
Dika menatapku intens,
"Kamu masih mencintai Kak Rean?"
Aku menghirup napas panjang, dan mengembuskannya dengan kasar. Aku mengangguk, mengisyaratkan bahwa perasaanku masih sama dan belum pernah berubah terhadap Rean.
"Dika, aku ingin mengenal Tuhanmu, mau, kamu membimbingku?"
Dika terlihat kaget dengan kata-kataku. Tapi, aku memang sungguh ingin mengenal Tuhannya, lantunan ayat suci yang sering aku dengar, kedisiplinan Dika dalam mengerjakan kewajiban dalam lima waktunya, pengendalian dirinya dalam menahan rasa lapar dan hausnya, bahkan pengendalian dirinya ketika dia sudah begitu mencintaiku, namun tak pernah berbuat tak senonoh padaku, membuatku merasa tenang dengan keyakinannya pada Tuhannya. Tuhan seperti apa yang membuat bocahku ini begitu baik.
"Kamu serius, Ra?"
Aku mengangguk dengan yakin.
__ADS_1
Dika, dengan mata yang tergenang air, menuntunku mengucapkan kalimat syahadat.
"Aku bersaksi tidak ada Illah yang pantas disembah dan diibadahi selain Allah, dan Nabi Muhamad saw adalah utusan-Nya"
Dika berkata, aku akan mengibadahi sesuatu yang tak mampu dilihat oleh mata, tetapi diyakini dengan hati, dan dipatuhi perintahnya dengan anggota tubuh. Aku dituntut untuk mengerjakan setiap firman Tuhan, seolah-olah aku melihat-Nya, sekalipun aku tidak melihat-Nya, tetapi Dia akan melihatku.
Aku dikenakan kewajiban beribadah sebanyak lima kali dalam satu hari, berpuasa di bulan tertentu, mengeluarkan zakat, dan pada puncaknya, aku boleh berhaji untuk menyempurnakan agama.
Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Pakaianku basah, dan tubuhku pula. Dika tampak menelan saliva dengan kesusahan dan menatapku.
Dika masuk dalam kamar berukuran kecil di samping dapur. Kamar itu memang dibuat untuknya istirahat dan mengerjakan salat. Dika keluar dengan membawa handuk, juga kaus serta celana panjang longgar, lalu menyodorkannya padaku.
"Ganti bajumu," ucap Dika sembari pergi menuju dapur kedai. Aku telah selesai mengganti pakaianku.
__ADS_1
Dika memberikan secangkir air lemon hangat dengan aroma madu. Dia sangat tahu, aku suka itu.
Pagi ini, adalah hari pertamaku menjadi seorang muslim. Dika membelikan aku mukena dan sebuah kitab suci dengan terjemahan bahasa indonesia.
"Bacalah itu Ra, karena kamu masih belum paham, bacalah artinya dahulu. Aku telah memberi tanda pada ayat-ayat dasar yang penting. Kamu bisa mulai dengan mengerjakannya. Tetapi, kamu harus berwudlu dahulu sebelum membacanya. Juga sebelum menunaikan kewajibanmu, dan ini, adalah buku tuntunan shalat yang wajib kamu pelajari."
Aku makin bingung, setelah membuka kitab suci ini, tulisannya adalah tulisan arab. Memang sih, ada terjemahan bahasa Indonesianya. Tapi, setebal ini, dengan harus menghapalnya, bukan hanya sekedar membacanya saja. Mampu, memang aku?
"Pusing deh kepalaku."
Pagi tadi, Dika sudah membangunkanku sangat pagi. Dia memintaku mengikuti gerakan wudlunya. Lalu menyuruhku mengikuti gerakan salatnya. Dia berdiri di depanku, dan aku hanya harus mengikuti gelakan salatnya. Sungguh, aku masih sangat mengantuk. Pagi-pagi begini, Dika sudah membuatku bermain air. Dingin dan juga ngantuk. Pusing aku dibuatnya.
Wajah Dika terlihat sangat bahagia melihat aku kesusahan. Dia membuatkan sarapan pagi, untukku, sepotong roti dengan selai coklat, dan segelas susu.
__ADS_1
Begini ternyata, rasanya menjadi seorang muslim, agak berat.
Aku membaca kitab ini di waktu senggang, banyak aturan yang harus ku patuhi. harus memakai pakaian panjang yang longgar, dan juga menutup rambutku sebagai bentuk penghormatan dan aturan yang harus dilsksanakan tanpa komoromi.p