
Air mataku meleleh, meski tangisanku tanpa suara, isakanku mampu membangunkan Rean.
Aku menahan dan menghapus air mata yang terlanjur jatuh. Meski, berusaha menyembunyikannya, mataku yang memerah, dan suaraku yang berubah serak, tentu membuat Rean tahu, aku baru saja menangis.
Rean bangkit, berjalan menghampiriku, kemudian berjongkok di hadapanku.
"Aku minum sedikit Ra, hanya untuk menghormati rekanku. Aku mohon jangan menangis, aku minta maaf membuatmu khawatir," ucapnya sambil menghapus air mata di pipiku.
"Kamu bahagia menikah denganku, Re?"
"Tentu saja, Akira." dia menggenggam tanganku. "Apakah kamu tidak?"
"Aku ... aku juga bahagia Re, hanya ... aku merasa jadi beban bagimu."
Rean menutup mulutku dengan telapak tangannya, agar aku berhenti berkata-kata. Dia menggendongku ke atas ranjang, kemudian beranjak dari sampingku.
Aku menahan tangannya,
"Jangan pergi, Re," ucapku.
__ADS_1
"Hanya ingin membasuh tubuh, untuk menghilangkan mabuk, mau ikut?" ledeknya sembari mengelus pucuk kepalaku.
"Enggak ...."
Seperempat menit kemudian, Rean muncul dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
glek ....
Aku menelan saliva, pemandangan apa ini? tetesan air yang mengalir di dada Rean sungguh membuat tubuhnya terlihat ****. Aku menutup kedua mataku dengan kedua telapak tangan.
Rean berjalan mendekat, kemudian duduk di sampingku dan mendekatkan wajahnya, membuka tanganku yang menutupi wajah. Dia tersenyum simpul, membuatku semakin malu saja.
"Kenapa? wajahmu memerah seperti tomat. ha ha ha," ledeknya.
Aku bingung harus menjawab apa, yang dia minta tentu bukanlah sebuah kesalahan, karena aku adalah istrinya. Hanya ... aku tak yakin mampu memberikan sesuatu yang dia butuhkan. Karena kondisi kakiku yang lumpuh ini.
"Re, .... " aku menatap wajahnya dengan rasa bersalah.
"Aku tahu Ra, aku hanya bercanda kok, " ucapnya sembari menowel hidungku.
__ADS_1
Rasa bersalah menyelimuti batinku. Aku sangat menyesal harus menolak permintaannya. Andai saja kakiku tidak lumpuh, mungkin, ini akan menjadi malam pertama kami.
Rean mengenakan pakaiannya. Selama ini, aku tak pernah menyadari, bahwa wajah itu begitu indah. Betapa beruntungnya aku, menikahi pria di hadapanku ini. Mungkin, umurnya memang baru 20 tahun, tetapi pemikirannya sudah sangat dewasa, penuh kasih dan bertanggung jawab.
Dia mematikan lampu kamar, menggantinya dengan remang lampu tidur. Kemudian, merebahkan badannya di sampingku.
Kami tidur dengan saling berhadapan, menatap satu sama lain.
Ah, kemana saja aku selama ini? Aku baru menyadari mata Rean begitu bening dan indah, menyihirku untuk terus memandanginya.
Rean mendekatkan wajahnya, hingga hanya tinggal berjarak beberapa centi saja dari wajahku. Dia memberikan ciuman lembut di bibirku. Hingga tanpa sadar, akupun membalas ciumannya dan terhanyut semakin dalam.
Begitulah malam yang kami lewati.
Keesokan paginya, Rean bangun dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia, membawakan nampan berisi susu cokelat dan sandwich, mengecup pundakku lembut. Sedangkan aku, masih beringsut di balik selimut, aku sangat malu mengingat kejadian tadi malam.
Rean mengambil ponsel di atas nakas, kudengar dia menghubungi sekretarisnya, untuk tidak masuk kantor untuk beberapa hari.
Setelah meletakkan ponsel, dia memelukku kembali, hingga terulanglah kejadian yang sama.
__ADS_1
Kini matahari telah meninggi. Namun, gorden di kamar kami masih tertutup rapat. Rean enggan beranjak dari tempat tidur, dia terus saja memelukku dengan erat. Seakan tak ingin melepasku sedikitpun.
Tiba-tiba, aku merasakan kakiku mulai bisa digerakkan lagi. Entah sebab apa, tapi, yang jelas ini adalah sebuah keajaiban dari Tuhan.