CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Rumah lama


__ADS_3

Akira melepas ciu*an itu. Mendorong dada Dika agar sedikit menjauh. Wajah mereka tampak merah padam menahan malu. Terutama Akira, dia tampak sangat gugup. Dia melepaskan pelukan Dika, kemudian berjalan menuju kursi. Dika menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum. Dia merasa senang sekali hari ini. Sedangkan Akira masih tampak salah tingkah, sambil memilih-milih camilan yang ada di kantung plastik. Dika berjalan, kemudian meletakkan bokongnya pada kursi tepat di sebelah Akira. Keduanya tampak saling diam.


Meskipun mereka sudah menikah, tetapi hubungan itu lebih tampak seperti hubungan dua orang yang baru berpacaran. Masih canggung dan malu-malu. Akira bahkan hanya di sentuh satu kali saat itu. Dia masih merasa aneh jika harus bermesraan dengan Dika, yang notabene dulu pernah bersetatus putra angkat. Umurnya masih sangat muda, dibandingkan Akira yang telah berumur 27tahun. Meski begitu, saat disandingkan dengan Dika, wajah mereka hampir terlihat seumuran. Pernah satu ketika saat mereka makan siomai di depan masjid, saat itu, Akira belum mengenakan hijab, dan belum menjadi muslim. Pedagang itu memanggil Akira dengan dek, dan Dika dengan sebutan Kak.


Saat itu Akira mengatakan pada sang pedangang, bahwa dia adalah Ibu Dika, tapi sang pedagang malah tertawa terbahak tidak percaya.


Dengan konyolnya Dika bertanya pada sang pedagang. "Kamu percaya, kalau dia itu Ibuku?"

__ADS_1


Si penjual menggeleng, lalu berbisik, "Dia kekasih kamu, kan?"


Dika mengangguki perkataan si penjual tadi dengan menengok ke arah Akira disertai senyum kemenangan.


Tubuh Akira sangat langsing, dengan tinggi sekitar 168 cm, sedangkan Dika memiliki tubuh yang pas, tidak besar ataupun kecil, tidak kekar ataupun kerempeng. tinggi tubuhnya sekitar 171cm.


***

__ADS_1


"Lu tenang aja, Ka, gua bantu jagain kedai lu. Lu seneng-seneng aja, sama bini lu. Gua mau sekalian deketin cewek cantik yang lagi main drum dengan keren itu."


pip


Gibran mematikan sambungan teleponnya. Beralih memandangi gadis dengan_kaus hitam dan celana jeans robek di atas panggung. Dia memang sudah terpikat dengan gadis itu sejak lama, sayang dia malah lebih menyukai Dika, timbang dirinya yang masih lajang.


Gadis itu memiliki tubuh yang bagus, tingginya sekitar 167 cm, dengan kulit putih dan wajah yang ayu, disertai satu lesung pipit di pipi kirinya. Memang agak sedikit galak dan manja, tapi di mata Gibran semua itu membuatnya tampak lebih manis dari gadis lainnya. Penampilannya sedikit tomboy, dan dia selalu menguncir rambutnya dengan rapi. Hidungnya cukup ramping untuk bertengger sebuah kacamata minus yang sedikit tebal. Kadang, kacamata itu melorot kearah hidungnya, tapi itu membuatnya semakin lucu saat membetulkannya.

__ADS_1


Dia sedikit heran, kenapa semua wanita di sekelilingnya memakai kaca mata semuanya. Dari Kak Asma istri Kak Biyan, Akira, Khadijah dan Aida sendiri. Apa mereka itu sangat hobi baca? sampai-sampai mereka semua matanya rusak? Ah, entahlah.


Disisi lain, Dika dan Akira sedang menikmati masa kedekatan mereka. Mereka berniat untuk tinggal di sana beberapa hari. Dika ingin mengenalkan Akira pada almarhum Bang Yudha dwi pangga. Maklum, sejak kepergiannya, Dika langsung dibawa oleh Rean dan Akira ke rumah mereka. Meski diam-diam dia sering mengunjungi rumah ini tanpa sepengetahuan Rean dan Akira.


__ADS_2