
Tiga tahun sudah kami mengurus Dika. Dia tumbuh menjadi remaja dengan paras menawan. Hampir setiap hari, ada saja anak perempuan yang menghubunginya lewat telepon.
Kadang-kadang aku gemes melihat kelakuan bocah satu di rumahku ini. Gadis-gadis yang bertandang ke rumahku itu, kebanyakan berparas ayu dan menawan, tapi bocah satu ini, selalu saja menyuruhku untuk berpura-pura membawakan camilan, lalu dia akan mengatakan aku ini kekasihnya. Konyol memang tingkahnya. Rean pun terkadang terpingkal melihatku, selalu dijadikan tameng untuk menolak gadis-gadis cantik yang datang mencari Dika.
"Ra, kamu pacaran sama berondong?" ledek Rean yang sedang duduk di kursi belakang, sambil menikmati secangkir teh hangat.
"Sembarangan! Ini semua karena adik angkat kamu tuh, yang selalu saja menjadikanku alasan untuk menolak gadis-gadis. Tapi, ya, mau gimana lagi, aku selalu tak berdaya menolak permintaan konyol Dika."
__ADS_1
"Sudahlah, Ra, mungkin Dika memang tak ingin dekat dengan para gadis, karena memang dia hanya ingin fokus bersekolah."
Aku hanya mengangguk menanggapi komentar Rean, yang kupikir memang ada benarnya.
Kehidupan kami, memang menjadi sedikit lebih berwarna karena kedatangan Dika di rumah ini. Kami benar-benar seperti memiliki anak yang sudah beranjak remaja.
Dika termasuk anak yang cukup berprestasi dan selalu menjadi juara kelas. Meskipun Dika bukan adik kandung kami, tetapi kami selalu memperlakukan dia layaknya adik kandung. Apa yang kami miliki, dia pun akan mendapatkan yang sama. Hak yang kami berikan, juga selayaknya adik kami sendiri.
__ADS_1
Terkadang, dia terbangun di malam hari. Aku melihatnya khusuk membaca ayat suci dengan memelankan suara. Tiap kali aku mengambil air minum.
Beruntung sekali, aku dan Rean diberikan kesempatan untuk memiliki adik sepertinya. Aura di rumah ini, juga tampak lebih tenang dan damai sejak kehadirannya.
Dika anak yang sangat patuh dan penurut. Tidak pernah membuat kami repot. Hanya satu sisi yang kurang aku sukai darinya, dia suka balapan liar bersama teman-temannya. Pernah suatu ketika, dia terjatuh dan hampir saja kehilangan nyawa. Beruntung, golongan darahnya sama denganku, sehingga saat itu dia tertolong. Jika tidak, entahlah apa yang akan dialaminya saat itu, karena stok darah untuk golongan O saat itu sedang kosong.
Dika bukan anak nakal sebenarnya, hanya saja dia suka menghasilkan uang dari lomba balapan, dari pada meminta banyak uang untuk keperluan sekolahnya. Dia juga sering bertanding basket untuk mendapatkan uang tambahan.
__ADS_1
Rean dan aku, tentu tak akan keberatan membiayai seluruh kebutuhan hidup dan pendidikannya. Tetapi Dika selalu bersikukuh untuk tak terlalu merepotkan kami. Baginya, Dia pun ingin menjadi orang yang mandiri. Dia takut jika terlalu bergantung pada kami, nantinya saat dia harus kehilangan kami, semua akan menjadi terasa lebih berat dari yang dibayangkan.
Kami juga tak bisa melarangnya, untuk melakukan segala yang dia sukai. Apapun itu. Seperti saat dia memutuskan untuk bekerja sebagai barista di kedai kopi milikku. Dia mau, aku memperlakukan dia sebagai karyawan, bukan sebagai adik dan meminta gaji yang sesuai dengan pekerjaannya sebagai peracik kopi.