghabiskan banyak waktu untuk menjangkau ketiganga.


Aku tak menghiraukan pintanya. Berlalu meninggalkan dia yang masih saja menungguku untuk mengabulkan keinginan bodohnya.


Brak!

__ADS_1


Sebuah mobil sedan menghempaskan tubuhku. Membuatku melayang hingga ke jatuh membentur aspal. Tak mampu kurasakan tubuhku. Hingga semuanya menjadi gelap.


Aku berkelana menjelajahi sebuah ruang bercahaya putih tanpa sekat. Tak ada siapapun, tak ada apapun. Hingga samar-samar kulihat sesosok gadis berwajah sama sepertiku. Dia mengulurkan tangannya dan tersenyum ke arahku.


Kamu akan hidup dalam sebuah raga lain, yaitu dalam ragaku yang kutinggalkan. Dan Aku akan menjaga ragamu, agar tetap hidup. Bantulah aku menyelesaikan sisa masalahku. Karena itu adalah takdir milikmu. Hingga tiba pada batas waktunya, kamu akan kembali pada ragamu, Setelahnya, aku akan siap meninggalkan dunia ini.


Aku terjatuh pada lorong waktu, hingga semua menjadi kembali gelap, pengap tanpa suara.


🍃🍃🍃


Sebuah panggilan menggema di telingaku.


Kara ... Kara ... Kara ....


Bangunlah sayang, Kak Dijah rindu dengan tawamu.

__ADS_1


Suara itu begitu lembut. Setetes air serasa membasahi punggung tanganku. Berganti dengan sebuah kecupan. Sebuah tangan halus mengusap anak rambutku. Merapikannya dengan penuh kasih.


Ingin sekali aku membuka mataku, tetapi kelopak mata ini enggan untuk terbuka. Berat sekali rasanya. Seolah-olah ada lem yang melekat. Sehingga mata ini benar-benar menempel dengan sempurna.


__ADS_2