CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Aku ingin Sepertimu, Dika.


__ADS_3

Tak ada yang lebih tenang dari suasana di danau ini. Dika mengambil ponselnya, membuka pemutar musik. Dia meletakkan satu earphone di telingaku dan yang lainnya di telinganya sendiri.


Sebuh lagu menalun dengan lembut.


"Menangislah Ra, luapkan semua rasa sakit di hatimu."


Aku menatap bocah di hadapanku ini dengan seksama. Sikapnya yang dominan jauh lebih dewasa dari umurnya. Dia menepuk bahunya, mengisaratkan bahwa dia menawarkan pundaknya untukku bersandar. Lelah sekali rasanya, bergelut dengan perasaan yang tak menentu.


"Ra, apakah kamu benar-benar akan berpisah dengan Kak Rean? jika kalian berpisah, bolehkah aku mengikutimu? kamu sendiri tahu, aku tak punya siapapun lagi di dunia ini."


Dika menoleh ke arahku meminta kepastian jawaban dari pertanyaannya.


Aku semakin bingung, membayangkan berpisah dengan Rean saja sudah membuat aku begini sakit. Lalu bagaimana, jika memang kami benar-benar harus berpisah.


"Aku gak tahu Ka, aku bahkan belum berani membayangkannya."

__ADS_1


Matahari mulai merangkak naik. dan udara, mulai memamerkan kehangatannya.


"Mau sesuatu yang baru Ra? " tanpa bertanya padaku Dika menarikku ketepian danau. dan ....


Byur,


Kami masuk ke dalam danau. Airnya terasa sedikit menghangat di terpa matahari.


"Dika! sekarang bajuku basah, bagaimana kita mau pulang?"


Ah, iya, kemarin aku sampai lupa memindahkannya ke dalam rumah.


Rasanya cukup manjur. berenang di air dingin untuk sejenak membekukan kepalaku yang sejak kemarin hampir mendidih. Dika mengambil kopi instan dan roti yang kemarin dia beli, dan belum sempat kami makan, karena insiden pertengkaran antara aku dan Rean.


Ternyata, cacing-cacing dalam perutku memang sudah murka meminta segera di beri makanan. Entah, apakah setelah hari ini, aku masih mampu bertahan untuk tetap hidup?

__ADS_1


Matahari mulai meninggi, meski tertutup rimbun daun-daun di batang pohon besar yang berjajar rapi, hangat sinarnya masih mampu sampai mengenai kulitku. Kami segera meninggalkan tempat tenang dan sunyi ini. Kembali pada alam nyata, yang siap memberikan cerita baru dalam hidupku nanti.


Dika mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Tercium bau aspal basah yang hangat. Juga aroma segar daun-daun yang sejenak diguyur gerimis. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Menyisakan warna kuning kemerahan yang indah.


"Ra, waktu sudah hampir mahrib, kita berhenti sebentar di masjid itu. sekalian mengganti pakaian di kamar mandi, juga sekalian aku ingin menunaikan salat mahrib."


Aku hanya mengangguk menyetujui ucapan Dika. Terdengar suara azan dari pengeras suara. Entah mengapa aku menemukan kedamaian dalam suara itu. Ada rasa hangat yang menjalari dadaku.


Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. mengganti pakaian, juga membasuh wajah dan tubuhku yang sudah sangat lengket. Kemudian masuk kembali dalam mobil. Meski bukan seorang muslim. Aku masih cukul malu, untuk berada di area ini dengan hanya memakai celana pendek di atas lutut dan atasan kaus berlengan pendek. Memang, aku juga mengenakan jaket milik Dika, tetapi rasanya sangat kurang sopan saja, jika aku memasuki area ibadah dengan pakaian seadanya seperti ini.


Dari dalam mobil, aku menyaksikan bagaimana orang-orang muslim beribadah. Bahkan setelahnya aku mendengar ayat-ayat suci dibacakan dengan merdu oleh anak-anak. Dika kembali setelah mengerjakan ibadahnya.


"Ra, kamu mau makan siomai? di depan masjid ada yang jualan."


"em, " ucapku sambil menganggukan kepala.

__ADS_1


__ADS_2