
Aku Akira.
Gadis dengan bentuk yang biasa dalam mata manusia. Berkaca mata minus dua.
Bukan anak pintar atau berbakat, tapi juga bukan kategori anak bodoh.
Dan Dia.
Pria di tengah lapangan basket itu bernama Hiroaki, ketua OSIS yang banyak prestasi. Pendiam . Eh ralat. Dia hanya pendiam jika di depan orang lain, tetapi sangat berisik jika berada di hadapanku. Jago basket, dan menjadi idola banyak gadis.
Dan dia adalah kapten dari tim elang.
Door!
Jantungku tak pernah kaget saat Hiroaki selalu melakukan keisengan. Aku sudah hapal betul kebiasaannya yang satu ini.
Pria menyebalkan ini, selalu mencariku setiap kali selesai main basket. Tubuhnya yang lengket dan peluhnya yang segar itu, selalu saja menjadi pemandangan yang selalu harus ku-maklumi.
Seperti biasa, dia selalu melengket seperti perangko. Meski dia tahu, kalau aku sangat terganggu dengan kelakuannya.
Menyebalkan!
Setelah duduk tepat di hadapanku, dia meneguk air di tumbler berwarna biru. Lalu melemparkannya padaku sembarangan.
"Kebiasaan!"
"Hobi," ucapnya dengan tawa yang sangat menjengkelkan.
__ADS_1
"Pulang bareng gak?"tanyanya lagi.
"Nanti. Kupertimbangkan dulu."
Hahaha, dia berlalu meninggalkanku.
***
Bruk!
Hiroaki duduk di sampingku, sambil melemparkan buku pekerjaan rumahnya ke atas meja di hadapanku.
"Tuh, aku udah selesai kerjain tugas, benerin gih punyamu, biar nilaimu 10 juga!"
"Apaan sih! Gak-bu-tuh, minggir! sempit tau. Ngapain sih nempel-nempel? "
Dia hanya tertawa sambil berlalu meninggalkanku.
Aku menyalin tulisan di layar proyektor, namun si anak rese di sebelahku ini malah sibuk mencorat-caret bukuku dengan isengnya. Aku tak begitu memperdulikan perbuatannya yang menggangguku sebelum aku selesai mencatat. Tapi, tunggu saja nanti, jika telah kuselesaikan kegiatan mencatatku, akan segera kubuat dia menyesal.
Hiroaki itu, tidak suka mencatat materi, tapi lebih suka mem fotokopi, menurutnya, itu lebih praktis. Maka jika ada jam seperti ini, dia lebih suka mengganggu orang lain dengan keisengannya.
Setelah selesai mencatat, sengaja aku menyikutnya hingga dia jatuh terjungkal dan tak bergerak.
Aku pikir, dia hanya berpura-pura , tetapi ternyata ... dia benar-benar pingsan. Kami menggotongnya ke ruang UKS.
Betapa paniknya aku, saat dia belum juga sadar. Kuoleskan minyak kayu putih di tangannya, menggosok-gosoknya, berharap dia memang sedang bercanda denganku.
__ADS_1
Lima belas menit telah berlalu, akhirnya dia mulai sadar. Aku memberikan segelas teh hangat padanya.
"Minumlah,"
Dia meminumnya, sambil menatapku
"Kamu panik, Ra?
"Gak! Aku bahagia, lihat. Aku senyum!"
Dia tertawa, meskipun wajahnya masih tampak pucat.
Aku memeluknya dan menangis.
"Aku tak apa, jangan menangis, Ra, cengeng!"
"Kamu kenapa? tiba-tiba lemah begini?" ucapku masih sesengukan.
"Sudahlah, Ra, aku baik-baik saja."
Aku menungguinya, hingga dia kuat untuk berjalan.
"Maaf, membuatmu khawatir," ucapnya sambil mengelus pucuk kepalaku.
Sesaat setelah berdiri, tiba-tiba Hiroaki ambruk kembali, aku semakin panik, Guru BP segera membawa Hiroaki ke puskesmas terdekat dengan mobil. Beberapa menit kemudian dokter datang untuk memeriksa.
"Dia tidak apa-apa, hanya demam," ujar dokter yang memeriksanya.
__ADS_1
Kemarin kami menghabiskan hari di jalanan. Makan siomai, menghabiskan waktu setelah pulang sekolah di pantai hingga petang. Bermain bola, mengajariku menjalankan motor besar miliknya.
Aku tak menyangka, kalau hal itu akan membuat dia demam, hanya demi menyenangkanku.