
Setelah mengantar pesanan, Dika mengirimkan Akira, karena tak mendapati dia berada di kedai.
tring
"Kamu di mana? Ra?"
"Aku bersama Om Biyan, ada urusan sebentar. Um ..., Ka sepertinya aku akan pulang sore, gak apa, kan?
" Iya, gak apa. Kalau kamu pergi dengan Om Biyan, aku tenang, Ra. Ya, sudah, aku mau lanjut kerja."
pip
Hati Akira sebenarnya diliputi kegundahan. Takut apa yang dilakukan salah. Dia harus menjaga perasaan Dika, tetapi, dia juga tak tega meninggalkan Rean sendirian dalam keadaan seperti itu. Yang satu adalah cintanya, sedang yang lain adalah pengabdiannya.
"Om Biyan, aku harus bagaimana, Om? sisi satu, ada orang yang aku cintai berada di ambang maut, sedang sisi lainnya, adalah kehidupanku. Aku bukan orang yang akan berselingkuh, tapi, aku khawatir, jika nanti rasa cintaku pada Rean semakin dalam, dan itu akan membuatku semakin banyak terluka, tapi, aku takan tega meninggalkannya dalam keadaan sekarat seperti ini?"
"Kalau dalam kaca mata agama, jelas yang kamu lakukan adalah salah, tetapi, jika di mata kemanusiaan, mungkin inilah yang terbaik. Om rasa, kamu harus membicarakannya dengan Dika. Om takut, jika suatu saat kelak, akan ada salah paham diantara kalian."
"Iya, Om."
"Gini aja, Ra, besok minggu, kami sekeluarga rencananya mau ke pantai anyer, Om tadi ketempat kamu karena Bunda berpikir untuk mengajak kalian. Mungkin, nanti, kamu bisa bicara baik-baik dengan Dika di sana."
__ADS_1
Akira mengangguk. Mereka pamit pulang pada Khadijah, meninggalkan Rean yang masih tertidur karena efek obat yang tadi dia minum.
"Ra, boleh Mbak minta no ponsel kamu? Mbak khawatir, jika nanti Rean siuman dan menanyakan kamu, Mbak harua jawab apa."
Akira pun memberikan no ponselnya, agar tahu perkembangan kesehatan Rean.
Selama perjalanan pulang, Akira nampak diam dan tak banyak bicara.Biyan membelokkan motornya ke arah pantai.
"Om, kita mau ke mana?"
"Udah, ikut ja. Kayaknya kamu butuh tempat untuk meluapkan kesedihanmu."
Kami duduk di atas pasir, menyaksikan bocah-bocah berteriak kegirangan sambil bermain layangan. Mereka tampak begitu gembira. Tiba-tiba sebuah bola menggelinding ke arah Akira.
Gadis itu tampak takut untuk meminta bolanya. Hingga Akira bangkit dan memberikan bola itu padanya.
"Ini milikmu? siapa namamu?" sapa Akira sambil berjongkok di hadapannya.
"Alya," jawab gadis kecil itu singkat.
Dia kembali asik bermain bola bersama ayah dan ibunya.
__ADS_1
"Ra, kemari, pegang tali layangan ini. Om mau beli minuman dulu."
Akira mendekat ke arah Biyan. Mengambil tali layangan yang telah menerbangkan layangan besar berbentuk kapal. Biyan itu orangnya unik. Meski dia adalah seorang dosen di universitas muhamadiyah, dia tak suka mengenakan pakaian yang rapi, necis dan resmi. Dia lebih suka mengenakan kaus berlengan pendek, dengan celana tanggung seatas mata kaki. bukan panjang, bukan pula pendek, dia suka mengikat kebelakang rambutnya yang panjang sebahu itu.
Biyan memberikan air mineral pada Akira.
"Om, jangan becanda deh, tangan aku kan lagi pegangin tali layangan, gimana mau minum cobak?"
Biyan hanya cengingisan, dengan santainya dia duduk di atas pasir sambil meneguk air mineral di tangannya. Dia menatap ke arah pantai, seolah-olah tak peduli dengan Akira yang sedang kerepotan memegang tali layangannya.
"Ooom, ni layangannya, gantian Om donk yang pegang, aku capek nih."
Biyan hanya tersenyum kecil, tanpa peduli dengan ocehan Akira.
"Kamu tahu Ra, layangan itu, ibarat adalah kamu. Yang sekarang sedang terombang-ambing oleh angin. Berat, penuh beban, tapi dipaksa untuk setabil dan tetap tenang agar tidak putus dari benangnya. Jika kamu membiarkannya bergesekan dengan benang lainnya, ada dua kemungkinan yang terjadi. Putus, lalu terbang jauh entah kemana, atau tetap bertahan namun dengan menahan besarnya hempasan angin yang siap melambungkannya sampai tinggi."
Akira hanya mampu diam. Mendengar setiap perkataan Biyan. Hingga, tiba-tiba sebuah layangan tersangkut di benangnya, dan memutuskan layangan yang di pegang Akira. Seorang remaja mendekati Akira, dan meminta maaf untuk kelalaiannya menjaga layangan miliknya. Namun, Akira hanya tersenyum dan mengatakan "Tidak apa-apa."
"Om, lihatlah, itu adalah jawabannya. Benangnya terlalu rapuh, hingga dia memisahkan antara benang itu dengan layangannya."
Matahari menunjukan pada alam isyaratnya, bahwa dia akan pulang menuju peraduannya, namu tetap tanpa beristirahat, dan terus bersinar tanpa lelah. Berganti dengan Sang bulan yang begitu tenang dan pendiam.
__ADS_1
"Sudah sore, kita pulang, Om, dah sore, taku Bunda dan dika nyariin."
Biyan mengangguk dan menyetujuinya. Kemudian melajukan motornya menuju kedai kopi.