CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Telaga


__ADS_3

Aku mulai duduk dengan tenang. Menata hati untuk bersiap menerima kemungkinan terburuk. Meski, dalam dada ini bergejolak amarah yang bisa saja meluap, bersama lesatan anak panah berupa kata-kata tajam lagi beracun. Tapi tidak, aku bukan pengumpat, yang serta-merta mengeluarkan cacian yang menjijikan. Sayang sekali energi di tubuhku, jika kugunakan hanya untuk mengeluarkan makian, yang jelas tak akan mengubah keadaan.


"Ra, mengertilah. Kamu ini perempuan, bisakah kamu bayangkan hidup dia kedepannya akan seperti apa? tanpa rahim dan dengan cacat di sekujur tubuhnya. Apakah akan ada lelaki yang mau menikahinya? Aku yang salah, mengendarai mobil dalam keadaan mengantuk."


Aku menatap pria di hadapanku dengan sinis. Kemana perasaan yang kemarin masih begitu nyaman aku rasakan? sekarang, bahkan dia bersimpuh di hadapanku untuk meminta persetujuan dariku untuk menikahi wanita lain.


"Ku mohon Ra. Aku tak ingin hidup di hantui rasa bersalah, jika membiarkan dia begitu saja."


"Jangan menjadi Tuhan, Rean! jangan mendahului kehendak. Kamu tak pernah tahu, jalan takdir dia akan seperti apa di masa depan. Aku bukan panti sosial, yang ketika ada yang butuh kepedulian, aku akan memberikan suamiku sebagai sedekah!"


"Bukan begitu Ra, aku akan menikahinya, agar bisa menjaganya. Bukan untuk membagi cintaku."


"Bullsh*t! kamu pikir aku ini menekin yang tak punya perasaan! aku bukan dewa, Rean!"


"Aku berjanji padamu, takan membagi hatiku sedikitpun."

__ADS_1


"Naif! kamu pikir, hatiku seluas apa? yakin, akan mampu melihatmu bermesraan dengan wanita lain? yakin, tak akan sakit hati saatl menyaksikan kamu peduli pada wanita lain!"


"Akira,"


"Cukup!"


Teriakanku sudah tak lagi terkontrol, menjadikan lampu-lampu mati dan menyala berkali-kali. Seolah terjadi konsleting listrik mendadak. Aku mengepalkan tangan. Mencoba mencabut kabel-kabel yang terpasang di tubuh Khadijah. Aku tahu, aku bisa membunuhnya tanpa menyentuh. Namun, segera ku hentikan. Aku masih punya hati, untuk tidak berbuat hal sekejam itu, karena bukan aku yang berhak untuk menghilangkan nyawa manusia. Rean menatapku putus asa. Dia tahu kekuatan tersembunyi yang aku miliki.


"Aku, memberimu waktu tiga bulan, Rean, untukmu merubah keputusan untuk tidak menikahi Khadijah. Jika hingga waktu itu datang, pemikiranmu masih tetap sama. Maka, Itu adalah persetujuanmu untuk menceraikanku! aku akan segera mempersiapkan surat cerai kita!"


"Ra," ucapnya memelas.


Aku pergi tanpa menoleh. Melenggang, dengan berjuta sesak yang menghimpit dalam dada. Air mata tak lagi mau menetes, dia telah lenyap tertimbun oleh kebencian. Aku-benci-Rean!


Dika mengikuti langkahku. Diam tanpa banyak bertanya

__ADS_1


Kami masuk dalam mobil, dan melajukannya meninggalkan pelataran rumah sakit. Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa meringkuk, menangis, hingga lelah dan tertidur.


Entah sudah berapa lama perjalanan ini terlewatkan.


Aku membuka mata, mobil ini berhenti entah dimana.


"Turun Ra," ajak Dika.


Aku mengusap air mata, yang masih saja lolos tanpa seizinku. Dika membukakan pintu, kemudian menuntunku. Indah sekali ... bisikku dalam hati. Kami berjalan cukup jauh untuk menjangkau tempat yang di maksudkan Dika. Hingga terpampanglah sebuah danau yang sangat indah.


Dika duduk di atas batu besar di pinggiran danau. Nampak kabut masih tebal menyelimuti. Hawa dingin menusuk hingga tulang belulang. Dika mengulurkan jaket yang dia pakai.


"Pakailah, Ra. Aku tak akan mengikuti gaya anak muda yang sedang kasmaran, dan langsung memakaikan jaket itu, bak seorang kekasih yang ingin melindungi kekasihnya dari dingin seperti di film-film," ucap Dika dengan wajah datar.


"Hh," kekonyolan Dika, mampu membuatku sedikit tersenyum dan melupakan kegetiran di dadaku sejenak.

__ADS_1


"Terima kasih, Ka."


Dika hanya mengangguk tanpa menatapku, sibuk menikmati segarnya hawa pagi yang masih benar-benar dingin.


__ADS_2