CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Manies Sekali


__ADS_3

"Ra, aku menerima seorang pekerja paruh waktu, namanya Aida. Sepertinya dia anak SMA yang sedang mencari tambahan uang saku. Maaf kemaren aku gak sempat mengatakannya padamu."


"Iya, gak pa-pa. Semua tanggung jawab kedai sudah aku serahkan padamu. Tapi, kamu gak pernah mengatakan aku ini istrimu kan?"


"Gak, Ra, seperti permintaanmu. Semua karyawan tak ada sarupun yang tahu, kalau kita sudah menikah, termasuk Aida."


Akira tak pernah membiarkan siapapun tahu, bahwa mereka sudah menikah. Bukan karena malu, tapi, memang sejak dulu saat menikah dengan Rean pun, dia tak pernah memberi tahu siapapun. Tujuannya hanya satu, agar tak ada satupun karyawan yang merasa sungkan pada Akira ataupun Dika. Akira selalu suka, saat para karyawannya menganggap Akira hanya pekerja kedai. Bahkan sampai sekarang, tak ada satupun dari mereka yang tahu, bahwa pemilik kedai itu adalah Akira. Dia tak mau ada perbedaan. Dia, Dika, dan semua karyawannya adalah setara setatusnya, sama-sama karyawan.


Pagi ini, gadis bernama Aida itu datang lebih awal dari pada karyawan lainnya. Rambutnya di kuncir ekor kuda, dia memakai kaus hitam dan celana jeans belel, dan jaket hody berwarna hitam.


Sepertinya gadis itu sangat rajin. Dia sudah memnersihkan kedai, mengepelnya, bahkan menata bangku-bangku.


"Pagi, kamu, karyawan baru itu ya?"


"Iya, Mbak, saya orang baru. Nama saya Aida."

__ADS_1


"Ok, semoga betah ya? kamu sudah dapat apron?"


"Belum, semalam saya lembur dadakan, jadi Kak Dika belum memberi apron."


"Ah, baiklah, nanti, kamu minta saja sama Dika ya."


"Iya, Mbak."


Aku langsung menuju kasir, menghitung semua hasil penjualan kemarin. Dan mengecek persediaan barang-barang.


Akira membuka cadar yang dipakainya, sebab tak ada laki-laki di situ, hanya ada Dika, yang sedang sibuk di depan mengurus para suplier kopi, susu, dan bahan untuk membuat cake.


"Wah, ternyata, Mbak ini sangat cantik ya? kemarin, aku gak sempat lihat wajah Mbak karena tertutup cadar."


"Hh, kamu bisa aja."

__ADS_1


"Eh, Mbak, pemilik kedai ini, Kak Dika ya? Hah, udah orangnya ganteng, punya usaha sendiri, ramah dan baik lagi. Kata Mbak Mia, dia itu, putra angkat dari pemilik kedai ya, Mbak?"


Akira hanya tersenyum simpul mendengar celotehan gadis di hadapannya ini. Selain anaknya rajin, dia juga gampang bergaul.


"Sudah, kerja sana, nanti di marahin Pak Dika lho, dia itu galak lho," ujar Akira sembari meledek gadis lugu di hadapannya.


Pikirannya menerawang, membayangkan kelucuan Aida.


"Kenapa senyum-senyum sendiri? ada yang lucu, Ra," tanya Dika.


"Gak ada, cuman pengen senyum aja."


Akira memindai Dika lekat-lekat. Kalau diperhatikan baik-baik, suaminya ini memang hansome, babyfacenya memang tampak mencolok, dan diantara semuanya, senyumnyalah yang paling manis, berhias lesung pipi yang cukup dalam. Ah, mikir apa sih aku ini, gumam Akira dalam hati.


Tiba-tiba, Dika mencuri sebuah ciuman di pipi Akira, tanpa peringatan, lalu pergi ke halaman belakang sambil tersipu malu.

__ADS_1


Akira memegangi pipinya yang tadi disentuh Dika dengan bibirnya, dan tersenyum.


__ADS_2