CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Akira hamil


__ADS_3

Akira bangkit dari ranjangnya. Dia menolak untuk bermesraan dengan Dika. Bukan karena tidak ingin, tetapi tiba-tiba saja degup jantungnya begitu cepat dan tak beraturan. Akira malu, jika sampai Dika mendengarnya.


Akira membisikan sesuatu di telinga Dika.


"Aku lagi halangan. Maaf. HAHAHA" Akira berjalan menuju pintu yang masih tertutup. Namun sebelum tangannya meraih gagang pintu, Dika sudah mendapatkannya, memeluk pinggangnya.


Mereka berdua bercanda dengan gembira. Dika menggelitiki pinggang Akira sampai si empunya pinggang teriak-teriak karena kegelian.


Dika tahu, Akira hanya berbohong. Sebab, tak hanya satu dua-kali dia menggunakan itu sebagai alasan untuk menolaknya. Namun, Dika tak pernah marah sekalipun. Dia tahu, bahwa istrinya sangat takut untuk melakukan hal itu dengannya, dan dirinya harus selalu memaklumi itu.


Mereka berkejaran seperti anak kecil. Dika menggendong Akira, seperti sedang menggendong anak-anak. Saling memukul menggunakan bantal, saling melempar selimut, hingga keadaan kamar sudah seperti kapal yang pecah. Sampai mereka mereka kelelahan, dan merebahkan tubuh mereka di atas ranjang, kemudian tertidur dengan sangat pulas. Dika menjadikan lengannya sebagai penopang kepala Akira, dia ingin istrinya ini nyaman tidur dalam dekapannya.


...----------------...


Cit cit cit


Suara burung membangunkan mereka. Selepas salat subuh tadi, mereka tertidur lagi. Sebab, mereka masih sangat mengantuk.


"Ra, bangun."


Dika menggerakkan tubuh Akira beberapa kali, namun Akira masih enggan untuk membuka mata, dan malah makin mengeratkan pelukannya pada tubuh Dika.


"Huum."


"Kita mau lari pagi keliling persawahan kan?" ucap Dika mengingatkan rencana semalam, bahwa pagi ini Akira ingin berkeliling desa.


Akira menggeliat, di mata Dika, Akira saat ini begitu sangat menggemaskan. Akira tampak menggerak-gerakan tubuhnya karena merasa tak nyaman, karena sinar matahari menelusup ke ruang itu melalui kaca jendela kamar. Dika menutupi sinar itu dengan tangannya, agar Akira merasa nyaman dan tidak terganggu. Dika semakin gemas melihat Akira yang masih bergeliut dalam selimut. Hingga tanpa sadar, Dika mengecup kening Akira dengan lembut. Membuat Akira membuka matanya sambil tersenyum manis, semanis lelehan cokelat.

__ADS_1


"Pagi, Tuan putri, " sapa Dika pada wanita di sampingnya, yang sedang pelan-pelan membuka mata. Mengumpulkan nyawanya yang tadi habis berkelana.


"Pagi," jawab Akira dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Dika mendudukan Akira, kemudian duduk di pinggiran ranjang, sambil menggerakkan kedua tangannya di belakang pinggang, menata punggungnya untuk siap menggendong Akira. Akira sudah hapal kebiasaan suaminya beberapa hari ini. Dia sangat memanjakan dirinya. Akira pun dengan manja meletakkan lengannya melingkari leher Dika.


Dika menggendong istrinya menuju kamar mandi untuk menyikat gigi dan membasuh wajahnya. Setelahnya mereka berlari pagi, sembari mencari tukang bubur ayam untuk mengganjal perut yang kosong.


Matahari pagi ini masih tampak malu-malu memancarkan sinarnya, dia bersembunyi di balik awan berwarna kelabu. Dika menggandeng tangan istrinya itu dengan mesra.


Suara gemerisik air dari sungai yang mengikuti arus, terdengar sangat menenangkan. Pohon randu berjejer rapi di pinggiran sungai. Terlihat beberapa buah kapasnya tampak mengering, kulitnya telah terbelah, retak dan membiarkan kapuk itu bertaburan tertiup angin kemana-mana.


