CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Keputusan


__ADS_3

Pukul 15.00, aku duduk di kursi teras. Sendirian menatap kosong tanpa tujuan.


"Assalamualaikum," sapa seorang wanita yang suaranya terasa akrab di telingaku.


"Wa'alaikumussalam. Kak Khadijah?"


"Iya, Ra, aku Khadijah. Boleh Kakak duduk?"


Aku mengangguk. "Silahkan Kak"


"Aku datang untukmu Ra. Rean mengatakan, kalau kamu berpisah dengannya? apakah karena aku?"


Aku diam. Mulutku benar-benar terkunci. Jika membahas tentang Rean, aku merasa ada belati yang menancap dalam di jantungku.


"Ra, aku tak akan menikah dengan Rean. Kami tidak saling mencintai. Jikapun Rean meminta untuk menikah denganku, itu hanya bentuk rasa kasihan."


Aku masih diam tak mampu memberikan tanggapan. Wanita ini, hampir kehilangan segalanya, sama seperti ku. Wajahnya tak lagi secantik dulu, Banyak bekas luka di sana. tangannya yang dulu begitu halus, kini berubah. Dengan bekas luka menghitam memenuhi punggung tangannya. Aku bahkan tak bisa membayangkan luka dibagian yang lainnya separah apa.


Meski merasa simpati padanya. Tetapi dalam hatiku, masih belum ikhlas untuk menerima, jika Rean pernah meminta untuk menikahinya.


Meskipun untuk kembali pada Rean, adalah sesuatu yang sangat mustahil sekarang bagiku. Tapi, apakah salah jika masih tersimpan rasa kecewa yang begitu mendalam di hatiku ini?


Aku masih ingat dengan jelas, saat Rean bersimpuh dan memintaku berbagi ranjang dengan wanita di hadapanku ini. Meskipun Rean tetap tak menikahinya, tetapi ada rasa takut yang tetap menghinggapi, rasa buruk sangka akan dihianati.


Aku tak mau hidup dalam bayang-bayang penghianatan yang akan selalu berputar di pikiranku ini jika aku kembali padanya.

__ADS_1


"Kak, maaf, aku sedang tak enak badan. Boleh, jika aku minta Kak Khadijah untuk pulang sekarang? aku sedang banyak sekali masalah, jadi sedang tidak minat untuk mendengarkan apapun tentang Rean."


"Baiklah, Kakak pamit. Tetapi, sebelum Kakak pergi, cobalah untuk memikirkannya sekali lagi, apakah kamu benar-benar tak ingin kembali pada Rean?"


"Tunggu, Kak, aku ingin bertanya satu hal,"


"Apa?" jawabnya.


"Kakak bukan orang tak punya, mengapa Kakak tak melakukan opersi plastik untuk menghilangkan bekas luka Kakak? Apakah Kakak menunggu Rean untuk selalu merasa bersalah hingga akhirnya menikahi Kakak?"


Dia tersenyum.


"Bukan, Ra, ini semua sudah bagian dari taqdir yang harus Kakak jalani. Kakak takan meminta Rean untuk menikahi Kakak, sebab, jika Kakak menghitung kerugian yang terjadi padamu dan Rean, musibah Kakak masih belum seberapa. Dan jika Kakak mengambil Rean darimu juga, maka Kakak tak akan bisa memaafkan diri Kakak, Ra."


Drrrt, drrrt


"Ya, Ka, ada apa?"


"Aisyah hari ini tak bisa menemani kamu. Ibunya sakit katanya. Kamu berani kan, tinggal sendiri untuk satu minggu ini?"


"Ra ..., kamu masih di situ kan?" tanya Dika di seberang sana.


"Um ... iya, Ka."


pip

__ADS_1


Aku mematikan ponsel sepihak.


Sesepi ini kah hari-hari yang nanti akan aku jalani? tanpa siapapun?


Rasanya sangat sesak sekali, jika aku membayangkan masa di hadapanku.


Suara deru motor yang sangat aku kenal ini, memasuki halaman. Dika membuka sendiri pintu gerbang, karena aku memang sedang malas untuk membukakannya.


"Ra, ayo ikut."


Dika menarikku menuju motor nya.


"Mau kemana, Ka?"


"Sudah, ikut saja dulu."


Dika memasangkan helm di kepalaku, dan memastikan telah aman.


"Ka, aku belum pakai gamis longgar, dan ini kerudungku juga masih memakai pasmina kecil. Kita mau kemana?"


Saat pertama kali aku mengenakan pakaian muslim, Dika selalu saja protes, tiap kali aku mau keluar rumah tanpa mengenakan gamis dan kerudung longgar, tapi ini, aku hanya mengenakan kaus oblong putih dan celana besar dengan warna senada, dia tak protes sedikitpun.


Dika tetap melajukan motor nya, tanpa banyak bicara, Jalanan terasa lenggang, karena hari memang sudah petang, hanya sorot lampu mobil yang sesekali melintas, dan menerangi jalan.


Setelah perjalanan yang cukup lama. Akhirnya kami sampai pada sebuah penginapan.

__ADS_1


__ADS_2