
Akira dan Dika mulai berangkat menuju kedai. Sepanjang perjalanan, mereka tak saling bicara. Dika melajukan motornya dengan sangat hati-hati, sedang Akira menyandarkan kepalanya di punggung Dika. Dika menikmati pelukan Akira yang hangat, meski hatinya masih dingin karena permintaannya tadi, untuk bertemu Rean.
Ah, bagaimana dia akan mengizinkan istrinya menemui orang yang dicintainya itu. Dika pria normal yang pasti dibakar cemburu, saat mengetahui istrinya masih mencintai lelaki lain. Tapi Dika cukup tau diri, istrinya ini menikahinya bukan karena keinginannya. Tapi , demi dirinya dan Akira sendiri, agar tak lagi ada fitnah. Namun, mengapa rasanya tetap terasa sesak ya, saat mengingat istrinya ini masih belum mencintainya.
Sesampainya mereka di kedai, sudah ada Aida di kedai. Akira heran, anak ini mengapa begitu rajin? padahal dia seharusnya masuk sip siang, dan bisa memanfaatkan paginya untuk bersekolah.Tetapi mengapa dia justru mengambil lembur setiap harinya. Apakah dia memang begitu membutuhkan uang?
"Pagi, Mbak Akira, Ma-s Di-ka," sapanya.
"Pagi," jawab Akira dan Dika bersamaan.
Tampak wajah Aida bersemu merah saat Dika melintas. Akira merasa sedikit risih dengan tingkah Aida. Yang memang terlihat jelas menyukai Dika. Akira menengok sebentar ke arah Dika di belakangnya, dan menatap Aida kembali. Jelas sekali Aida terlihat gugup dan malu-malu. Sedang Dika tampak cuek dan sibuk dengan pekerjaannya.
"Aida, ini apron kamu," ucap Dika sambil meletakkan apron baru di meja, kemudian kembali ke meja baristanya.
Akira memperhatikan dengan seksama, Dika tampak biasa saja, tapi tidak dengan Aida. Gadis itu tampak gugup, dan wajahnya terus bersemu merah bukan akibat perona pipi.
"Ka, sepertinya gadis itu menyukaimu?"
__ADS_1
"Itu hanya perasaanmu saja,Ra," jawab Dika santai.
"Tidak. Aku yakin, Re, aku ini perempuan, jadi tahu bagaimana gelagat cewek kalau sedang suka dengan seorang pria," ucap Akira sembari melirik ke arah Aida yang masih sibuk melakukan tugasnya.
"Ra, jangan berlebihan ah, kalaupun dia suka, aku ini cuman milik kamu. Kamu tahu itu kan? apa perlu, aku memberitahunya bahwa kamu ini istriku?" jawab Dika. tanpa menghentikan kegiatannya.
"Jangan, " jawab Akira dengan cepat.
"Kalau gitu, sudahlah, jangan memikirkan hal yang aneh-aneh."
"Ra, gimana besok, jadi ikut ke anyer gak? ini Bunda nanyain."
"Siapa, Ra?" tanya Dika.
"Om Biyan, dia nanyain, apakah besok kita bisa ikut ke anyer? Bunda yang tanya."
"Ya, udah kalau kamu mau ikut, kita besok berangkat, sekalian kita liburkan anak-anak biar kedai kita tutup sehari. Gimana?"
__ADS_1
"Baiklah," ucap Akira yang kemudian mengirimkan pesan pada Biyan bahwa dia dan Dika ikut berlibur.
...----------------...
Minggu pagi, mereka semua telah bersiap-siap. Banyak yang harus mereka bawa. Aida dan empat karyawan lain juga ikut untuk liburan.
Udara pagi ini benar-benar sangat sejuk, setelah memasuki tol akhirnya kami sampai di hotel private u**d, kemudian chek in di sana. Tempatnya cukup private jadi pasti akan nyaman untuk kami menginap.
Setelah diberikan kunci, Om Biyan langsung melajukan mobil menuju kamar kami.
Pfuh, akhirnya setelah perjalanan panjang, kami akhirnya bisa beristirahat. Bunda dan para wanita, segera menyiapkan makanan untuk makan di gajebo. sementara para pria membawa barang keperluan kami selama di sini. Kalau akira ... jangan tanya, dia sibuk menggendong Humaira. Sejak tadi, dia tak mau lepas dari Humaira.
Gibran menyikut Dika, dan memberikan isyarat agar Dika memperhatikan Akira yang sedang sibuk bercanda dengan dede Humaira.
"Eh, Bro. Liatin tuh bini lu, kayaknya dia udah pengen banget momong bayi. Liat aja, dari tadi senyumnya terus aja mengembang liatin ponakan gua."
Dika hanya tersenyum simpul mendengarkan perkataan Gibran. Dalam hatinya, dia berkata, Itu yang gak bakal kami miliki, sobat. Itulah mengapa Akira begitu bahagia saat bersama dengan Humaira.
__ADS_1