CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Kembali Hangat


__ADS_3

Biasanya Aku dan Hiroaki akan selalu mengunjungi kuil kecil yang sengaja di buat oleh Kak Rea dihalaman belakang Rumah. Setiap pagi setelah bangun tidur dan membersihkan diri, kami bersama-sama menuju altar keluarga untuk membungkukkan badan, bertepuk tangan dua kali, diam sebentar, setelahnya kami baru melakukan aktivitas.


Namun, sudah hampir sebulan ini Hiroaki sudah tak pernah mengunjungi rumahku.


"Hei, jangan bengong. Sudah pemujaannya?" Tanya Rean karena mendapatku terdiam terlalu lama.


Tepukan tangan di pundakku, membuatku kembali pada alam nyata. Alam yang memberiku kesedihan karena diabaikan oleh sahabat dekatku Hiroaki. Kami sudah sekian lama bersama, sehingga merasa begitu kehilangan, ketika dia menjauh.


"Kamu bertengkar dengan Hiroaki? " tanya Rean.


Aku hanya menjawabnya dengan gelengan. Aku sendiri masih bingung, apakah kami sedang bertengkar, atau sebenarnya dia sedang sibuk? hingga tak pernah berbicara padaku. Hiroaki bahkan menukar tempat duduknya disebelahku dengan Rean.


Rean menyajikan Sandwich di atas piring dan meletakkannya di meja dihadapanku. Rean telah banyak berubah. Sekarang justru dia lah yang rajin membuatkanku sarapan pagi.


Dia juga sudah pandai membuat sushi. Ahli membuat tamagoyaki yang sangat lembut dan mencetak onigiri dengan banyak varian isi. Dia juga sudah menyukai sashimi. Bahkan dia yang selalu membeli persediaan ikan tuna segar di swalayan untuk kami konsumsi.


Saat aku sedih, dia yang selalu memberiku pelukan dan menghiburku dengan candaannya yang sebenarnya kurang lucu. Dan hampir setiap sore ini, dia membuatkan piknik di belakang rumah dengan tikar. Juga membuatkan ragam masakan.

__ADS_1


Berulang kali aku menghubungi Hiroaki lewat ponsel. Tetapi Hiroaki beralasan sibuk mengerjakan sesuatu lalu mematikannya. Setiap aku mendatangi tempatnya, dia juga menghindar.


Hanya Rean yang selalu ada di sampingku.


"Sudahlah Akira, jangan seperti ini terus. kamu bisa sakit," bujuk Rean.


Dia memelukku, mengusap punggungku dengan lembut. Bahkan memberikan ciu*an di bibirku. Rasa hangat menjalar hingga ke dadaku.


Aku mendorong tubuhnya hingga dia mundur.


Apa-apaan ini? kenapa jadi begini?


Aku pergi ke tempat Hiroaki dengan sangat marah. Aku menggedor pintunya bahkan dengan keras. Aku butuh penjelasan, tidak di diamkan begitu saja.


Hiroaki membuka pintu kamarnya. Dengan marah kulayangkan hook, mendorongnya hingga terdorong ke tembok. Menendangnya, lalu menangis terisak.


Hiroaki perlahan mendekatiku. Memelukku untuk menenangkanku, mengusap lembut rambutku, juga menghapus air mataku.

__ADS_1


Aku tersedu.


"Aku benci Hiroaki! benci. Sangat benci," ucapku dalam dekapan Hiroaki.


"Maaf, Akira, " ucapnya lembut.


Aku menangis. Terus menangis. Sudah tak tahan dengan semua yang kurasakan. Rasa sesak, rasa diabaikan, kehilangan, kesepian, dan banyak rasa yang begitu menyiksa.


Aku didudukkan di atas kasur, tak pernah aku bayangkan akan sesakit ini rasanya. Hingga seluruh hatiku ini begini perih.


Hiroaki mengambilkan segelas air putih, memberikannya padaku.


" Minumlah, Ra, " ucapnya lembut.


Aku meminum air yang diberikan Hiroaki sampai tandas. Lelah rasanya , menangis begitu lama.


Hiroaki tersenyum melihat kelakuan-ku yang seperti anak kecil. Lalu memandangiku dan mencubit pipiku, lalu menaruk tanganku, dan memelykku kembali. Rasa nyaman ini, hampir sudah lama hilang dari hidupku. Kini, aku merasakannya kembali. Perhatian Hiroaki yang lama hilang, kini hadir kembali.

__ADS_1


Kami berbaring, dengan lengan Hiroaki sebagai sandaran. Suara detak jantungnya yang menjadi alunan kedamaian, kini telah kembali terdengar. Dan aroma tubuhnya ini, kembali menjadi relaksasi paling menenangkan.


__ADS_2