Mungkin ini adalah musim semi. Dimana bunga-bunga akasia berwarna pink dan kuning tampak begitu indah. Terkadang putik bunganya jatuh berserakan di atas tanah. Pohon-pohon mahoni tampak menumbuhkan daun-daun baru yang madih berwarna hijau muda.


Udaranya masih sangat sejuk dan segar. Terlihat beberapa pedagang keliling melintas, mereka menjajakan makanan kecil. Ada Bapak penjual bubur kacang hijau dan bubur ketan hitam, ada juga Ibuk penjual pecel lontong dan bakwan.


"Iki nopo, Mbah namanya?" tanya Akira pada sok-sokan fasih berbahasa jawa.


Dika tergelak mendengar pertanyaan Akira. Akira yang bingung hanya memonyongkan bibirnya dengan sebal ke arah Dika. Dia merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya, tapi, mengapa Dika tertawa?


"Yang ini namanya getuk, Ra. Ini namanya nasi kepok, terbuat dari beras ketan putih, dan parutan kelapa sebagai topingnya. Kalau ini, namanya klepon, mungkin, kalau di negara kamu, ini namanya mochi, dan ... yang satu ini, namanya lupis, rasanya manis. Nah, kalau yang ini, pasti kamu sudah tahu. Makanan kesukaan kamu yang sering aku buatkan, namanya bubur sumsum kuah kinca," ucap Dika menunjuk satu persatu jenis makanan di hadapannya.


"O," ucap Akira sambil manggut-manggut.


Dika menjadi semakin gemas melihat bibir istrinya yang monyong berbentuk huruf o.


"Kamu, mau beli yang mana?" tanya Dika.

__ADS_1


"Aku mau semuanya, boleh?" ucap Akira sambil menyuguhkan senyum mautnya yang selalu mampu meluluhkan hati Dika, membuatnya meleleh seperti ice cream rasa vanila yang sangat manis kemudian tunduk dan takluk.


Dika membeli jajanan tradisional itu banyak sekali. Menuruti kemauan istrinya yang sedanganja ini. Akira tampak sangat girang menenteng jajanan dalam kantung plastik berwarna putih, yang memang jarang sekali dia temukan itu.


Dia itu sangat suka dengan bubur sumsum yang terbuat dari tepung beras putih dan santan. Dia sangat suka dengan kuah kinca yang kental dan manis sekali rasanya itu.


Setelah melahap hanpir semua jenis jajanan yang dia beli tadi, Akira tiba-tiba mual dan ingin muntah. Dia mengeluarkan seluruh isi perutnya. Dika memijat pundak istrinya agar Akira merasa nyaman.


Wajah Akira tampak pucat, dan tubuhnya terlihat lemas. Akhirnya, setelah keadaannya sedikit lebih baik, Akira dan Dika pergi ke puskesmas untuk memeriksakan kesehatan Akira. Dika sangat khawatir jika saja, Akira keracunan makanan.


Setelah sampai di puskesmas, Akira menunggu nomor antrian. Di sini tidak ada dokter spesialis, hanya ada dokter umum.


Setelah menunggu beberapa lama, nama Akira akhirnya dipanggil masuk dalam ruangan.


Dokter membuka tirai berwarna hijau sebagai pembatas agar orang lain tidak dapat melihat Akira yang sedang diperiksa.


"Bagaimana Dok, istri saya sakit apa?" tanya Dika dengan sedikit cemas.


"Selamat ya Pak, istri bapak sepertinya sedang mengandung."


Akira dan Dika saling menatap tak percaya. Pasalnya dulu, Akira dan Rean sudah di vonis mandul dan tidak mungkin untuk memiliki anak.Lalu, bagaimana Dokter ini menyimpulkan bahwa dia sedang mengandung?


"Dok, coba periksa sekali lagi," pinta Akira yang benar-benar belum percaya. dan ingin memastikan itu bukanlah mimpi, tetapi kenyataan.


"Maaf, Mbak, mungkin untuk lebih jelasnya, anda bisa menemui dokter kandungan atau bidan. Karena saya hanya dokter umum."


Mendengar ucapan dokrer tadi, Akira bahkan tanpa sadar menitihkan air mata karena merasa begitu gembira. Dika memeluk istrinya itu, dengan sangat bahagia.

__ADS_1


__ADS_2