
Kak Rea memutuskan untuk menjual rumahnya. Kemudian membelikan rumah baru untuk aku dan Rean agar kami tak perlu membayar uang kost setiap bulan. Sementara Kak Rea akan tinggal bersama Kak Darmawan. Karena Kak Darmawan harus kembali ditugaskan di luar negeri untuk satu tahun kedepan. Rumah yang di beli oleh Kak Rea adalah rumah yang terletak persis di samping sekolah kami.
Kami juga di berikan kartu debet untuk keperluan kami sehari-hari.
Aku dan Rean dibantu oleh Hiroaki, segera pindah ke rumah baru kami. Meski rumah ini terlihat sederhana, namun jauh lebih nyaman dari pada tinggal di indekos.
Kamar mandi yang ada pada setiap kamar, akan jauh lebih memudahkan kami untuk tidak saling berebut kamar mandi. Dapurnya juga cukup nyaman yang langsung tembus kehalaman belakang rumah yang cukup asri ditumbuhi rumput hias yang dipangkas rapi. Ada dua buah kursi santai untuk menikmati makanan dan beberapa tanaman hidroponik yang tertata rapi di raknya. Ada juga kolam kecil yang diisi ikan gurami dan ikan lain untuk dapat dikonsumsi oleh kami nantinya. Ada juga empat ekor ayam petelor dan 4 ekor ayam potong yang berada dikandangnya. Juga pohon mangga yang cukup rimbun berada di tengah-tengah. Tak lupa juga ada pohon buah naga yang merambat di dinding-dinding pagar keliling, juga dua pohon ek di pinggir pagar dan dua pohon palm. Ada juga satu pohon kelapa hijau yang cukup lebat namun cukup rendah untuk dijangkau tangan di pojok pagar, beberapa pohon kelengkeng dan pohon jambu dan Alpukat.
Halaman belakang ini benar-benar tampak seperti syurga untukku. Rumah baru ini memang di kelilingi oleh area persawahan. Bahkan latar belakang dari sekolah kami memang berada di tengah-sawah. Hanya ada beberapa tempat kost di samping kanan dan kiri tempat kami. Dan perumahan yang letaknya agak jauh dari tempat kami ini.
__ADS_1
Kata kak Rea, dia sengaja membeli rumah ini. Karena merasa rumah ini jauh lebih nyaman untuk di tinggali dari tempat indekos kami di sebelah. karena selain pasar swalayan agak sedikit jauh, paling tidak kami tak akan terlalu sulit untuk menyediakan kebutuhan makan kami. Hingga kami tak harus selalu membeli roti dan makanan instan lainnya untuk kebutuhan kami sehari-hari.
Ah. Kak Rea ini, sudah seperti mau ditinggal perang saja. Sampai-sampai sudah menyiapkan amunisi yang begitu lengakap.
Kak Rea mengatakan kami harus belajar mandiri, makanya kami tidak di berikan asisten rumah tangga untuk membantu kami. Untukku mungkin adalah hal biasa. Tetapi untuk Rean, itu pasti hal baru.
Aku hanya nenggeleng mendengarkan keluhannya itu. Lalu segera memasak omelet dan mengambil jus jeruk untuk kami bertiga untuk sarapan aku, Rean dan Hiroaki. Untung dua hari ini kami libur sekolah karena tanggal merah. Jadi ada waktu untuk sedikit bersantai setelah kami menata barang-barang kami kemarin.
Aku melemparkan kaleng minuman jus ke arah Rean dan Hiroaki dan mereka menangkapnya dengan sigap. Maklum, keduanya memang adalah master- master jujitsu. Apalagi Hiroaki adalah kapten tim basket dan Rean adalah ibarat atlet panahan.
__ADS_1
Akhirnya, kami sarapan pagi dengan makanan seadanya. Hanya dengan omelet yang kusajikan.
"Eh, mumpung hari libur, gimana kalau kita ke kota, nonton di bioskop 21? Pasti seru. Mumpung kita sudah tak di urus sama nenek sihir, " ucap Rean penuh semangat.
Aku melemparkan bantal ke arah mukanya.
"Sialan! Kak Rea kamu sebut nenek sihir. Terus Kak Darmawan kamu sebut apa? kakek sihir? gitu?"
Rean tertawa puas bisa membuatku marah. Bahkan Hiroaki juga ikut tertawa membuatku bertambah kesal saja.
__ADS_1