
Kabut di pagi ini mengingatkan kejadian pertama kali Akira menginjakkan kaki di negara ini.
Saat itu tepat tanggal tiga belas, saat Akira berkeliling kota dengan kereta. Dia kabur dari penjagaan Kak Rea yang sangat cerewet. Ini tak boleh lah, takut nyasar lah, dan banyak alasan agar dia tak pergi sendirian. Tapi memang Akira saja yang bandel, bahkan dia pergi sendiri tanpsRea dan Hiroaki.
Saat itu kereta melaju dengan pelan.
Akira kecil duduk di arah depan menghadap seorang wanita berpakaian serba hitam. Dia menaiki kelas ekonomi, sehingga bangku tertata saling berhadapan dengan posisi sejajar. Akira menawarkan kacang madu yang dia bawa pada wanita di hadapannya.
Wanita itu berjalan ke arah kantin kereta, mungkin wanita itu lapar, pikir Akira.
Seorang gadis menyeret kopernya, pakaian yang gadis itu pakai adalah pakaian yang biasa di pakai untuk musim dingin, padahal bulan ini adalah bulan panas, gadis itu menuju bangku yang berada di hadapan Akira, namun sudah ada penghuninya, dia si wanita yang berpakaian serba hitam. Gadis itu menunjukkan tiket dengan nomor yang sama dengan wanita di hadapan Akira. Akira rasa dia menaiki kereta yang berlawanan arah. Wanita itu membagi makanannya dengan Akira. Akira melepaskan earphone dari telinganya, kemudian menerima sekotak nasi goreng dari si wanita dan satu cup teh hangat. Akira menerimanya dengan senyum lebar
"Sendirian? Kamu turun di mana?"
__ADS_1
"Cipeundeuy," jawab Akira
Wanita itu matanya cantik sekali, Akira melihatnya melakukan gerakan ibadah. dan memperhatikannya dengan seksama.
Terdengar informasi bahwa kereta akan berganti jalur, karena tertutup oleh longsor dan banjir yang terjadi tiba-tiba di Tasik.
Keretapun di hentikan di stasiun, seluruh penumpang diharuskan turun. Akira menunggu beberapa jam dengan kebingungan dan sendirian.
Akira dibawa ke bagian informasi dan menanyakan pada petugas, kereta mana yang harus dinaiki oleh Akira selanjutnya. Mereka diarahkan untuk menunggu kereta kelas bisnis dan tak diharuskan untuk membeli tiket baru.
Setelah Akira menaiki kereta Argo ... Akira dan wanita itu duduk di bangku yang bersebelahan. Akira bahkan tak tahu kemana tujuannya. dia hanya mengikuti si wanita, semoga setelahnya akan di bantu untuk pulang.
Sebenarnya karena kondisi yang agak semrawut karena adanya gangguan alam, hingga tak ada lagi pengecekan tiket.
__ADS_1
Akira menuju toilet untuk membasuh muka, dia lalu menabrak seseorang. Tampaknya, orang itu sangat marah hingga mendorong Akira hingga terjatuh. Wanita itu menghampiri Akira. Berniat untuk menolong. Dia meminta maaf atas nama Akira pada wanita cerewet di hadapan mereka. tetapi sepertinya dia mengacuhkannya dan bersikap sangat angkuh.
Akira mulai bosan dengan permainan kecil ini. Dia mulai menatap si orang angkuh dengan senyum seringai, tatapannya yang tajam justru menyunggingkan senyum sinis penuh misteri. Warna matanya berubah merah, dan senyumnya semakin mengembang. Tak nampak lagi raut manis anak-anak, yang akan terlihat justru sosok dingin yang menakutkan. Dari pengeras suara, Akira sudah menduga apa yang akan terjadi, terdengar pemberitahuan, bahwa ada sebuah kereta melaju ke arah mereka dengan cepat secara tiba-tiba, entah bagaimana dan dari mana tiba-tiba muncul kereta tepat dari arah depan.
"Kereta akan menabrak!", "Kereta akan menabrak!" Teriak orang-orang.
Orang-orang berhamburan dalam kepanikan. Begitupun wanita yang galak tadi, tak tampak lagi wajah sangarnya. Kereta dihentikan mendadak. Banyak yang berhamburan melompat ke area persawahan di bawahnya.
Setelah puas menikmati adegan yang membuat kepanikan, kereta api di hadapan mereka perlahan mundur lalu menghilanng disembunyikan kabut tebal, para saksi yang menyaksikan kejadian itu setelah turun darurat dari kereta tadi memberikan informasi. Hanya wanita berbaju hitam dan Akira yang tidak turun dari kereta. Wanita baik itu fokus pada Akira yang masih terduduk di lantai kereta karena terjatuh saat di dorong ole wanita galak.
Akira begitu santai kembali ke bangku, dia memasangkan kembali earphone ke telinganya, dengan senyum sumringah tanpa menampakkan ketakutan sedikitpun, sambil mengunyah kacang madu. Dan wanita itu juga kembali ke bangkunya, dan mungkin dalam hatinya menjadi heran karena menatap wajah Akira.
Akira merasa sangat bersalah jika mengingat hal itu. "Apakah hidupnya kini adalah karma dari perbuatannya dulu?"
__ADS_1