CINTA AKIRA

CINTA AKIRA
Bimbang


__ADS_3

Saat masuk kedai, Akira mendapati Aida sedang bercanda dan tertawa dengan Dika. Mereka tampak sangat akrab, bahkan tanpa sungkan Aida mencubit pundak Dika. Mereka tampak mirip sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Entahlah, Akira merasakannya seperti itu. Mereka tampak serasi dengan umur yang tidak terlalu jauh.


Mereka tampak salah tingkah saat melihat Akira masuk.


"Om pamit pulang ya Ra, dah sore,"


"Iya, makasih Om udah anterin aku tadi."


"Sama-sama, Ra, Dika, Om pulang dulu ya?"


Dika mengangkat tangan sambil tersenyum untuk membalas pamit Biyan.


Pikiran Akira sangat kacau, entah apa yang sedang di pikirkannya saat ini. Ada Rean yang terbaring lemah, dan tiba-tiba dia mendapati adegan romantis antara Dika dan Aida.


Cemburu? mungkinkah? entahlah, yang jelas adegan tadi terus berputar-putar di kepala Akira.


Sementara, Rean terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dia mulai sadar dan mencari keberadaan Akira yang sudah tak ada di sampingnya. Saat dia membuka mata, dia melihat secarik kertas bertuliskan no ponsel Akira yang di tinggalkan Khadijah.


*Re, ini nomor ponsel Akira. Aku meninggalkannya untukmu. Bicaralah dengannya, agar dia tenang dan tak khawatir.


08xxxxxxxxxx


Khadijah*.


Dengan hati berdebar dia segera menghubungi nomor tersebut.

__ADS_1


"Halo," jawab Akira.


Hanya ada suara hening dari panggilan yang sedang berlangsung itu.


"Hallo, ini siapa ya?"


"Aku ... " terdengar suara berat Rean di ujung sana.


deg


deg


deg


Jantung Akira berdetak sangat kencang, saat mendengar suara yang memang masih sangat dia kenali.


"Gimana kabarmu, Ra(Re)" ucap mereka bersamaan.


"Aku baik,"


Mereka berdua mengobrol selama lima belas menit. Dengan obrolan seperti yang orang asing yang baru saling kenal. Hingga panggilan itupun di akhiri oleh Akira.


Dika mendekati Akira, yang tampak gelisah setelah menutup panggilan telponnya.


"Siapa, Ra?"

__ADS_1


"Teman, Ka."


Hari semakin larut, semua karyawan telah pulang. Hanya tinggal Dika dan Akira. Keduanya menghitung uang dan merapikan struk pembayaran menggunakan kartu. Untuk di setorkan pada Bank esok pagi.


"Ka, apakah kamu sudah seakrab itu dengan Aida?"


Dika hanya tersenyum mendengar pertanyaan Akira.


"Kenapa? jangan-jangan kamu mulai cemburu padaku?" jawab Dika sembari menoel pipi Akira.


Raut wajah Dika terlihat sangat gembira, karena baru kali ini, dia diperhatikan oleh Akirasenyam-nyaSampai dia senyam-senyum sendiri. Hayalannya menerawang jauh, baginya diperhatikan seperti itu oleh istrinya adalah sebuah kebahagiaan twrsendiri baginya.


"Ka. Kenapa kamu malah senyam-senyum gitu?"


Untuk pertama kalinya Akira memanyunkan bibirnya di depan Dika, yang membuat Dika semakin gemas. Selama menjadi istri Dika, belum pernah sekalipun Akira bersikap seperti anak kecil. Selama yang Dika tahu, Akira adalah wanita yang sangat dewasa, kecuali terhadap Rean. Ya, hanya pada Rean Akira berlaku seperti ini.


"Ka, apa boleh aku menemui Rean?"


Dika nampak kaget. Raut wajahnya yang tadi sumringah kini berubah menjadi redup.


"Kenapa? apa kamu merindukannya?"


Akira tak menjawab pertanyaan Dika.


"Rean sakit, Ka. Katakan ... apa yang harus aku lakukan, Dika?

__ADS_1


Akira bersandar di pelukan Dika, dan air matanya meluncur jatuh. Hati Dika serasa diremas, saat mendengarkan isak tangis istri tercintanya, yang bahkan bukan menangusi dirinya, tetapi menangisi pria lain.


Ah, apakah aku salah, jika aku marah? ucap Dika dalam hati.


__ADS_2