
Hari ini adalah hati natal. Ayah Rean datang untuk melamar kakak-ku Rea.
Pertemuan kali ini, adalah mendekatkan Rean dan Kak Rea. Terlihat jelas kebencian di mata Rean terhadap Kakak-ku.
Aku membawakan nampan berisi camilan dan jus, untuk menghangatkan obrolan kami.
"Silahkan Kak, Rean, diminum jusnya"
"Ini, pasti Akira, ya."
"Iya, Kak."
"Kamu, sekokah di SMU xx kan? berarti kamu satu sekolah dengan Rean, dong?"
"Iya, Kak, kami satu sekolah, bahkan satu kelas,"
Hiroaki keluar kamar, dan langsung menyalami Rean dan Kak Darmawan.
"Siang, Kak," sapa Hiroaki.
"Siang, ini Hiroaki ya?, kamu juga kenal Rean kan?"
"Iya, Kak."
"Pah! aku akan menyetujui pernikahan ini. asal, aku diizinkan untuk indekos bersama Akira. Aku gak mau tinggal satu rumah dengan istri baru Papah! " ucap Rean tiba-tiba.
"Rean, apa-apaan kamu?"
Pokoknya kalau aku, Akira tak diizinkan Indekos, pernikahan ini tidak akan aku setujui!"
"Rean!"
__ADS_1
Kak Rea tampak menggenggam tangan Ayah Rean, untuk membuat beliau tenang.
Aku juga bingung, bsgaimana menghadapi Rean yang seperti ini.
"Gak pa-pa kok, Kak, aku dan Hiroaki akan ikut indekos bareng sama Rean. Boleh kan, Kak Rea?"
"Tapi ..."
"Gak pa-pa ,Kak, aku gak keberatan kok. Kan ada Hiroaki juga. Kak Rea gak usah khawatir."
Akhirnya Kak Rea pun setuju.
"Baiklah. Papa izinkan."
Setelah itu tak ada lagi perdebatan. Hanya ada hening di ruangan 6×6 meter ini dan mereka pamit untuk pulang.
***
"Rean!, " panggil Ayah Rean yang tampak panik, saat Rean bergegas meninggalkan rumahku.
"Tak apa Kak, nanti, Akira yang akan menjaga Rean," ucapku menenangkan Ayah Rean.
Aku membantu Rean untuk memindahkan barang-barangnya ke tempat indekos kami. Setelah semua selesai, tiba-tiba Rean memelukku.
"Akira, jangan tinggalkan aku," pinta Rean.
"Iya," jawabku menenangkannya.
Rean memintaku menginap di temptnya malam ini. Lagipula sekarang kami bersaudara. Apa yang aku takutkan?
Aku tahu, Rean tak bisa masak. aku membuatkan mi instan, untuk makan malam. Tak lupa aku tambahkan telur dan sayuran. Dia makan dengan lahap sekali. Aku juga membelikannya beberapa botol susu cair, roti tawar, dan selai aneka rasa di swalayan tadi. Aku yakin Rean tak sempat memikirkan makanan apapun. Dia meninggalkan rumah setelah acara akad nikah selesai.
__ADS_1
Malam semakin larut. Rean belum juga tidur. Dia masih asik dengan gitarnya. Jari-jarinya dengan luwes memainkan lagu-lagu melow. Hatinya mungkin sangat sedih saat ini.
"Akira, tidurlah dulu, aku akan tidur sebentar lagi."
Aku memang sudah sangat mengantuk dan tak tertahankan rasanya, sejak Rean memberiku jus jeruk tadi. hingga aku bergegas masuk kamar dan tidur.
Hingga saat pukul tiga pagi, seperti ada sebuah beban yang menindihku. Aku bangun dengan darah yang benar-benar mendidih. Rasa marah menguasaiku. Dia tidur dengan memeluk tubuhku dan dengan bertelanjang dada.
"REAN!! kamu gila ya!. Kenapa kamu tidur di sini?!"
Aku menendangnya hingga jatuh.
"Jangan berlebihan Akira, Aku hanya tidur di sebelahmu, lagi pula rasa bibirmu manis sekali Akira. Tenang, aku tak menikmati bagian yang lainnya kok. Sumpah! Tadinya sih, aku hampir khilaf. Tapi, kupikir rasanya pasti tak akan nikmat, jika kamu dalam keadaan tak sadar karena obat tidur yang kamu minum, tadi."
Plak!
Sebuah tamparan aku layangkan ke pipi kanannya.
Rean tampak marah, kemudian mendorong tubuhku sampai ke dinding.
"Dengar Akira! kalau aku mau, aku bisa melakukannya tadi malam. Dan setelahnya, hidupmu pasti akan hancur. Seperti kakakmu yang sudah menghancurkan hidupku! aku benci ksmu dan Kakakmu!"
Aku melayangkan kembali tanganku untuk menamparnya sekali lagi, tapi rean mampu menepisnya. bahkan mengunci tubuhku ciuman mendarat dengan kasar, Rean seperti sudah kehilangan akal. Otaknya mungkin sudah sedikit rusak.
Aku menendang selangkangkangannya dengan lututku, kemudian mendorongnya hingga jatuh.
"Rean! ini keterlaluan! sekarang aku sadarimu. Kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti ini?"
"BUKAN! Kamu bukan saudariku! kita tak punya hubungan ! dan sampai kapanpun, aku tak akan mengakuimu sebagai saudaraku! ingat itu Akira! "
"Kamu memang sudah gila!." aku segera meninggalkannya dan kembali ke tempatku dengan hati yang benar-benar kecewa.
__ADS_1