CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Inikah Kesempatan?


__ADS_3

Takdir memang aneh. Saat aku dijauhkan dari Hiroaki dengan pernikahan, tetapi, Dia juga menggembalikan aku menjadi gadis. Apakah ini kesempatanku untuk bersama Hiroaki?


Aku mengganti pakaian dengan mengambil kaos putih polos dan celana pendek hitam. Habis, aku mau pake apa lagi? Aku kurang suka watna hitam. Apalagi gelap.


Segelas susu sudah di sediakan di atas meja, sepertiya wanita ini juga pandai memasak. Dari segala yang ada pada wanita di hadapanku ini, aku paling tertarik dengan pakaian yang dia kenakan. Terutama yang dia kenakan di kepalanya. Jilbab kalau tak salah namanya. Pakaiannya juga terlihat sederhana, dengan warna peach. make-up tipis diwajahnya, terkesan dia adalah wanita yang sangat feminin.


Pagi ini, Hiroaki sudah datang mengunjungi kami.


"Sarapan dulu Hiroaki, " tawar wanita di depanku ini.


"Ah, Iya, dengan senang hati."


Tanpa sungkan, dia duduk di bangku sebelah Khadijah. Sepertinya mereka memang sudah sedekat itu. Ah, kemana selama ini aku? sampai-sampai aku tak pernah menyadari bahwa pria ini tak pernah mencintaiku?


Terasa ada api yang membakar di rongga dadaku. Aku mengepalkan tangan, dan ....


PRANG!

__ADS_1


Sebuah gelas berisi air di hadapan Hiroaki melayang dan hancur,


*Astaga, apa yang kulakukan? Apakah kekuatan yang dulu telah tersegel, kini kembali? dan membiarkanku kembali menjadi gadis yang mengerikan ketika marah? Aku segera melepaskan kepalan tanganku. Dan segera menyembunyikannya di bawah meja. Menghabiskan sisa susu di gelasku, kemudian pamit kembali ke kamar.


"Aku balik dulu ke kamar," ucapku dengan nada ketus. Mengeser bangku, kemudian berdiri. Muak sekali rasanya melihat kemesraan mereka. Lebih tepatnya jijik. Bodoh sekali aku, selama ini, tak mampu melihat Hiroaki telah berbagi hati.


Aku menutup kamarku dengan keras, berharap kemesraan itu akan segera berhenti. Bisa-bisanya, disaat aku dalam keadaan koma, dia begitu bahagia bersama wanita yang adiknya hampir membunuhku!


Aku memandang dengan amarah, hingga tanpa sadar karpet bulu di lantai kamarku telah terbakar. Wanita itu masuk kedalam kamarku, dan segera berlari mengambil air dari kamar mandi dan menyiram kobaran api yang menyala.


"Kara! kamu tidak apa-apa? hah," Wanita itu terlihat sangat mengkhawatirkanku, dia terus memeriksa wajah dan tubuhku, kemudian memelukku.


Ya, sebelum usiaku genap sepuluh tahun, Kak Rea datang ke kuil Shinto untuk meminta pendeta agar menyegel kekuatan mengerikan dalam diriku. Mampu menggerakan benda-benda, Menciptakan Ilusi, menghancurkan sesuatu, bahkan mengeluarkan api dan membakar sesuatu dengan tatapan mata yang disertai amarah. Hanya Kak Rea yang tahu semua ini. Dan sekarang, Kak Rea sudah tidak ada. Bagaimana aku akan mengendalikan ini nantinya?


Hiroaki tiba-tiba saja memelukku.


Apa-Apaan ini? tadi dia begitu mesra dengan wanita itu, lalu sekarang, justru memelukku. Manusia macam apa dia? menjijikan!

__ADS_1


"Kamu tak apa Kara?" ucap Hiroaki dengan lembut


Rasanya jijik sekali mendapatkan pelukkan ini darinya. Aku mendorongnya hingga terjatuh.


"Kara! kamu kenapa?" ucap wanita itu dengan sedikit marah.


"Hiroaki, maafkan Kara, mungkin kecelakaan itu masih mempengaruhinya. Apa kita perlu menunda pernikahan kalian?" tanya wanita itu pada Hiroaki.


Apa! aku akan menikah dengan Hiroaki? bukankah wanita ini yang terlihat mesra dengannya? kenapa malah justru aku yang akan menikah dengan hiroaki? aku benar-benar butuh penjelasan.


Aku beranikan memanggil wanita ini dengan sebutan kakak, meski aku tidak menyukainya. Namun pemilik tubuh ini memang adalah adiknya.


" Kak. Aku tidak mengerti dengan semua ini? menikah? Bukankah, dia mencintai Akira? Ma- maksudku, wanita yang terbaring koma di rumah sakit itu?" ucapku dengan terbata, takut mereka curiga.


" Kara, kamu jangan main-main. Kamu sendiri yang memaksa kakak agar kamu bertunangan minggu kemarin, lalu, setelah semua persiapan pernikahan hampir selesai, kamu malah begini." ucap wanita itu dengan sedikit nada tinggi.


"Sudahlah Khadijah, aku tak apa-apa. mungkin Kara butuh waktu untuk memulihkan kondisinya." ucap Hiroaki dengan nada lembut, yang semakin membuatku ingin muntah.

__ADS_1


Wanita itu terlihat menghembuskan napas panjang.


__ADS_2