
Waktu terus berlalu sejak kejadian itu. Caty kini tinggal bersama kami. Kami menyembunyikan Caty dari tatapan buruk warga. Aku dan Dika khawatir jika sampai kandungannya terganggu karena ejekan orang.
Kami menjaga Caty bersama-sama. Kami tak ingin dia sampai terluka. Kami tahu Caty salah, tetapi calon bayinya tak tahu apapun tentang mengapa dia sampai ada.
Setiap yang lahir ke dunia ini, adalah fitrah atau suci. Orang tuannyalah yang menjadiksn dia yahudi, nasrani dan majusi. Jika dia lahir dari seorang muslim, maka dia akan menjadi muslim. Begitu pula saat dia lahir dari penyembah matahari, maka, dia akan menjadi penyembah matahari. Memang nazabnya akan rusak, tetapi, apakah harus diperparah dengan ejekan? tidak bukan? dia tidak bersalah, tetapi, orang tuanyalah yang bersalah. Lalu, mengapa dia harus menanggung hinaan yang bukan menjadi tanggung jawabnya?
Cukuplah satu kesalahan itu, dibuat oleh Caty. tapi tidak dengan serta merta membawa anak itu, untuk turut menanggung dosa orang tuanya. Kita seharusnya memperbaiki si anak, agar tak melakukan hal yang sama dengan orang tuanya bukan?
Pagi itu, Dika mengajakku lari pagi mrngelilingi komplek.
"Ra, mau gak, kamu pakai ini?"
Dika menyodorkan selembar cadar berwarna hitam.
__ADS_1
"Kamu, mau, aku pakai ini, Ka?"
" Iya, itu, jika kamu tak keberatan. Jika kamu tak mau memakainya, juga tak apa."
Aku mengambil selembar kain kecil berwarna hitam di tangannya. Aku tersenyum ke arahnya sambil mematut diri di depan cermin.
"Pantaskah, aku memakainya? Ka?"
Dika tersenyum, lalu memakaikan topi berwarna putih di kepalaku.
Kami berolahraga pagi ini, untu menemani Caty, aku tahu, dia perlu banyak berjalan kaki, agar nanti proses persalinsnnya berjalan lancar dan mudah.
Kami hanya berjalan-jalan di sekitar komplek, menghirup segarnya udara pagi yang masih sangat bersih. Melewati area persawahan.
__ADS_1
Tiba-tiba, Caty merasakan sakit yang luar biasa, dia sampai menitihkan air mata. Darah mengalir di kakinya. Kami naik kendaraan umum menuju rumah sakit. Ada rasa takut di hatiku, takut kehilanan Caty.
Pintu ruang operasi ditutup. Dan apa yang aku takutkan, akhirnya menjadi kenyataan. Caty meregang nyawa.
Aku terkulai lemas, saat menyaksikan jazad Caty terbujur kaku di dalam sana, tertutup selimut putih.
Aku kehilangan satu orang lagi yang paling berharga di hidupku.
Kak Rea, Kak Darmawan, Hiroaki, dan Rean pun terpisah dariku. Kini hanya tinggal Dika yang tersisa. Karena Caty pun telah diambil-Nya.
Musibah-demi musibah ini, telah berjalan begitu lama dalam hidupku, dan tempat terakhir yang paling tenang untuk kudatangi, sekarang adalah pekuburan. Semua berkumpul di sana.
Daun-daun pohon mahoni jatuh ke atas tanah, menghiasi tempat peristirahatan terakhir Caty. Taburan bunga mawar merah menemani tidur panjangnya, wanginya tak mampu mengharumkan. Hanya ada kesunyian di sana, hanya terdengar suara burung gagak yang bertengger di atas dahan. Seolah-ola menjadi musik kesedihan. Menemani jazad yang telah terkubur jauh di dalam tanah. Bisu, tak berdaya, dan hanya tinggal menanti pertanyaan dari dua malaikat utusan. Dan meminta pertanggung jawaban perbuatan yang telah dilakukan selama dia hidup.
__ADS_1
Selamat jalan, Caty. Kini hanya burung-burung yang bernyanyi di malam hari yang akan kamu dengar suaranya.
Assalamualaika ya ahlul kubur. Semoga keselamatan untukmu di alam sana.